Pages
  • Home
  • About
  • Privacy Policy
  • Contact us
Portal News Indo
Category
  • Home
  • Gadgets
    • Sub-Menu 1
    • Sub-Menu 2
      • Sub Sub-Menu 1
      • Sub Sub-Menu 2
      • Sub Sub-Menu 3
      • Sub Sub-Menu 4
    • Sub-Menu 3
      • Sub Sub-Menu 1
      • Sub Sub-Menu 2
      • Sub Sub-Menu 3
      • Sub Sub-Menu 4
  • Humor
  • Internet
    • Sub-Menu 1
    • Sub-Menu 2
      • Sub Sub-Menu 1
      • Sub Sub-Menu 2
      • Sub Sub-Menu 3
      • Sub Sub-Menu 4
    • Sub-Menu 3
      • Sub Sub-Menu 1
      • Sub Sub-Menu 2
      • Sub Sub-Menu 3
      • Sub Sub-Menu 4
  • Social
  • Venture
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Kekuatan Cinta Rakyat buat Jokowi Bertahan, Yang Ingin Menjatuhkan Kian Kewalahan

politik  

Pencapaian Jokowi dalam 3 tahun memimpin yang menoreh banyak penghargaan dari luar, tidak akan berdampak dan berpengaruh pada mereka yang pro Gerindra, PKS, FPI ataupun termasuk Demokrat, meski mereka berobat masih menggunakan KIS. Tetapi pencapaian rezim saat ini justru akan membuat mereka yang mendukung Jokowi tidak mau meninggalkannya krn mereka akan berkata “tidak salah pilih” yang artinya akan memilihnya lagi dlm pertarungan 2019. Kenyataan yang ada pendukung rezim saat ini jauh lebih banyak daripada yg tidak dan pro dengan seperti disebutkan diatas.

Dengan demikian pertarungan politik (pilkada) serentak 2018 nanti yang kemudian disusul Pilpres 2019, sudah dibangun sejak dini. Isu yang amat trend kembali dimunculkan PKI Versus Islam. Pertanyaannya, kenapa isu PKI yang dipilih? karena 32 tahun Soeharto memimpin dan melanggengkan kekuasaanya berhasil mencuci otak segenap bangsa Indonesia bahwa PKI tidak bertuhan dan sangat kafir, sementara kenyataannya tidak demikian.

Di era Gusdur, doktrin-doktrin Soeharto dengan pasukan militernya dan platform golkar mulai ditepis dan Gusdur keras menantang sektarianisme agama bahkan sempat hendak mencabut TAP MPR yang melarang pemahaman marxis. Namun Gusdur ditumbangkan dengan keji oleh konspirasi terselubung Amien Cs.

Isu tersebut kembali muncul saat ini untuk menyerang rezim Jokowi ternyata seperti kewalahan, dimana justru Jokowi bukan ditinggalkan oleh para pemilihnya justru pendukungnya malah smkin cinta. Maka disiapkanlah sekaligus munculah tokoh yang selalu sibuk dan piawai dalam hal pelengseran yaitu Amien Rais. Dalam pilkada DKI nama Amien Rais muncul kepermukaan, dan sekarang sedang hot-hotnya, baik bicara soal DPR, KPK, HTI, PERRPU, dsb. Disisi lain Demokrat pimpinan SBY yang kini lebih banyak diam tentunya akan bikin kejutan kembali, yang jelas bukan lagi dengan istilah “lebaran kuda”.

Maka sudah sepatutnya generasi muda untuk menyimak orang-orang tua yang mengacau, jika itu anda anggap benar maka dukunglah pertahankanlah, jika itu jelas tidak benar, maka bangkitlah melawan, tidakah Indonesia ini bosan dipenuhi tua-tua pengacau sekaligus impoten.

Apa yang kau harapkan dari DPR, Tembok Perwakilan Rakyat kini buta dan tuli, DPR tidak bersinergi ataupun harmonis dengan pemerintah, dan kehilangan hakikat serta fungsi dari kelembagaan itu sendiri, karena yang dipikirkan sekaligus dilakukan hanya untuk kepentingan Partai. Maka tak usah heran jika korupsi berjamaah ada di dalam gedung tersebut yang uangnya mengalir ke partai-partai selain kantong pribadi. Tidakkah kita muak?

Yang berkecukupan atau menengah keatas mungkin biasa-biasa saja, tapi jika kita lihat mereka yang betapa sulitnya mendapat pekerjaan, mereka yang kelaparan tertidur di depan ruko dan pinggir jalana, mereka yang dipelosok yang hanya makan umbi-umbian, dst. Dan mereka itu menitipkan amanah untuk disuarakan yaitu Dewan Perwakilan Rakyat. Si Dewan justru lebih menyibukkan diri berkolaborasi dengan para elite politisi untuk sama-sama menumbangkan kekuasaan untuk kekuasaan. Sementara pemegang kekuasaan saat ini yaitu Jokowi sedang fokus untuk memperbaiki negeri ini yang sedang oleng, hal ini dapat dilihat dari etos kerja dan pendekatan kepada riil rakyat menengah bawah, seharusnya DPR mendukung jika mereka suara rakyat.

Yang amat ironis partai-partai besar yang selalu bicara atas nama rakyat, ormas-ormas keagamaan yang selalu bicara atas nama ketuhanan, DPR yang merupakan perwakilan rakyat, politisi yang selalu bicara atas nama kebaikan bangsa, bersatu padu memusuhi, menyerang, melengserkan, mengacau, mendikte, rezim saat ini yang banyak dicintai rakyatnya. Seharusnya mereka justru mendukung, kenapa tidak? Karena keserakan itu tanpa batas.

Kekuatan rezim saat ini bisa tetap bertahan karena kekuatan rakyat yang mencintainya. Dan mereka yang hendak menumbangkannya tentunya sangat sulit, terlihat dari beragam isu yang disajikan terpental satu-persatu, mereka lupa rakyat bersatu tak bisa dikalahkan dan kenyataan yang harus mereka terima, rakyat yang mencintai Jokowi jauh lebih banyak dari yang mendukung mereka.

Maka tak heran jika nama seperti Amien Rais, muncul kembali, DPR gaduh kembali, para politisi saling membabi buta, hanya untuk menumbangkan rezim saat ini tetapi dengan nafas yang tersengal-sengal karena selalu gagal.

Respons Istana Perihal Biaya Perjalanan Keluarga Jokowi Bikin 3 Oknum Kejang Hebat

politik  

Pihak Istana Kepresidenan memberikan klarifikasi mengenai pembiayaan perjalanan keluarga Presiden Joko Widodo ke Turki dan Jerman. Istana, melalui Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin mengatakan bahwa pembiayaan perjalanan keluarga, dikeluarkan dari kantong pribadi Jokowi sendiri.

“Sebelum melakukan perjalanan ke Turki dan Jerman, Presiden Joko Widodo telah memberikan arahan kepada Plt Kepala Sekretariat Presiden Winata Supriatna pada Senin, 3 Juli 2017, di Istana Merdeka. Dalam arahan tersebut, Presiden menegaskan bahwa seluruh biaya perjalanan dan akomodasi anggota keluarga Presiden yang turut serta dalam perjalanan ke Turki dan Jerman sejak 5 sampai 9 Juli 2017 menjadi tanggungan pribadi Presiden” kata Bey Bahmudin, Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Dalam kunjungannya ke Turki menjumpai presiden Erdogan, yang katanya merupakan junjungan partai PKS dan ke Jerman dalam rangka menghadiri KTT G20 di Hamburg, Jokowi memboyong seluruh keluarga besarnya. Tak hanya Ibu Negara Iriana Widodo, Presiden Joko Wiodo juga membawa ketiga anaknya, Gibran Rakabuming, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep.

Istri Gibran, yakni Selvi Ananda dan bayi mungil buah pernikahan mereka, Jan Ethes pun dibawa dengan pesawat kepresidenan. Jangan sampai nyinyiran berikutnya mengenai keluarga tidak boleh naik pesawat kepresidenan yang digunakan oleh keluarga Joko Widodo. Rasanya itu nyinyiran yang terlalu rendah untuk dibahas.


Mereka nggak minta proyek.. Dasar Ndeso!

“Perintah Presiden sangat jelas dan tegas untuk efektivitas dan efisiensi,” kata Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Contoh efisiensi tersebut, kata dia, tidak perlu sewa pesawat walau perjalanan sampai ke Amerika Serikat, tim advance yang diperkecil, dan jumlah delegasi yang dibatasi dengan kapasitas pesawat.

Namun untuk mengantisipasi pemikiran bodoh dari kaum bumi datar, khususnya mereka yang selalu tidur di gedung DPR, pihak Istana juga mengklarifikasi penggunaan pesawat tersebut. Di dalam klarifikasi tersebut, dikatakan bahwa mereka menggunakan pesawat kepresidenan, selayaknya para menteri yang juga ikut bersama Presiden di Pesawat ‘Air Force One’ versi Indonesia. Mengapa mereka harus satu pesawat?

“Perlu diketahui bahwa anggota keluarga Presiden Jokowi selama penerbangan berada di bagian kompartemen yang selama ini hanya diperuntukkan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, sehingga keberadaan anggota keluarga Presiden Jokowi tidak mengurangi kapasitas penumpang rombongan resmi Presiden,” kata Bey.

Mungkin pertanyaan dari kaum bumi datar yang mulai bengkok tetap ada. Enak sekali keluarga presiden siapapun bisa ikut pesawat kepresidenan, ini tidak etis! Tidak pantas! Hal ini dapat dengan mudah dijawab. Mereka satu pesawat dan ikut trip Jokowi, karena tidak perlu keluar uang beli tiket pesawat lain, wong satu jurusan, bahlul ente!

Sebelumnya, sudah ada setidaknya tiga oknum tidak jelas yang menuding dan mencibir aksi Jokowi di dalam mengundang keluarga besarnya untuk berlibur. Siapa saja mereka? Fadli Zon (Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI), Apung Widadi (Sekjen Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran/ FITRA), dan Rachlan Nashidik (Politisi Demokrat).

Serangan ‘Kontraproduktif’ Fadli Zon


“Saya nggak tahu apa alasannya, mungkin sekalian liburan atau bagaimana, tapi tentu menimbulkan pertanyaan. Sah-sah saja orang bertanya karena tentu di luar kebiasaan dilakukan presiden Jokowi…. Setahu saya di zaman Pak Harto tidak ada sampai ke cucu, mungkin pernah kalau anak. Kalau bawa cucu setahu saya tak pernah”

Rasanya ia lupa, bahwa ia pernah meminta KBRI untuk menjemput anaknya yang sedang study tour di luar negeri, dan hanya membayar $200. Mungkin Fadli sekarang sudah minum Panadol, maka tidak heran kalau dia “Sudah lupa tuh!”. Untung dia tidak minum bubuk Daia, sabun pencuci baju.

Sebaiknya Fadli Zon harusnya kita’ ikat lehernya’ dan kekang pakai tali, sehingga ia dapat dengan cepat mengurus revisi UU Anti Terorisme yang belum rampung, ketimbang menyalak hal yang tidak penting. Mungkin hal yang lebih penting, kita harus siram oli ke Fadli Zon agar bisa mempercepat revisi undang-undang Anti Terorisme. Jangan bicara korupsi sebagai oli pembangunan. Hahaha.

Serangan ‘Memprihatinkan’ ala Politisi Demokrat, Rachland Nashidik

Kenapa Lebaran bawa keluarga ke Ragunan, Jokowi menjawab: tiketnya murah. Kalau bawa keluarga pelesir dengan biaya negara? Tiketnya gratis – @Ranabaca (akun Rachland Nashidik)


Politisi Demokrat pun tidak kalah nyinyir dengan Fadli Zon. Rasanya gejala yang sama ditunjukkan oleh politisi demokrat ini. Rachland mungkin sudah minum Panadol, sehingga ia lupa bahwa 5 tahun yang lalu, dua putra Susilo Bambang Yudhoyono, junjungan tertinggi Demokrat, juga ikut serta dalam rombongan SBY yang berkunjung ke London.

Bukan hanya itu, bahkan sebelum Ibas kawin, calon istrinya pun ikut plesiran ke Jogja dengan sang calon ibu mertua, Ibu Ani Yudhoyono. Untung calon istri Ibas pada saat itu tidak plesiran bersama sang calon ayah mertua. Saya prihatin melihat hal ini. Hahaha.


Mereka Jawir, tapi nggak ndeso

Serangan ‘Mengapung’ Sekjen Fitra FITRA, Apung Widadi

Deputi Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Apung Widadi mendorong Presiden Joko Widodo atau pihak Istana Kepresidenan transparan soal keluarga Jokowi yang ikut kunjungan kerja ke Turki dan Jerman.

“Menurut saya, memang Presiden atau stafnya harus jelaskan biaya perjalanan mereka… Pakai pribadi atau ditanggung negara. Kalau ditanggung negara berapa, aturannya bagaimana. Selama ini kan enggak jelas transparansinya… Kalau Pak Jokowi sendiri kunjungan kerja, lantas keluarganya liburan atau bagaimana? Pelesiran di saat Bapak Jokowi kerja dinas, tapi kalau pelesiran pakai uang rakyat, ini yang menyakitkan di tengah APBN yang defisit.” kata Apung Widadi

Pung, sekarang pihak istana sudah menjawab dan mengklarifikasi pertanyaan Anda. Lantas, apa yang menjadi respons Anda? Yah, menurut saya, respons Apung bisa terprediksi. Komentarnya akan tidak jauh-jauh dari “pencitraan”, “pemborosan”, “tidak empati kepara rakyat”, “alasan dibuat-buat”, dan berbagai macam alasan-alasan yang sangat mengawang, maksud saya meng-apung.

Dari klarifikasi Istana, rasanya kita tidak perlu khawatir mengenai kunjungan kerja Joko Widodo. Investasi triliunan di luar negeri, tidak sebanding dengan hiburan yang diperjuangkan oleh sang Bapak kepada keluarganya. Tentu setiap kita memiliki bapak yang baik, bukan? Atau jangan-jangan kalian lahir dari adukan semen? Kita Jokowi sangat mengabdi kepada negara dan rakyatnya. Klarifikasi Istana sudah cukup jelas menjawab permasalahan yang simpang siur mengenai dana yang digunakan Presiden di dalam memboyong keluarganya ke luar negeri.

Pengakuan Dunia Atas Kepemimpinan Jokowi Memuat DPR Lesu Dan Kaum Radikal Pun Jadi Blingsatan

opini  
Pertemuan bilateral antara Indonesia dan Amerika terjadi di sela-sela penyelenggaraan KTT G-20 di Hamburg, Jerman. Presiden Jokowi memiliki cara tersendiri untuk mencairkan suasana pertemuan perdananya dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Jokowi mengawali percakapan dengan menyampaikan salam dari jutaan pendukung Trump di Indonesia.

“Saya ingin menyampaikan salam dari jutaan penggemar Anda di Indonesia. Mereka tertarik untuk menyambut Anda di Indonesia,” kata Jokowi saat bertemu Trump di ruang pertemuan bilateral Hamburg Messe Und Congress di sela-sela penyelenggaraan KTT G20 di Hamburg, Jerman dikutip dari keterangan Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Sabtu (8/7/2017).

Di dalam percakapannya, Jokowi menyampaikan apresiasi atas kunjungan wakil presiden Amerika Serikat, Mike Pence ke Jakarta beberapa waktu yang lalu. Kunjungan Pence menandai komitmen Amerika Serikat untuk memperkuat dan mempererat hubungan dengan Indonesia.

“Kami sangat mengapresiasi karena telah memberikan kesempatan Indonesia sebagai salah satu dari 4 negara yang dikunjungi di Asia dalam masa jabatan pertama Anda,” kata Jokowi.

Dalam pertemuan dengan Trump, Jokowi juga membahas kerja sama di bidang ekonomi dan pemberantasan terorisme. Tidak ada pemberitaan tentang Freeport, Jokowi lebih berbicara mengenai ekspor kelapa sawit ke Amerika.

Jokowi pun menyampaikan apresiasinya kepada komitmen Amerika Serikat untuk tidak menganggap Islam sebagai akar dari terorisme yang harus dimusuhi, melainkan bekerja sama dengan negara-negara Muslim untuk memerangi terorisme.

Dari apresiasi Jokowi terhadap Amerika, rasanya statement Presiden RI pun merupakan sebuah tamparan keras terhadap kaum radikal yang mengatasnamakan Islam di dalam melakukan tindakan-tindakan tak senonoh yang merugikan kemaslahatan hidup orang banyak.

Presiden Jokowi dikenal dengan kata-katanya yang dapat diibaratkan seperti pedang bermata dua. Satu kalimat untuk berterima kasih kepada AS, dan kalimat yang sama, menghantam otak kaum radikal yang membawa-bawa nama Islam untuk mendukung aksi anarkis mereka.

Mereka-mereka yang mendampingi Joko Widodo di dalam pertemuan tersebut antara lain Menlu Retno Marsudi, Menkeu Sri Mulyani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala BKPM Thomas Lembong, Dubes Indonesia untuk Jerman, mantan Gubernur DKI Jakarta yang ditenggelamkan oleh Jokowi dan Ahok, Fauzi Bowo alias Foke, dan Staf Khusus Presiden, Ari Dwipayana.

Penanggulangan terorisme menjadi topik bahasan pertemuan antara Joko Widodo dan Donald Trump.

“Berkurangnya pergerakan ISIS di Syria dan Iraq mengharuskan kita memberikan perhatian ekstra kepada pergerakan mereka di daerah lain, termasuk Asia Tenggara. Penyerangan dan pendudukan grup teroris di Marawi, Filipina merupakan bukti meningkatnya ancaman terorisme,” kata Presiden Jokowi kepada Trump di ruang pertemuan bilateral Hamburg Messe Und Congress sebagaimana dikutip dari keterangan Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, Sabtu (8/7/2017).

Karena itu, Jokowi pun berharap kerja sama antara Indonesia dan Amerika di dalam penanggulangan terorisme harus terjalin dengan baik. Melalui pertukaran informasi antar BIN dan CIA, penghentian aliran dana kepada kaum radikal, pemberdayaan masyarakat modern dan penyebaran kontra narasi diharapkan dapat dilakukan oleh kedua negara besar ini.

Dua negara besar, Indonesia dan Amerika sudah bertemu. Masing-masing negara yang mewakili mayoritas pemeluk agama yang berbeda, harus bersatu melawan pengajaran-pengajaran yang tidak bertanggung jawab. Deradikalisasi, menjadi topik pembahasan yang penting untuk dibahas bersama.

Sebenarnya bukan hanya kepada Presiden AS, Presiden Jokowi pun membahas hal ini dengan Perdana Menteri Belanda, Rutte. Semakin maraknya radikalisme dan aksi-aksi terorisme, menjadi momok menakutkan bagi dunia internasional, termasuk Asia dan Eropa.

Penyerangan di Marawi, merupakan contoh nyata dari penyebaran ideologi yang radikal. Bahkan akibat dari pengajaran radikal, ratusan ribu penduduk daerah Marawi dan sekitarnya harus terpaksa mengungsi, agar keamanan Filipina dengan leluasa menghabiskan para militan ISIS dan Boko Haram.

“Serangan dan pendudukan kota Marawi ini menjadi wake-up call bagi kita semua tentang semakin tingginya bahaya terorisme… Untuk menyatukan langkah dan kerja sama tiga negara memberantas terorisme.” ujar Jokowi dalam pertemuan di Hotel Steigenberger, Hamburg, Jerman.

Eh.. Ada yang bawa keluarga juga…

Bukan hanya memberantas radikalisme melalui pengajaran, pendanaan pun harus dihentikan. Kita tahu selama ini mereka hidup dari aliran dana yang entah datang dari mana. Dengan demikian, kerjasama antar negara untuk mengetahui dan menghentikan, bahkan mempidanakan pendana teroris, harus digalakkan bersama-sama.

Setali tiga uang dengan Ahok, ternyata Trump dianggap suka melucu. Melalui akun Twitternya, Jokowi mencuitkan kalimat bahwa Donald Trump suka melucu.

“Ternyata Donald Trump suka melucu. Kita tadi membahas kerjasama ekonomi antar negara -Jkw,” tulis Jokowi.

Donald Trump pun melakukan apresiasi kepada Indonesia, dengan menyampaikan rasa kegembiraannya di dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi lantaran Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki leadership yang baik. Tentu dengan demikian, Jokowi mendapatkan pengakuan dari luar negeri. Lantas, mengapa di dalam negeri, banyak para laskar keputihan yang tidak suka dengan kepemimpinan Jokowi?

Jika para laskar dan para ekor Rizieq mendengar pengakuan internasional yang sangat baik kepada Presiden Jokowi, tentulah mereka akan kejang-kejang. Mereka pun harus mengakui bahwa Jokowi adalah sosok yang berhasil memimpin Indonesia ke arah yang lebih beradab.

Anarkisme para laskar, berhasil diredam dengan gerakan-gerakan tenang dan menghanyutkan ala Pak Dhe. Pak Dhe Jokowi menjadi seseorang yang begitu disegani, bahkan para pembenci pun tidak berkutik melihat keindahan gerakan kuda Jokowi. Banyak orang yang akan mencibir bahwa Jokowi merupakan orang yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kasus Ahok.

Biarkan saja mereka mencibir Jokowi, toh jika Jokowi melakukan intervensi, keadaan dipastikan akan memburuk. Tidak perlu kita pisahkan antara pendukung Jokowi dan pendukung Ahok. Jika berhasil terpisah, strategi kaum oposisi di dalam menggembosi suara Jokowi pada pilpres 2019 dianggap berhasil.



Pengakuan internasional terhadap kepemimpinan Jokowi yang sangat baik, tentu ibarat ludah yang mendarat tepat ke muka para pimpinan DPR. KPK begitu ingin dilemahkan oleh DPR, menandakan para pimpinan DPR takut keadilan ditegakkan dan secara langsung DPR mendeklarasikan dukungan terhadap aksi korupsi dengan kehadiran mereka kepada narapidana koruptor. Inilah yang terjadi di Indonesia. DPR ketika tidak bisa menghancurkan Jokowi, ia ingin menghancurkan oknum-oknum yang sepaham dengan Jokowi. Kinerja Jokowi, tidak perlu dilihat dari bagaimana caranya memasang kancing jas, itu terlalu tol*l untuk dibicarakan.

Sampai saat ini Presiden masih diam terhadap fitnahan-fitnahan. Mungkin saja ia ‘sengaja’ membawa keluarganya ikut pertemuan kenegaraan, memang untuk membuat suasana hati para kaum bumi datar keruh. Jokowi adalah tipe orang yang pintar memancing di air keruh. Dengan ‘pancingan’ yang menggiurkan, ia berhasil meluluh lantahkan pemikiran kaum bumi datar. Buktinya, Fadli Zon dan beberapa partai oposisi sudah terlihat kepanasan.

“Saya harap kita menjadi teman dan bisa menghasilkan banyak kesepakatan. Kita memang sudah memiliki relatif banyak kerja sama ekonomi,” kata Trump.

DPR Itu Wakil Semua Rakyat Atau Cuma Wakilnya Para Koruptor sih? Kok Senengnya Kunjungi Koruptor di Lapas

opini  
Miris! Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket KPK Tak Henti-hentinya Bermanuver. Alih-alih bertanya kepada rakyat yang merupakan korban para koruptor, anggota-anggota DPR yang terhormat itu justru lebih memilih bertanya kepada para koruptor di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).


Dengan banyaknya manuver-manuver dari Anggota Pansus hak angket DPR yang tidak sesuai dengan suara dari mayoritas rakyat Indonesia, Maka wajar saja kalau hasil survei terkait kinerja dan kepercayaan rakyat terhadap lembaga DPR ini selalu rendah.

Seharusnya kan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat itu mendatangi konstituennya masing-masing dan bertanya apakah mayoritas rakyat setuju dengan hak angket KPK yang mereka gulirkan itu? Apakah rakyat setuju dengan niat mereka bertemu napi korupsi di Lapas Sukamiskin dan Pondok Bambu? Kalau benar mereka menangkap suara rakyat pasti mereka tidak akan menggulirkan hak angket maupun menemui para napi kasus korupsi.

Namun faktanya mereka justru keukuh mendatangi para narapidana kasus korupsi dengan dalih ingin menggali dan mendapatkan informasi.

Saya sebenarnya bingung. Karena sangkin bingungnya, gatal kepala saya jadi kumat. Sangat tidak masuk akal menurut saya alasan DPR itu menjumpai napi korupsi hanya untuk menggali dan mendapat informasi. Sama sekali tidak ada relevansinya menurut saya.

Memangnya informasi apa yang bisa diperoleh dari para napi kasus korupsi itu? Wong Mereka saja sudah tega membohongi Tuhan dan ratusan juta rakyat Indonesia dengan bertindak korup. Para koruptor bahkan tidak segan mengambil uang rakyat yang bukan miliknya sehingga merugikan Negara dan mencoreng wajah hukum. Rakyat semakin miskin akibat ulah para koruptor. Hukum juga semakin rusak dan pembangunan pun tersendat.

Setelah tertangkap karena mengambil yang bukan hak-nya, Memangnya apalagi yang bisa dipercaya dari omongan para napi korupsi? Jangan-jangan nanti malah anggota DPR yang dikibulin sama para napi kasus korupsi tersebut? Apa para anggota DPR yang terhormat mau? Jangan sampai anggota DPR yan terhormat diperlakukan demikian oleh para napi.

Jujur saja, entah apa maksud dan maunya anggota DPR yang terhormat ini sebenarnya. Jangan-jangan ada undang dibalik bakwan?

Ya memang DPR sekarang ini seperti sedang berjalan sendiri setelah terpilih dan enggan mendengarkan suara mayoritas rakyat Indonesia yang jelas-jelas lebih mendukung KPK dalam memberantas korupsi.

Apakah DPR ingin menghianati kepercayaan yang sudah Rakyat berikan? Coba dong DPR itu menemui rakyat, Tanyakan dan audiensi langsung rakyat itu kemauannya apa? Ini kenapa justru para para narapidana kasus korupsi alias koruptor yang ditemui di Lapas untuk audiensi? Ini kan hal yang tidak masuk akal sebenarnya. Jauh panggang dari api.

Kita tentu miris melihat manuver anggota-anggota DPR yang lebih mementingkan hak angket daripada percepatan pemberantasan korupsi. Memang sudah bukan rahasia lagi kalau kepercayaan rakyat Indonesia kepada lembaga yang satu ini sudah pada titik nadir. Berdasarkan hasil survei Kompas, persentase kepercayaan rakyat kepada KPK masih terbilang tinggi dikisaran 65%. Sebaliknya, kepercayaan rakyat kepada lembaga DPR hanya tinggal 6% saja. Menyedihkan bukan?

Wajar rakyat kembali meragukan niat lembaga DPR di negeri ini dalam mendukung KPK. Pasalnya akhir-akhir ini terlebih setelah korupsi e-ktp mulai terungkap, memang belum terasa sedikitpun manfaat dari lembaga yang satu ini untuk mendukung kinerja KPK.

Lembaga DPR tak ubahnya seperti taman kanak-kanak. Inilah ungkapan yang pernah dikatakan oleh Alm. Gusdur. Dan ungkapan ini sepertinya belum akan berubah.

Lalu, dengan kinerja dan tindakan yang terus tidak sejalan dengan kemauan mayoritas rakyat seperti ini maka wajar rakyat semakin tidak percaya terhadap lembaga ini. jika tetap tak mau berubah, lama-lama kepercayaan rakyat mungkin akan menjadi nol. Karena terlalu sering bermanuver, wajar juga kalau rakyat menganggap bahwa lembaga DPR hanya menghabiskan uang Negara tanpa mampu memberi kontribusi signifikan bagi Negara dan bangsa dalam mencapai tujuan nasional.

DPR harusnya sadar kalau mayoritas rakyat itu lebih mendukung KPK. Jadi, Lebih baik DPR berubah dan segera bubarkan saja itu pansus angket KPK. Jangan lagi ganggu kerja KPK dalam memberantas korupsi di negeri ini. Harusnya DPR membuka jalan lebar-lebar bagi KPK dalam upaya memberantas korupsi. Jangan membela kolega-kolega anda di DPR yang diduga terlibat korupsi. Biarkan KPK masuk ke DPR dengan bebas agar dapat menindak para pelaku yang diduga melakukan tindak pidana korupsi. DPR tidak perlu mengganggu kinerja KPK. Cukup dukung dan perkuat KPK secara nyata. Soal bersalah atau tidak biar pengadilan dan hakim yang memutuskan.

Seperti yang kita ketahui, memang ada mafia dibalik layar yang ingin mengerdilkan KPK. KPK bahkan sudah bolak-balik berusaha dikebiri. Tujuannya tentu menghambat kinerja KPK dan pemberantasan korupsi. Jadi, DPR harusnya berubah dan mendukung KPK. Jangan malah terkesan ikut menghambat kinerja KPK dan ikut mengebiri KPK dengan hak angket.swd

Mencegah Ancaman Yang Kian Masiv, Jokowi Berikan Sinyal Dengan Membawa Keluarga ke Jerman

opini  

Keluarga JokowiDewasa ini dunia maya di Indonesia dihebohkan dengan berita yang menceritakan bahwa Presiden Joko Widodo memboyong seluruh anggota keluarganya ke Jerman, seperti yang ditulis dari kutipan berita berikut :

Presiden Joko Widodo memboyong keluarganya ikut kunjungan kerja ke Turki dan Jerman. Tak hanya Ibu Negara Iriana, Jokowi juga membawa ketiga anaknya, yakni Gibran Rakabuming, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep.
Menantu Jokowi yang merupakan istri dari Gibran, Selvi Ananda, juga ikut dalam rombongan. Begitu juga anak dari Gibran dan Selvi, Ethes, yang baru berusia satu tahun empat bulan. – Kompas


Para haters dan lawan-lawan politik Jokowi berteriak kegirangan sambil loncat salto di rumah. Mereka menggoreng berita ini seperti menggoreng kacang. Bahkan salah satu anggota DPR paling sensasional, Fadli Zon juga ikut berkomentar, seperti yang dikutip dari berita di bawah ini :

Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon menyayangkan sikap Presiden Joko Widodo membawa keluarga, bahkan cucunya, dalam kunjungan kenegaraan ke Turki dan Jerman. Menurut Fadli Zon, semestinya Presiden Jokowi bijaksana dalam memiliah-milah pendamping dalam kunjungan kenegaraan tersebut.
Fadli mengatakan, memang sesuai aturan yang berlaku anggota keluarga Presiden juga mendapatkan fasilitas protokoler tertentu. Fasilitas itu juga bersifat melekat. Namun, dia mengatakan, Presiden semestinya bijaksana dan bisa memilah.
Jangan sampai fasilitas bagi kerja kepresidenan ditumpangi oleh kepentingan pribadi keluarga Presiden. “Apalagi ini dilakukan secara mencolok,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat (7/7). – Republika


Pada awalnya saya termakan dengan gorengan isu mereka, bahkan saya sempat berpikir apakah Pak Jokowi sudah berubah dan menjadi jumawa akibat kegemilangan dan prestasinya selama ini. Saya mencoba kembali melihat anggota keluarganya satu per satu. Mulai dari Gibran Rakabuming, yang tak pernah mau restorannya dibesarkan atas nama kepentingan politis. Kahiyang Ayu yang pernah gagal tes CPNS dan sekarang bertunangan dengan seorang rakyat jelata, bukan dengan anak pejabat lainnya seperti yang biasanya dilakukan untuk kepentingan politik. Dan Kaesang si ‘Ndeso’ yang selalu mengkritik kehidupan glamour para pejabat. Dan ini semua tidak mungkin jika semata hanya untuk membawa keluarganya jalan-jalan.

Selaku manusia intelek, saya akan berpikir kembali dan mencoba menempatkan diri saya di posisi Pak Jokowi.Dan akhirnya jatuh pada suatu kesimpulan bahwa ini adalah kode dari Pak Jokowi.

Kode. Ya kode. Seperti yang sering dilakukan oleh Pak Jokowi. Mulai dari menyindir Pak SBY melalui tur Hambalang, hingga menyindir para pemboikot Starbuck dengan mengunjungi Kafe Kopi lokal.

Lalu apa isi kode tersebut?
Setelah saya mencoba mengkaji, saya yakin bahwa isi kode tersebut adalah bahwa “Pak Jokowi masih memperhatikan keluarganya.”

Terkesan merupakan hal yang biasa, karena setiap orang tua pasti memperhatikan keluarganya, tetapi berbeda jika posisinya merupakan seorang presiden. Selain sebagai kepala keluarga, beliau juga merupakan seorang kepala negara yang harus memperhatikan jutaan keluarga lainnya.

Jika kita melihat bagaimana kehidupan keluarganya, kita pasti akan menyadari bahwa masing-masing dari mereka memiliki kehidupan sendiri dan hidup mandiri. Tidak seperti keluarga cendana dan keluarga cikeas yang selalu tumbuh dibawah sayap sang ayah. Tetapi selaku keluarga dari pemimpin sebuah negara memang seharusnya begitu. Harus dapat terjangkau satu dengan yang lainnya.

Keluarga merupakan bagian terpenting dalam hidup setiap manusia, tak terkecuali seorang presiden. Seorang ayah pasti rela mengorbankan segalanya demi kehidupan dan keselamatan anaknya. Dan itu lah yang menjadi tantangan Pak Jokowi saat ini.

Keinginan untuk menunjukkan perhatian menjadi kebutuhan utama yang harus dilakukan oleh Pak Jokowi kepada keluarganya setelah melihat berbagai ancaman yang terjadi saat ini. Bagaimana Novel Baswedan disiram air keras, bagaimana teroris dapat menyerang Mapolda Sumatera Utara, hingga surat-surat ancaman yang dikirimkan oleh teroris kepada kepolisian.



Gambar 2. ISIS mengancam Indonesia

Bayangkan jika ancaman tersebut datang ke anggota keluarganya. Mungkin saja mereka sudah pernah mendapatkannya, tetapi mereka tidak menunjukkannya ke publik. Apabila mereka mendapatkannya, dan jika salah satu anggota keluarganya ditawan hal itu sudah pasti akan mengganggu perhatian Pak Jokowi yang sedang akan membangun Indonesia secara cepat saat ini. Dan musuh Pak Jokowi bukan hanya kelompok teroris saja, tetapi juga para pejabat, dan bahkan koleganya sendiri yang ada di dalam istana. Kita melihat bagaimana Kaesang juga sudah mendapat laporan dari rakyatnya. Meskipun Pak Jokowi terkesan tidak peduli, tetapi sebagai seorang ayah pasti dia akan memikirkan hal tersebut. Rakyat, yang susah payah kesejahteraannya diperjuangkan malah melaporkan anaknya atas dasar sakit hati.
Maka melalui ‘fenomena’ tur bersama keluarga ini, Pak Jokowi ingin menunjukkan bahwa dia masih memperhatikan seluruh anggota keluarganya, dan memberikan sinyal agar jangan berani bermain api yang besar dengan mereka.
Pak Jokowi pasti sudah memikirkan hal ini matang-matang. Dia yakin elektabilitasnya pasti akan turun. Tetapi sebagai seorang manusia yang cerdas Pak Jokowi tentu akan memilih mempertahankan keluarganya. Karena elektabilitas bisa dibangun kembali, sedangkan keluarga hanya ada satu.

Mari selalu kita dukung Pak Jokowi untuk Indonesia yang lebih baik.
#JokowiuntukIndonesia

Referensi :
http://nasional.kompas.com/read/2017/07/07/18271531/bawa.anak.mantu.cucu.ke.jerman.jokowi.dianggap.tak.beri.keteladanan
http://http://www.republika.co.id/berita/dpr-ri/berita-dpr-ri/17/07/06/osocjf257-dpr-gelar-diskusi-nasional-bahas-ruu-kuhp-dan-kuhap

Apapun Alasanya Pembunuhan Tetaplah Pembunuhan

opini  
Ada Bom di Mapolres Solo? Ini pasti konspirasi densus!
Ada bom di Jl. Thamrin? Rekayasa polisi!
Ada bom di Gereja Samarinda? Rekayasa polisi!
Ada bom di Gereja Medan? Ini rekayasa polisi!
Ada bom panci yang gagal meledak? Pengalihan Isu!
Ada penusukan aparat kepolisian di Bandung? Rekayasa!
Ada penusukan dan pembunuhan di Mapolda Sumatera Utara? Ini hanya rekayasa polisi!
Dan semalam, ada anggota brimob ditusuk saat berada di masjid? Ini rekayasa!

Ayolah kawan. Ini soal nyawa. Pembunuhan. Hentikan celoteh dan imajinasi konspiratifmu. Pembunuhan tetaplah pembunuhan. Kelak, kalau ayah-ibumu disembelih, engkau takkan peduli motif pelaku. Pembunuhan tetap pembunuhan. Titik.

Total 42 polisi gugur akibat tindakan Lone Wolf yang berbaiat kepada ISIS. Kemampuan mereka menurun, tak lagi leluasa membuat bom karena rekrutmennya masih baru. Tapi mereka masih berbahaya. Kini, di berbagai wilayah di dunia mereka melakukan teror dengan pisau dan menabrakkan minivan maupun truk ke arah kerumunan massa.

Logika macam apa yang terus menerus menyatakan ini rekayasa polisi. Konspirasi ini itu, dan sebagainya. Ayolah. Buka mata. Pelaku ini juga saudara kita. Muslim juga. Kalau dibiarkan semakin berbahaya. Mereka terus berkembang karena diam-diam ada yang bersimpati dengan aksi mereka sekaligus memberikan clue bahwa ini "hanyalah" pengalihan isu, rekayasa, konspirasi dst. Mereka semakin massif melakukan rekrutmen karena diam-diam kita tidak berteriak lantang saat Islam dibajak dan dibusukkan. Kita masih ngomong kejayaan masa lalu sembari ngobrolin konspirasi ini-itu, tapi di sisi lain, memberikan peluang bagi para bajingan memprovokasi pembunuhan atas nama "jihad".

Apa yang saya maksud dengan sulit menerima kenyataan? Lihatlah, ayo kita lihat baik-baik, dalam setiap aksi pengeboman di tanah air selalu ada teori konspirasi bahwa bom ini itu adalah "konspirasi", "ulah intelijen", & "pengalihan isu", dan entah teori apa lagi. Padahal kita tahu Bom Kedubes Filipina, Bom Bali 1 & 2, Bom Marriot, Bom Ritz Carlton, Bom Bunuh Diri di Polresta Cirebon, Bom Thamrin, Bom Polres Solo, dan berbagai pengeboman lainnya pelakunya ya saudara-saudara kita yang mengidap penyakit jiwa.

Konspirasi? Hahaha, lha wong terorisnya bikin video pengakuan sebelum bertindak kok, sebagian bikin surat pernyataan dan wasiat. Mereka bangga dengan "jihad"nya. Terorisnya bawa paspor dan KTP, kok bisa? Ya iyyalah. ini era digital. Setiap aksi pengeboman dan teror pelaku sengaja membawa identitas dirinya untuk menunjukkan eksistensinya sebagai "mujahid". Bahkan, seringkali ada kawannya yang sengaja merekam aksinya lalu menguploadnya di web yang dikelola ISIS. Kalau anda mampir di webnya ISIS maupun blog yang dikelola simpatisannya, niscaya bakal menemukan banyak video aksi bom bunuh diri maupun video testimoni "kesyahidan" dan video wasiat sebelum mereka melakukan aksinya.

Ayolah, akuilah, ada sebagian saudara-saudara seiman kita yang sinting dan melakukan pembusukan ayat al-Qur'an melalui tindakan bar-barnya. Sebagian malah bangga dengan aksinya. Tak percaya? Lihatlah berbagai statemen sebelum maupun sesudah aksinya. Tak perlu lagi menutupi borok ini, tak usah lagi menyebarkan kabar bohong untuk mengarang cerita konspirasi. Tak perlu menuduh ini itu, konspirasi ini itu toh korban-korban yang berjatuhan mayoritas orang Islam juga. Paham kan sayang? Pelaku muslim, dan mayoritas korbannya juga muslim. Di Indonesia, Timur Tengah, Pakistan, Afganistan, Libya, Sudan dan Somalia, jumlah kaum muslimin yang terbunuh dan terusir dari kampung halamannya bukan diakibatkan oleh epidemi, melainkan oleh sesama umat Islam sendiri. Mau protes atas statemen saya? Silahkan!

Saat ini umat Islam butuh MUHASABAH, bukan MUBAHALAH!

Wallahul Musta'an

Oleh : Gus Rijal Mumazziq Z 

Ucapan Selamat Ulang Tahun Jokowi Yang Ditunjukan ke Ahok Berikut Pesan Terselubungnya

politik  
Pak Dhe Jokowi sudah memimpin negara ini nyaris 4 tahun. Kita tahu sejak tahun 2014, Presiden RI, Jokowi tidak pernah mengecewakan rakyatnya. Setiap pekerjaan yang dilakukan, semata-mata hanya untuk kemajuan negara Indonesia dan rakyatnya.

Apapun yang sudah dikerjakannya, tentu membawa perbaikan yang signifikan, ketimbang para pendahulunya, baik Soeharto maupun Susilo Bambang Yudhoyono. Tak terpikirkan bagaimana jika pada tahun 2014, Prabowo memenangkan pilpres. Indonesia akan menjadi negara yang tidak dapat diprediksi.



Melalui apa yang sudah diperlihatkan oleh Pak Dhe Jokowi di dalam pembangunan, tidak perlu ada pertanyaan lagi bagaimana kinerjanya di dalam memajukan infrastruktur maupun program rumah murah. Program kerjanya jelas, menterinya bekerja keras.

Menjadi sebuah hal yang umum kita melihat apapun yang sudah menjadi kinerjanya, sangat baik dan sangat memuaskan. Terbukti dari arus mudik Lebaran tahun ini, para pengguna jalan merasa sangat puas dan sangat terberkati dengan apa yang sudah dilakukan oleh Jokowi dan para kabinet kerja.

Bukan hanya pembangunan, bagaimana ia menjalankan roda pemerintahan di dalam menekuk maupun mematahkan ideologi anti Pancasila pun berhasil. Aksi bela-bela (katanya) Islam pun berhasil diredam. Bahkan dengan keberaniannya, ia datang di aksi bela (katanya) Islam yang dipimpin oleh seorang tersangka. Ormas-ormas radikal dibuat ompong, bahkan gigi taringnya sudah tercabut, sampai ke akar-akarnya.

Kekuatan Jokowi di dalam menaklukkan ormas radikal yang sangat mungkin didukung oleh para elit politik bangsat pun, berhasil. Bahkan uang ratusan miliar yang digunakan untuk mengadakan demo-demo yang dikomandoi oleh GNPF MUI, FPI, HTI, FUI, dan ormas onta lainnya, sia-sia. Bukan hanya mendobrak ormas radikal, Jokowi pun membuat panitia pengawas Pancasila.

Setelah pembangunan dan permainan ideologi anti Pancasila, pun kita melihat bagaimana kepedulian Jokowi terhadap rakyat Jakarta, khususnya pada momen Lebaran. Open house yang memang digunakan sebagai silaturahmi antara istana dan rakyat, berlangsung dengan lancar. Memang tradisi open house merupakan tradisi yang setiap tahun dilakukan oleh pihak istana. Namun entah mengapa, open house yang langsung dipimpin oleh Jokowi, memberikan kesan yang sangat berbeda.

Kita tidak dapat melihat pergerakan Jokowi dengan naif dan bodoh. Mengingat banyak orang bodoh dan naif yang selalu menuntut Jokowi sesuai dengan kehendak mereka, saya tentu akan senantiasa mengucapkan hal ini.

Cara permainan Jokowi tidaklah kasar dan membabi buta, bukan hanya karena ia tidak memakan babi, namun memang ia adalah orang Jawa. Sebagai orang Jawa, kita melihat bagaimana Jokowi selalu bergerak dengan tenang dan terkadang kita harus gregetan melihat bagaimana cara kerjanya.



Jokowi sangat aman di dalam ‘bermain’. Setiap langkah politiknya dipikirkan dengan sangat matang dan tidak terburu-buru, bahkan terkesan lambat. Manusia selalu mengharapkan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak dapat melakukannya.

Para haters selalu dengan bodoh menuding Jokowi di dalam pergerakannya yang terkesan lambat. Namun sampai sekarang, kita tahu bahwa kinerja Jokowi sangatlah luar biasa. Ia bergerak dengan perhitungan yang matang, dan sarat dengan sandi-sandi maupun kode.

Bahkan pada hari ini, kita tahu bahwa Jokowi pun sekarang sedang memberikan kode dengan kunjungannya ke Kebun Binatang Ragunan, Jakarta. Ngapain Jokowi ke Ragunan di hari ini? Kita tahu bahwa Ragunan sangat penuh dengan pengunjung. Buat apa Jokowi melakukan kunjungan di dalam keramaian? Kok ribet amat sih Presiden kita?

Mengingat hari ini adalah ulang tahun Ahok yang ke 51 tahun, kita tentu tahu bahwa kunjungan Jokowi ke Ragunan merupakan ucapan terselubung. Mungkin belum waktunya bagi Jokowi untuk mendatangi Ahok di Rutan Mako Brimob. Namun melalui kunjungannya ke Ragunan bersama sang istri dan kedua anaknya Kaesang dan Kahiyang, Jokowi sekeluarga sebenarnya sedang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ahok, secara simbolis.

Memang presiden kita ini luar biasa dan sangat halus di dalam bergerak. Bagaimanapun, kunjungannya ke Ragunan menjadi viral, dan kita harus mengakui bahwa hanya sedikit orang yang dapat melihat apa yang sedang Jokowi kerjakan.

Dengan elegan, kita melihat kunjungan Jokowi dan keluarga ke Kebun Binatang Ragunan, tidak lain dan tidak bukan, merupakan ucapan selamat ulang tahun kepada Pak Ahok yang ke 51. Di usianya yang sudah melewati setengah abad, Jokowi mengapresiasi hasil kerja Jokowi dengan kunjungannya ke Ragunan.

“Ini kan tempat hiburan yan paling murah. Masuk kan hanya berapa? Rp 4 ribu atau Rp 3 ribu. Murah sekali. Ada sisi edukasinya. Kenalkan anak pada gajah, beruang, monyet, buaya, lutung. Benar melihat hewan yang ada,” kata Jokowi di lokasi, Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (29/6/2017).



Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, senantiasa ada di hati kita semua. Tidak berlebihan jika di dalam ulang tahunnya di Mako Brimob, tentu membawa rasa haru tersendiri bagi para pecinta Ahok. Ahok layak mendapatkan ucapan selamat ulang tahun yang sangat meriah.

Terbukti dari viralnya ucapan selamat ulang tahun kepada Pak Ahok oleh para netizen. Bahkan sampai menjadi trending topic di Twitter dengan tagar #HBDAhok51. Semoga di usiamu yang sudah lewat setengah abad, Tuhan senantiasa menjaga dan memimpin kehidupanmu, terlebih kehidupanmu di Mako Brimob.

Keluarga yang mendatangi Ahok, tentu sedang merayakan ulang tahun yang berbeda dari kebiasaannya. Merayakan ulang tahun setidaknya dua kali di Mako Brimob, membuat kita tentu melihat bagaimana pun juga, hukuman Ahok tidak selama yang dibayangkan.

Sayang sekali jika melihat putra terbaik bangsa, dipenjara karena kekhilafan yang juga dilakukan oleh kebanyakan orang. Pantaskah dua tahun? Sebenarnya tidak pantas untuk seorang Ahok. Namun fakta mengatakan, bahwa ia dijatuhkan hukuman, akibat ormas ontaleran dan ontalektual.

Mengapresiasi hasil kerja Ahok, Jokowi dan keluarga datang ke ragunan. Antusiasme rakyat yang heboh atas kedatangan Jokowi pun menjadi sebuah tanda bahwa Jokowi begitu dicintai rakyat. Saya sampai bingung mengapa masih banyak haters Jokowi, padahal kinerja Jokowi sangat luar biasa.



Ucapan selamat ulang tahun kepada Ahok oleh Jokowi dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Akhir kata, tidak berlebihan jika kita melihat bahwa Jokowi merupakan seorang pecatur yang senantiasa memberikan cara-cara uniknya di dalam mengekspresikan ucapan selamat ulang tahun kepada Ahok.SWD

Kasus Hukum Ahok Digeber Secepat Kilat,Kasus Hukum Rizieq Ditunda Sementara.Lah Kok Bisa?

opini  
Kita semua masih ingat perjalanan kasus Ahok yang berlangsung kilat. Setelah demo yang konon katanya dihadiri 7 juta orang, Ahok langsung menjadi tersangka. Ahok menjadi korban politisasi karena terlalu jujur dan tidak mau bagi kue. Mencurahkan segenap jiwa dan raga demo rakyat Jakarta ternyata dibalas dua tahun penjara.


Penyidikan kasus pornografi dengan tersangka Rizieq Shihab di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya di-hold atau ditunda sementara.
Sekarang bagaimana dengan Rizieq? Mantan narapidana ini sudah banyak menghina banyak pihak. Kalimatnya tidak diedit-edit, sudah dengan sangat jelas menghina. Selusin laporan sudah menunggu untuk diurus, tinggal pilih mana yang duluan.

Tapi Rizieq ternyata bermain licik, dirinya langsung kabur ke Arab agar tidak ditangkap. Lihatlah hasilnya sekarang, polisi kewalahan untuk menangkap Rizieq. Polisi Indonesia tidak bisa serta merta terbang ke Arab untuk memborgol Rizieq. Polisi Indonesia perlu mengeluarkan blue notice dulu agar bisa bekerjasama dengan Polisi Arab.

Tidak ada demo yang menuntut menangkap Rizieq, toh tidak ada pesanan. Tidak ada juga tokoh politik yang berseru tangkap Rizieq, seruan tangkap hanya untuk Ahok. Tentu saja hal ini dilihat publik sebagai kelambanan polisi dalam bertindak. Mengapa yang jelas anarkis bisa bebas sedangkan yang baik dan jujur harus mendekam di penjara?

Penundaan??

Sekarang Polisi malah mengatakan kalau kasus Rizieq akan ditunda sementara. Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan mengatakan saat ini pihaknya tengah berfokus untuk melaksanakan operasi Ramadniya 2017 jelang lebaran.

“Ini ada yang lebih penting ya, operasi kemanusiaan, ini Ramadniya. Ini (kasus Rizieq) kami hold sebentar,” ujar Iriawan

Betul, operasi pengamanan Idul Fitri lebih penting dibanding dari kasus fisang, tapi kenapa sampai harus ditunda? Yang perlu ditekankan adalah penundaan kasus. Tidak ada alasan kuat untuk menunda kasus ini. Jumlah polisi itu banyak, masak semuanya harus dialihkan?

“Kami tunggu yang bersangkutan sampai pulang. Pemberkasan sudah kami lakukan, pemeriksaan sudah kami lakukan, semua kami lakukan,” katanya.

Polisi tetap saja berharap agar Rizieq mau pulang dengan sukarela. Kalau melihat kondisi sekarang, Rizieq tidak akan mau pulang secara sukarela. Dirinya sudah terjepit kasus, mau mengelak apa lagi? Bukti sudah ada, setelah kasus Firza selesai pun masih menunggu banyak kasus.

“Hadapi saja. Silakan berargumentasi di pengadilan. Saya yakin, hakim kalau mau memutus itu dengan tepat dan bijak. Kalau memang bukti-bukti tidak ada yang mengarah ke dia, pasti akan diputus bebas,” papar Iriawan

“Tapi kan lebih elegan kalau itu dihadapi, jangan lain-lain. Hadapi saja menurut saya, itu lebih baik. Beliau kan warga negara yang baik,” ujarnya.

Kenapa polisi bisa begitu lemas dalam mengurus kasus Rizieq? Buktinya kuat lho, tanpa editan. Apa perlu dorongan demo seperti perjalanan kasus Ahok baru polisi semangat? Kenapa tidak langsung menerbitkan blue notice, jemput Rizieq langsung dari Arab. Apa yang ditakutkan polisi?

“Kita tunggu, kalau langkah-langkah berikutnya akan kami sampaikan. Apakah nanti kami akan lakukan police to police, blue notice, atau yang lain sebagainya,” pungkasnya.

Jujur saja, kinerja polisi mengurus kasus Rizieq terbilang lambat. Rizieq sudah berhasil kabur ke Arab dan kemungkinan besar akan tetap berada disana sampai kasusnya menguap. Rizieq saja sampai mengklaim memiliki visa unlimited, versi satu-satunya di planet ini.

Tidak ada gunanya berharap Rizieq akan mau pulang secara sukarela. Lihat saja tindakannya selama berada di arab, seolah-olah dirinya merupakan orang terzalimi. Padahal yang dizalimi adalah Firza, dikadalin dengan janji nikah. Berteriak kriminalisasi ulama padahal dirinya sendiri memiliki moral yang diragukan.

Sudahlah, biar saja polisi yang mengurus kasus ini sesuai dengan penglihatan mereka. Polisi tidak akan ditekan dengan demo dalam kasus Rizieq. Polisi tidak akan mengalami tekanan massa kaum bumi datar.

Kita harap saja tanpa tekanan polisi tetap bisa mengurus kasus ini sampai tuntas.swd

Penertiban Kalijodo, Jangan Tertipu Media, Terkesan Hanya ada Anak dan Ibu...

opini  
Hari ini, Selasa, 14 Juni 2017, pagi-pagi benar saya melintasi daerah Kali Angke dan menuju arah tol yang berada tepat di sebelah kolong tol dekat Kalijodo Skatepark. Warga Jakarta kenal betul, bahwa Kalijodo beberapa tahun yang lalu merupakan sebuah tempat yang dikenal dengan lokasi kemaksiatan. Di atas lokasi yang tidak terlalu besar tersebut, daerah Kalijodo konon ditempati ribuan orang.
Tentu tak dapat kita bayangkan jika para akhir pekan, kedatangan pelanggan ke lokasi tersebut akan menimbulkan banyak sekali penyakit kelamin yang muncul. Aksi-aksi maksiat yang sangat kotor tersebut, tentu tak dapat ditampung hanya di satu lokasi Kalijodo.
Maka tidak heran jika banyak penjaja ‘jasa seks komersil’ sampai tumpah ruah keluar lokasi prostitusi tersebut. Daerah tersebut kurang besar, untuk mencukupi kehausan akan para pelanggan seks, yang kebanyakan adalah pria-pria kantoran maupun orang-orang yang pada siang hari terlihat soleh.
Bertahun-tahun yang lalu, di sepanjang jalan Kali Angke, banyak orang yang menjajakan ‘barang dagangannya’ di gerobak-gerobak yang menghadap ke arah kali. Sejak saya kecil, pemandangan itu sering saya jumpai.
Awalnya saya berpikir gerobak itu menjual barang dagangan yang dijajakan selayaknya pedagang asongan. Lantas seiring dengan usia yang bertambah, pengetahuan saya pun bertambah. Ternyata gerobak-gerobak tersebut bukan menjual barang dagangan, melainkan menjual jasa pekerja seks komersil (PSK).
Mereka yang melakukan tindakan mesum di pinggir kali, dilakukan di dalam gerobak yang hanya berukuran kira-kira panjang x lebar x tinggi 1,5m x 1m x 1m. Mungkin kurang dari ukuran tersebut. Hal ini tentu merupakan hal yang harus diselesaikan oleh pihak aparat keamanan, karena mereka melakukan tindakan mesum tersebut di dalam gerobak mesum.
Razia tersebut bukan hanya dilakukan karena laporan warga yang resah ketika setiap kali harus melintasi daerah tersebut. Razia ini dilakukan justru untuk menyelamatkan para penjaja tubuh, maupun para pelanggan dari tindakan maksiat yang justru dilarang oleh agama mana pun.
Tindakan zina semacam ini harus diselesaikan dan dibereskan oleh pihak keamanan seperti Satpol PP, juga diteruskan kepada pihak keagamaan. Penertiban PSK sudah sering dikerjakan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun namanya saja manusia, tentu kita harus lumrah bahwa di dalam kecenderungan dosa dan dibiarkan begitu saja oleh pemerintah-pemerintah terdahulu, penertiban ini hanya sebatas formalitas, dan para PSK pun akan kembali menjual dirinya.
Ternyata PSK yang menjual tubuh mereka, diminati oleh para pelanggan yang entah datang dari mana. Para pelanggan yang memiliki motor, memarkirkan kendaraannya dekat daerah Kalijodo, sehingga menimbulkan kemacetan. Sekarang kita tahu bahwa kemacetan di sekitar Kalijodo berkurang drastis, sejak dibongkarnya lokasi prostitusi, dan dibangun Kalijodo Skatepark.
Kalijodo skatepark memang sempat membuat kemacetan, namun kemacetan yang dimunculkan merupakan kemacetan karena ada orang-orang yang ingin berkunjung. Macet karena kunjungan jauh lebih baik ketimbang macet karena ‘kunjungan’. Mengerti maksud saya?
Keberadaan Djarot yang menjadi pelaksana tugas (PLT) Gubernur mengganti Ahok, ternyata prima. Djarot dengan tegas mengimbau para penghuni daerah kolong jembatan dekat Kalijodo untuk pindah, jika tidak, akan dipindah paksa. Saya mula-mula berpikir Djarot tidak mampu untuk melakukan hal tersebut. Namun prediksi saya salah.
Djarot mampu dan pagi ini, saya dengan mata kepala sendiri, melihat penertiban yang dilakukan oleh sekitar 100 orang Satuan Polisi Pamong Praja, menertibkan lokasi kolong jembatan. Herannya, Anies dan Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih malah enggan memberikan tanggapan, dan cenderung ‘ngeles’. Inilah calon pemimpin Jakarta lima tahun ke depan. Selamat untuk warga Jakarta!
Jelang penertiban, tidak sedikit barang-barang yang disita untuk menghindari aksi anarkis yang dilakukan oleh para pria penghuni Kalijodo. Penyisiran tersebut ditemukan sejumlah barang-barang haram seperti senjata tajam, botol sisa minuman keras, linggis, hingga alat kontrasepsi. Inilah bukti kuat yang digunakan di daerah Kalijodo. Maka tahu sendiri kesimpulannya bukan?
Ketika saya melintasi daerah tersebut, terlihat sekelompok Satpol PP sedang merubuhkan bangunan yang ada. Ada para wartawan yang meliput aksi tersebut. Di daerah tersebut ada juga ibu-ibu dan anak-anak yang sedang menangis di belakang para petugas satpol PP yang sedang bekerja.
Operator kamera sebuah media yang berbaju putih terlihat hanya meliput ibu-ibu dan anak-anak. Saya tidak tahu wartawan itu dari televisi atau media mana. Namun satu hal yang pasti, selama saya melintasi, saya memerhatikan wartawan tersebut hanya meliput aksi pol PP dengan latar belakang ibu-ibu yang menangis. Sedangkan di daerah yang sama, ada sekelompok pria, sepertinya yang tinggal di daerah Kalijodo, sedang dihadang oleh anggota pol PP lainnya. Aksi tidak anarkis, namun menegangkan. Media harus memberikan fakta, bukan sesuatu penggiringan opini yang justru menyesatkan!
Jadi kesimpulan saya, media berwarna  putih ini rasanya sangat cerdik di dalam menggiring opini penonton. Jangan sampai kita tertipu dengan hal ini. Si putih itu diam-diam membakar habis akal sehat para konsumen. Waspadalah!

Teruntuk Ustad Solmed, Imigrasi Singapura Tidak Zholim Itu Aturan Negara Mereka !

opini  

Sore ini media sosial ramai dengan unggahan cuit Sholeh Mahmud alias Ustad Solmed. Ia menceritakan bahwa dirinya ditahan di ruang tahanan tanpa alasan yang jelas. Paspornya juga ditahan. Kemudian ia melanjutkan ceritanya:

Saya harusnya pulang ke indonesia harusnya jam 16.35 dan sekarang peswat sudah terbang.

Saya pesan tiket pesawat jam 17.15 wib katanya diberangkatkan teryata tidak juga.

Saya sudah sampaikan pulangkan saja saya ke indonesia walau saya tidak tahu mengapa 9 jam lebih saya ditahan, krna mlm ini saya ada acara

Akhirnya mereka datang menawarkan saya pulang jam 19.50 dengan konsekwensi saya tdk bisa menghadiri acara undangan malam ini.

Sampai 5 menit yg lalu saya msh bertanya salah saya apa?mengapa saya ditahan mengapa paspor saya ditahan?mengapa saya tidak boleh pulang?

jawaban mereka sungguh sangat luar biasa,Kamu mau pulang apa nggak ? Saya tanya kenapa saya ditahan kok jawabnya km mau pulang apa nggak?

Mereka Seperti tidak punya rasa sungkan pada Indonesia,mereka seenaknya memperlakukan WNI ( saya ). Lengkap 10 jam menahan tnpa alasan.

Dngan seenaknya tanpa alasan mereka ambil HP saya,entah apa yg mereka cari.Saya pun kembali bertanya apa salah saya?Jawabnya hanya diam

Dan saya butuh Kedutaan Indonesia di Singapore untuk coba bantu urusan ini yg sejak tadi saya telpon tidak bisa bisa.

Saya makin tidak ngerti lagi ini urusan,bukan hanya imigrasi tapi Polisi Singapore ikut turun tangan. Ada apa dan kenapa?Saya salah apa?

Beberapa jam kemudian Solmed melanjutkan unggahannya:
Alhamdulillah , akhirnya saya diperbolehkan pulang, tetap saya tidak tau apa yg jadi problem. Mereka hanya bilang you clear.
Terima kasih teman teman tweeps semua , mereka liat berita ini dan mereka kasih saya pulang cepat katanya
Alhamdulillah saya sudah dipulangkan dengan pesawat Lion jam 19.50 ,sekarang sudah di jkta. Terima kasih untuk semua sahabat yg sdh bantu.
Dari ruang isolasi Saya dibawa 4 orang polisi menuju ruang tunggu pesawat.Saat itu saya tanya lagi, Apa salah saya? Dia jawab,kamu clear
Kawan saya, Ustadz syurohbil mahfudz.MA (Anak Kh.Mahfudz Asirun, Rois Syuriah NU Jakarta) masih ditahan di singapore, mohon perhatiannya.
Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya. Saya bingung tadi harus bagaimana kecuali bercerita atas peristiwa yg baru saja saya alami.
Pertama membaca hal ini saya cuma bergumam satu “jangan sampai 7 juta umat menuduh Singapura melakukan kriminalisasi ulama dan kemudian berinisiatif menggelar demo 3 angka di sana”. Jadi menurut saya begini :
  1. Setiap negara mempunyai aturan keimigrasian sendiri. Mereka punya otoritas untuk melakukan pengamanan termasuk secara random memeriksa orang-orang tertentu. Ini bisa dialami siapa saja tidak hanya seorang ustad.
  2. Singapura dikenal memiliki Internal Security Act (ICA) yang sangat ketat. Ini salah satu usaha mereka mencegah terjadinya gangguan keamanan negara baik karena terorisme, kriminalitas, dll. Ini juga mencegah rasisme, ekstrimis, dan subversif.
  3. Dalam salah satu berita disebutkan Solmed menceritaka bahwa dirinya ditanya, “Pulang pergi kayak hantu saja, saya tanya salah saya apa dia bilang ‘diam kamu’ saya bilang saya punya hak untuk mengetahui salah saya apa kalau saya ditahan seperti ini. Dia bilang diam kamu, kamu punya medsos apa, kamu punya Facebook apa, email apa, nomor telepon kamu berapa, saya lihat handphone kamu. Loh kok semuanya begini, saya bilang saya salah apa,” Pertanyaan itu sangat wajar. Mereka perlu melakukan background checking pada orang yang keluar masuk negaranya. Ini bukan kriminalisasi. Bahkan saat ini Kedutaan Amerika saja dikabarkan juga melakukan pengecekan media sosial pada orang-orang yang mengajukan visa. Sebagai tamu atau calon tamu kewajiban kita adalah menghormati aturan di negara tersebut.
  4. KBRI tidak ada hubungannya dengan kejadian ini. Ini adalah murni urusan keimigrasian Singapura. Kalau ada polisi yang kemudian ikut campur itu juga wajar. Bisa jadi Solmed dianggap kurang kooperatif saat diberi serangkaian pertanyaan. Gini deh misal anda di airport terus ditanya oleh petugas Anda tidak kooperatif maka wajar kan kalau mereka memanggil polisi yang bertugas di situ?
  5. Ini bukan masalah sungkan atau tidak. Ini otoritas negara. Indonesia juga bisa kok menahan warga negara asing yang dicurigai tanpa harus merasa sungkan.
  6. Jangankan mengambil HP, anda di bandara lokal saja bisa dipaksa membuka laptop kalau dianggap mencurigakan. Itu bagian prosedur keamanan. Tapi mungkin tidak ada yang berani di bandara Indonesia karena Solmet dikenal, lah tapi di Singapura siapa Solmed? Tentu dianggap sama dengan pendatang lain.
  7. Kekooperatifan dan hormat kita pada petugas imigrasi negara lain dalam menjalani prosedur sangat menentukan. Dasarnya mereka tidak mungkin semena-mena selama kita bisa bekerja sama dengan baik.
  8. Lah sekarang kok baru Solmed cerita kalau ada temannya yang juga bernasib sama? Tadi waktu curhat di twitter pertama kali kok seolah cuma sendiri yang bermasalah?
  9. Apakah akan digerakkan boikot negara Singapura oleh jamaah Ustad Solmed?

Antara Islamisasi Politik Dan Politisasi Islam

opini  
Ah kita ini makin bingung aja
Bagaimana mungkin terjadi,
Saya kok makin bingung aja,melihat perkembangan akhir akhir ini, ulama yang menjadi pengurus ,ormas islam terbesar di dunia Nahdlotul Ulama, di katain sesat,antek yahudi yang bukan saja buta mata tetapi juga buta hatinya. Padahal ulama itu demikian di hormati,berdasarkan keilmuan ,berdasarkan nasab dan berdasar kan posisinya sebagai ketua PB NU dan Presiden.
Kami semua diam,karena hormat kami kepada habib Lutfi Pekalongan, juga habib UMAR PAMURAGAN,HABIB AHMAD SUKARAJA ,DAN HABIB ANIS SOLO. Kami juga mengharapkan , orang yang mengatakan itu dan pekerjaan nya atau hobby nya memaki maki Ulama itu segera di aliri sifat halus, sopan santun serta ahlaqul hulk nya nabi, ( yang dianggap sebagai datuk ,odek odek gantung siwur atau canggah buyutnya.yakni Rosulullah kalau memang nasabnya valid . Karena selama ini belum ada pemeriksaan genetika bahwa mereka yang mengaku habib itu memiliki sifat dna yang sama dengan Nabi, apalagi jaraknya sudah 1600 tahun lebih )
Yant terakhir muncul di media sosial adalah ketua kami Prof DR KHSaid Aqil Siraj ,maaf , dipenggal kepalanya dan di taruh ke badan anjing. Ada juga ulama NU, endas endaske, dikatakan kafir, menjual agama dan penjilat kutil babi.Bahkan ada yang disebut sebagai pengikut syiah dan Islam sesat penyembah thogut. Tetapi lihatlah mereka yang lembut hatinya dan ramah perangainya itu tidak membalas dengan makian.
Para ulama pendiri dan pewatis pendidri negerinini, sekaligus penyebar agama dengan moral tertinggi ini ,ya...Mereka yang disebut kiyai oleh para kiyai itu diam saja tidak menjawab dan juga tidak membalas. Karena mereka mengikuti junjung an nya dan keteladanan Nabi, yang pemaaf dan mulia hatinya bak samodera. Sembari membisikan sepotong doa : " ya Allah ampuni mereka yang mengaku keturunan nabi tetapi suka memaki ,ini, karena mereka tidak menyadari ditanah mana mereka berdiri, "
Kami hanya menandai,keruntuhan negara Islam di belahan jagad raya ini, bukan karena di serang dan di hancurkan fisiknya. Tetapi senantiasa di hancur kan psikisnya, psikologisnya dan jiwa serta ruh islamiyahnya. Sehingga mereka tidak faham lagi mana yang dogma ,mana yang syar'i ,mana yang faham dan mana yang berisi ruh illahiyah insani. Islam sekarang dianggap sebagai isme. Faham, bahkan alat untuk mencapai kekuasaan,sehingga jauh dari nilai-nilai islaminya. Islam yang tidak islami.
Islam yang semula menjunjung tinggi kebenaran,karena sumber kebenaran adalah illahi,islam yang semula menjunjjng tinggi harkat martabat manusia,karena kemanusiaan adalah illahi." Walaqod karomna ala bani adam, dan Aku sudah meninggikan derajad setiap anak Adam " musnah menjadi sekat agama yang kejam. Bahkan sekat sekte sekat aluran,sampai terpuruk kepada sekat mendukung atau tidak mendukung.
Selamanya dan selalu,ketika kondisi sudah mendesak maka bangkitlah macan-macan NU untuk menarik tegas tali bangsa,yang dibiarkan kendor sebagai bentuk demokrasinyang menghargai semua pendapat dan elemen manusia indonesia. Ulama Nusantara yang sejatinya adalah para pendekar bangsa, para patriot Garuda Nusantara itu tidak menegakan negaranya hancur,hanya gara-gara permainan rendah para kriminal yang mengaku ulama. Para kriminal yang di ustadzkan. Para mualaf yang tiba-tiba di ulamakan dan memaki ulama-ulama yang puluhan tahun menggeluti kitab-kitabnya yang memenuhi perpustakaan pesantren nya.
Turun gunungnya para Macan itu itu bisa di Lihat setiap jejak rekam bangsa , menjelang masuknya tentara Belanda yang membonceng sekutu, Macan NU dan para pendekar bangsa ditahun 1948 itu di komandoi oleh ulama sepuh "Macan Barong " KH Abas Bunted, menggempur musuh bangsa.
Nah, jika peperangan biasa terjadi di sebuah negara atau antara negara, dan yang mati para tentara yang pangkatnya dibawah mayor. Perang yang di komandoi Pendekar bangsa itu yang menjadi korban adalah jendral dunia ,yang menjadi komandan sekutu, yang memenangi perang dunia ke 2, yang bernama jendral Malaby. Perlu di ketahui , Waktu itu yang namanya irmas Islam HTI,SALAFy dengan cadar ninja ,MTA ,FPUI, GNF MUI, apalagi FPI atau ormas radikal lainnya masih jadi kencing.
Tahun 1964, 1965 dan 1966 dan muncul pergerakan pemberontakan PKI, yang sesungguhnya merupakan rentetan dari peristiwa PKI tahun 1926, 1948 yang terkenal dengan affair Madiun, dan terakhir pemberontakan g 30 s PKI Atau gestock....dan semua yang melakukan pembasmian adalah TNI, dan segenap masyarakat khususnya Banser NU dan Ansor nya..... FPI dan on hisgang nya, juga belum lahir.....
Setelah semua yang dilakukan oleh ulama NU dan anak anak mudanya, mereka kemudian balik ke barak,mengajar dan menjadinustad,menjadimpetani ,berdagang lagi,tanpa meminta rente ekonomi dan kekuasaan nya. Mereka orang ikhlas,yang tidak mengerjakan semua kebaikan untuk bangsa ini demi dirinya,tetapi semua dilakukan karena Allah sehingga tidak pernah membuyuhkan pengakuan,bahkan ditulis sejarahpun tidak.Mereka ikhlas untuk tidaknterkenal,sepanjang santri dan umatnya mendapatkan kesempatan hidup berniaga dan betibadah itu sudah cukup.tidak genit bermain politik,apalagi menyebut dirinya Ulama dan merasa berjasa. Wong semua dioeruntukan sebagai laku,salik ,menjalani suluk untuk Allah kok.
Maka kalau sekarang anak anak muda yang membawa faham wahabi, yang mulai merebak sejak Sby berkuasa itu atau ditahun 1980 an itu, atau bocah kencur tetapi berpenampilan tuwa karena jenggotnya ,mereka mengaku ulama paling hebat,imam besar atau jabatan selangit apapun , setelah mendelet nama nama ulama yang sesunguhnya, itu bukanlah ulama. Ulama itu mendahulukan ahlaq,sebagai mana Nabi nya. Apalagi kalau mengaku Habib. Jadi yang terjadi sekarang in adalah bukan kriminalisasi ulama. Tetapi kriminal yang di ulamakan. Kriminal yang di ustadz kan. Apalagi jika melihat track recordnya, dihukum lebih dari sekali atau dua kali, dalam kasus yang sama maka sudah menyandang gelar "residivis "... kok ulama itu bagaimana.
Kalau disebut imam besar ya pasti bukan imam besar untuk umat Islam yang ajarannya mulia sebagai penyempurna agama,yang lembut dan damai sebagaimana di tampilkan Sayidina Muhammad. SAW .Pasti yang dibawa bukan ajaran keras. Suka memaki dan mengunggulkan nasabnya sendiri yang belum jelas pembuktian kebenarannya.
Hanya modal hidung mancung bisa bahasa arab sepotong sepotong,itu ngaku habib. Maka saya pernah menulis ,jika ingin mencari kiyai yang alim, di Nusantara ini Ada Gus Mus, dan Mbah Maimun zubeir, kalau mencari Habib yang bener sekarang ini ya datanglah ke Habib Lutfi bin yahya, atau Quraisy syihab, atau sahabat saya Habib Oemar Munthohar semarang... yang lain mah berlaku hukum sama....bergantung amaliyah sehari hari.... kalau kriminal ya kriminal tidak udah dikriminalkan sudah kriminal. Kriminal itu ya gitu...... 
Gus Nuril Arifin

Sikap Menantang Tuhan, “Mengapa Rizieq Shihab Masih Dipuja Setelah Melakukan Aib Yang Begitu Hina?”

politik  
Ini adalah sebuah pertanyaan yang seyogyanya dijawab oleh si pemuja Rizieq Shihab.

Saya menulis pandangan saya dari sisi perempuan dan berusaha memahami perasaan istri seorang RIzieq Shihab yang memilih jalannya sebagai seorang pemimpin kelompok keagamaan yang begitu keras untuk menghapuskan maksiat dari bumi Nusantara.

Tidak ada istilah hukum karma dalam ajaran Islam. Yang dikenal dalam Islam adalah takdir. Lalu disederhanakan lagi dalam bentuk sebuah kiasan atau peribahasa yang berbunyi, “Siapa yang menabur angin, dia yang akan menuai badai”.

Dan Agama adalah satu ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau.

Maksiat adalah perbuatan dosa dalam bentuk zhalim (aniaya) terhadap diri sendiri. artinya perbuatan itu sebagian besar akan merugikan diri sendiri. maksiat seperti jurang yang setiap manusia dapat saja terjatuh di dalamnya. ditambah lagi daya dorongnya bukan hanya berasal dari diri, tetapi juga dari waswas syetan. Dan harus dicatat juga, hal-hal yang termasuk dalam katagori maksiat, semuanya adalah hal-hal yang sangat dinimkati umat yang berubah menjadi maksiat apabila dilakukan diluar hukum dan aturan.

Rizieq Shihab dengan FPI-nya sebegitu rajin menghalau mereka yang disinyalir melakukan kemaksiatan. Seperti mensweeping tempat-tempat hiburan dan tempat-tempat pelacuran. Tapi tidak jarang pula kita dengar bahwa sweeping ini juga tergantung pada seberapa besar “mahar” yang diberikan sebagai uang keamanan agar usaha bisa tetap terus berjalan dan terjaga.

Rejeki tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Berkah agama Islam yang diterima Rizieq Shihab dan keluarga adalah rejeki yang melimpah yang Allah berikan kepada mereka, Namun, Allah juga memberikan peringatan yang sebegitu kerasnya kepada seorang Rizieq Shihab dan kita tahu bagaimana Rizieq Shihab dan pengikutnya menyikapi peringatan Allah tersebut. Masya Allah.

“Ketika suatu perbuatan zinah dilakukan dan terbongkar, maka aib itu bukan saja menimpa si pelaku, tetapi juga keluarga mereka masing-masing. Dan hal itu akan sulit dilupakan, apalagi pelakunya adalah publik figure. Sekalipun aib itu disembunyikan atau ditutup-tutupi, adegan aib itu masih bisa di tonton jutaan orang di dunia maya. Jadi usaha apapun akan tetap gagal, karena aib itu akan tetap melekat selama hidup sampai anak cucu, bahkan sampai di depan pengadilan Allah kelak, aib itu tetap harus dipertanggungjawabkan” (Stefanus Untung ChandraII).

Fitnah atau bukan fitnah, ini semua bisa dibuktikan kalau Rizieq Shihab bisa dengan jantan datang ke kepolisian dan dengan lantang menerangkan bahwa ini semua tidak benar. Setiap langkah-langkah pembuktian yang dilakukan kepolisian karena informasi yang diberikan oleh pihak perempuan, harusnya bisa Rizieq Shihab patahkan kalau benar bahwa ini semua adalah fitnah dankebohongan besar.

Permalukan balik pemerintah atau orang yang sudah menyudutkan dirinya dengan sebuah pembuktian kebenaran bukan dengan cara kabur-kaburan. Kita tahu bahwa dalam sebuah perkawinan ketika ada pertengakaran, pihak yang memutuskan keluar dari rumah adalah pihak yang kalah. Apapun dalih yang disampaikan. Dan kalau kembali datang ke rumah, dia datang dengan dua kemungkinan: Berdamai dan rujuk kembali atau dia datang dengan membawa surat cerai.

Mana kira-kira yang akan Rizieq bawa ke Indonesia kalau satu hari dia datang kembali ke Indonesia?

“RS juga manusia, meskipun turunan Baginda Nabi, tetap dia manusia, kalau selama ini pengikut2nya memujanya terlalu berlebihan seakan2 beliau tidak pernah salah itu adalah kategori musyrik, saat ini harusnya hukum khilafah ditegakkan pada beliau, kalau memang terbukti, maaf tidak ada jalan lain, dirajam keduanya sampai mati, itu baru penegakan hukum Islam yang benar,,, saya mendukung semuanya seperti itu,,,” (M.Kacrut)

Banyak bukti dan fakta bagaimana Rizieq Shihab dengan semangat empat puluh lima menyuarakan dan mendukung pada gerakan ISIS dan Khilafah. Mengganti Pancasila dengan hukum Syariat Islam. Sebelum seluruh hukum tatanan negara dirubah menjadi hukum Islam, ayo silahkan para Laskar FPI memperlihatkan tata cara kehidupan dengan hukum Islam diantara mereka saja dulu sebelum diterapkan di seluruh Indonesia.

Yang OTT zinah, di hukum rajam, yang OTT korupsi, di hukum potong tangan, yang melanggar aturan islam dihukum memberi makan fakir miskin atau anak-anak yatim sebanyak yang ditentukan.

“Baru sekarang ketahuan antara ahok dan rizieq, mana lelaki sejati, siapa yg pengecut dan siapa yg pemberani?” (Pro NKRI)

Ini yang paling memalukan! Bayangkan, orang membandingkan reaksi RIzieq Shihab yang begitu mengagungkan peraturan Tuhan dan seorang yang begitu diagungkan, kalah oleh seorang yang sudah begitu dia hinakan!!??

Bagaimana ini bisa? 300 Pengacara berdalih untuk membenarkan aksi kabur-kaburannya Sang Imam Besar!! Bahkwan ada satu pengacara yang gemar memakai baju kaftan mengatakan bahwa, “Negara seharusnya berterima kasih pada Rizieq Shihab yang sudah memutuskan untuk pergi dari Indonesia. Kalau kalau tidak niscaya akan terjadi pertumpahan darah!”

Pertumpahan darah untuk alasan apa Pak Kapitra?

“Ketika kebohongan sudah tidak bisa dibantu ditutupi dan diselamatkan oleh kebohongan lain, maka penekanan, ancaman, dan sikap kemarahan adalah cara lain yang bisa menutupi dan menyelamatkan kebohongan”

Itu kan yang sedang FPI lakukan pada masyarakat sekarang ini? Pada dokter Fiera dan Pada Leonard Wowling?

Kalau saya pribadi lebih melihat bahwa sikap Rizieq Shihab dan seluruh pengikut dan pendukung FPI saat, adalah sikap yang sedang menantang kuasa Allah. Silahkan saja dicermati. swd

Politik Hukum Rimba : Jokowi Disasar Kudeta, Gatot Offside, Kalla Bermain Api

opini  

Sejak menjadi Presiden, Jokowi memang sasaran empuk untuk dikudeta. Jokowi yang berlatar belakang sipil, dipandang remeh lawan-lawannya. Di kalangan militer, Jokowi dihargai karena kejujuran dan kesederhanaannya. Namun ia bukanlah sosok yang disegani, apalagi ditakuti. Jejak menakutkan Jokowi ala Duterte misalnya, tak ditemukan.

Di kalangan Islam garis geras, Jokowi dipandang sebelah mata. Ia bahkan dijadikan sebagai bahan olok-olokan di media. Fitnah-fitnah dan hinaan keji kerap dilontarkan kepadanya. Jokowi kerap dituduh sebagai Komunis, antek PKI dan sebagainya. Respon Jokowipun ala kadarnya. Ia lebih banyak bekerja, fokus membangun ekonomi. Sementara soal politik dan mengamati lebih seksama pergerakan radikalis, kurang mendapat perhatiannya.

Ada indikasi bahwa di masa pemerintahan Jokowi 2014-2019, kaum radikalis di negeri ini semakin berani unjuk gigi dan sudah terang-terangan mendirikan negara khilafah. Impian negara khilafah yang sempat padam di era Soeharto kembali menguat. Apalagi kaum radikalis itu mendapat dukungan diam-diam dari lawan-lawan politik Jokowi. Belum lagi adanya provokasi dan rongrongan dahsyat dari para pendukung Prabowo.

Kekalahan tipis Prabowo atas Jokowi pada pada Pilpres 2014 lalu terasa pahit. Ada banyak pendukung Prabowo yang gagal move on hingga kini. Ketika Prabowo kalah, para pendukungnya menahan geram luar biasa. Amarah mereka terpendam perih, mendidih, membuih.

Pendukung fanatik Prabowo amat yakin bahwa Prabowo menang. Apalagi ada jaminan PKS yang telah menguasai Jawa Barat, propinsi terbanyak penduduknya, menjanjikan kemenangan Prabowo di Jawa Barat. Fakta membuktikan kemudian, Jokowi memang kalah di Jawa Barat, propinsi terbanyak penduduknya di Indonesia. Namun secara nasional, Jokowi unggul tipis atas Prabowo.

Rasa dendam atas kekalahan tipis Prabowo itu, membara tersimpan rapat-rapat dalam hati para pendukungnya. Rasa dendam itu bagai api dalam sekam yang siap membara ketika disulut. Amin Rais, Ahmad Dhani, Aburizal Bakri, Ratna Sarumpaet, Rizieq Shihab mendapat moment emas untuk bergerak ketika Ahok partner Jokowi di DKI, menyerempet Surat Al-Maidah. Kasus ini kemudian berhasil ditumis, digoreng, digulai hingga direndang sebagai bahan untuk menembak Ahok sekaligus Jokowi.

Para tokoh-tokoh anti Ahok dan Jokowipun bersatu padu. Aa Gym, Din Syamsuddin, hanyalah sebagian tokoh-tokoh yang all out menggerakkan umat untuk mendemo Ahok. Dengan tuduhan Ahok sebagai penista agama, Jokowi pembela penista agama, yang terus diulang-ulang di setiap kesempatan, upaya untuk mengkonsolidasi jutaan massa pun menjadi mudah. Demo-demo besarpun berkumandang. Isu yang tadinya untuk memenjarakan Ahok, kini berubah menjadi agenda tersembunyi melengserkan Jokowi. Dengan demo yang membahana atas nama agama, maka impian negara khilafah menjadi menguat.

Dalam situasi demo yang mencekam, posisi TNI-Polri menjadi amat menentukan. Saya tidak meragukan kesetiaan Kapolri Tito Karnavian untuk mengamankan Jokowi. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ada oknum-oknum aparat Polri yang setuju demo dengan agenda-agendanya. Apalagi ada banyak mantan petinggi Polri yang sudah pensiun kini berada di pihak lawan Jokowi.

Hal yang sama di kalangan TNI. Panglima TNI Gatot Nurmantyo berada pada situasi menguntungkan. Ia menjadi rebutan kaum nasionalis sekaligus kaum agamis dan lawan-lawan Jokowi. Investigasi Allan Nairn yang menuding sebagian perwira tinggi TNI purnawirawan maupun yang masih aktif menjabat, termasuk Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, terlibat dalam serangkaian demonstrasi besar dengan tujuan makar dan menjatuhkan Presiden Jokowi, tak bisa dianggap sepele begitu saja.

Gatot dalam setiap penampilannya, selalu membela NKRI dan pemerintah yang sah. Namun di sini lain Gatot juga berdiri di dua kaki. Ia juga membela aksi bela umat Islam. Ketika Najwa Shihab melontarkan pertanyaan yang dinilai mencoba mem-framing Aksi Bela Islam, Gatot saat itu justru membela umat Islam sekaligus “menghantam balik” program Mata Najwa.

“Kalau tentara sudah turun tangan, berarti skalanya berbeda nih. Apakah skalanya berbeda yang unjuk rasa besok?” tanya Najwa Shihab kepada Jenderal Gatot pada acara Mata Najwa bertema Menjaga Bhinneka, Rabu (2/11/2016) lalu.

“Nana,” jawab Jenderal Gatot dengan mengawali menyebut nama panggilan Najwa Shihab, Dalam konteks ini mari kita berpikiran positif. Bahwa yang akan melaksanakan demo itu adalah saudara-saudara kita sebangsa se-Tanah Air. Mereka kata Kiai Abdul Mu’ti tadi, tidak punya tempat di Mata Najwa. Sehingga mereka di jalan raya, ke Istana (Negara). Jadi kita berpikiran positif.”

Apa pesan bersayap dari Gatot itu? Dalam mengawal Aksi Bela Islam, sikap Gatot mendua. Di satu sisi, ia bertugas mengamankan demo dan mengamankan pemerintah, namun di sisi lain ia mengamini aksi-aksi demo itu. Jika Gatot kemudian tersinggung karena aksi bela Islam dikaitkan dengan upaya makar bisa dipahami. “Kudeta Presiden Jokowi’, saya agak tersinggung kata-kata itu, karena saya umat Islam juga,” ujar Gatot dalam talkshow “Rosi yang tayang di Kompas TV, Kamis (4/5/2017) malam.

Sikap Gatot dalam merespon adanya aksi kudeta terhadap Presiden Jokowi menjadi off side ketika ia mengatakan bahwa upaya kudeta atau makar terhadap Presiden Jokowi adalah hoax. Faktanya sudah dua kali kepolisian di bawah komando Tito menangkap sejumlah pihak yang dicurigai melakukan makar. Jika Gatot kemudian mengatakan bahwa makar itu hoax, sama saja menafikan tindakan kepolisian yang sudah menangkap para pelaku makar. Ini jelas ucapan off side yang bisa dikaitkan dengan hasil investigasi Allan Nairn itu.

Sikap Gatot yang mendua itu bisa dipahami ketika ada fitnah kepada pemerintahan Jokowi yang pro komunis dan menjalin kerjasama erat dengan China daratan. Belum lagi ada isu yang mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi akan meminta maaf kepada korban pembantaian massal yang dituduh terlibat G30S/PKI tahun 1965. Isu menjadi memanas ketika penyelidikan akan pelanggaran kasus-kasus HAM di masa lalu akan kembali diungkit, termasuk kasus Munir.

Jika merujuk pada hasil investigasi Allan Nairn, maka ketika Jokowi dicurigai untuk meluruskan sejarah, maka TNI menjadi pihak yang disudutkan. Jika Jokowi akan meminta maaf kepada korban pembantaian, hal itu sama saja membuat perwira TNI kebakaran jenggot. Maka ketika ada demo, aparat TNI setengah hati melindungi Presiden, dan setengah hati senang untuk menggerogotinya.

Lalu bagaimana dengan Jusuf Kalla (JK)? JK jelas bermain api. Keseleonya lidah Ahok yang memancing demo 411 dan 212 itu jelas menguntungkan posisi JK. JK sambil tidur hanya menunggu bola muntah dari aksi demo yang berakibat mendelegitimasi kekuasaan Jokowi. Jika Jokowi ambruk, maka JK yang ambisius akan menjadi Presiden.

Selain menunggu bola muntah dari aksi demo, JK juga ikut bermanufer seperti hadir di alumni KAMMI dan bertemu dengan SBY. JK jelas menggunakan kartu truf Islam untuk naik jadi Presiden begitu Jokowi ambruk karena krisis legitimasi dan tekanan umat Islam. Ambisius ini akan berpotensi jika Ahok tetap bisa menjadi alasan untuk melengserkan Jokowi. Permainan api JK semakin memantik ketika ia turut mendesak KPK berperang dengan PDIP dan Golkar dalam kasus e-KTP.

Maka ketika Jokowi disasar kudeta, digerogoti dari dalam dan luar, sudah saatnya Jokowi mulai garang. Ia yang mendapat mandat dari rakyat dan didaulat sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata di Republik ini saatnya mulai tegas dan garang. Jokowi harus mulai fight dan membungkam mulut kotor dan kejam lawannya. Untuk menghajar lawannya, Jokowi untuk sementara tidak memberi Ahok jabatan apapun di pemerintahannya sekurang-kurangnya hingga Pilpres 2019.
baca juga : [Mengetahui Ada Hakim Yang Satu Ini, Sulit Ahok Bebas di Banding, Jaksa segera Cabut Banding!]
Pilpres 2019 adalah pertarungan sejati Jokowi terhadap lawan-lawannya. Politisasi masjid yang mengkampanyekan isu komunis, antek China dan kafir hampir pasti kembali diangkat untuk mengambrukkan Jokowi.swd

baca juga
Lulung: Lebih Baik Jalan Macet daripada Pemprov Gusur PKL Tanah Abang
Muak Dengan Ceramah Rizieq Shihab, Pengajian Akhirnya Ricuh Jama'ah Minta Bos FPI...

Wiranto Merasa Muak Densus Tidak Dihargai , Angkat Bicara Soal Kritikan DPR Tidak...
Nilai-nilai Yang Ahok Perjuangkan Lebih Kencang Saat Berada di Penjara

Tokoh Gereja Papua Ampuni Pembakar Alkitab, Bagaimana Dengan Tokoh Muslim?
Ucapan Anies Usai Jenguk Korban Bom Bunuh Diri Bikin Warga Geram
Sikap Menantang Tuhan, “Mengapa Rizieq Shihab Masih Dipuja Setelah Melakukan...
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)
Subscribe to Newsletter
  • Popular Posts
  • Comments
  • Category

Popular Posts

  • Sebut Di Surga Ada Pesta Sekh, Benarkah Kenikmatan Surga Seperti Digambarkan Ustadz Ini ?
  • Anak Bau Kencur, Fahri Hamzah, dan KPK
  • Anies Baswedan di-Bully Netizen Gara-gara Lakukan Tindakan Ini
  • Kekuatan Cinta Rakyat buat Jokowi Bertahan, Yang Ingin Menjatuhkan Kian Kewalahan
  • Vhia Valenvhi Cewek Paling Dicari di Media Sosial Karena Menghina Orang Jawa 'Share ya Biar Cepat Ditangkap'
  • Bani Harahap GNPF-MUI dan Gebby Vesta, Kisah Sekuel Chat
  • KANGKUNG YANG MEMATIKAN

Labels

  • berita ( 521 )
  • edukasi ( 4 )
  • ekonomi ( 22 )
  • fakta unik ( 49 )
  • herbal ( 1 )
  • hukum ( 33 )
  • inspiratif ( 28 )
  • internasional ( 32 )
  • islami ( 188 )
  • kecantikan ( 3 )
  • kesehatan ( 53 )
  • kontroversi ( 56 )
  • kriminal ( 16 )
  • militer ( 11 )
  • mitologi ( 1 )
  • nasional ( 179 )
  • olahraga ( 1 )
  • opini ( 106 )
  • politik ( 266 )
  • resep ( 6 )
  • sains ( 8 )
  • sejarah ( 35 )
  • selebriti ( 17 )
  • seni ( 3 )
  • seni&budaya ( 20 )
  • serba-serbi ( 17 )
  • spiritual ( 34 )
  • tausiah ( 2 )
  • tekhnologi ( 12 )
  • tips ( 50 )
  • wanita ( 7 )
Footer Logo

Services

© Copyright 2017 Portal News Indo. Designed by . Powered by Blogger.