Showing posts with label edukasi. Show all posts
Showing posts with label edukasi. Show all posts

Komentar Mahasiswa Al Azhar Mesir Kepada Umat Kristiani Bandung Yang Diganggu Ormas PAS

Kalau kejadian di Bandung saya tidak tahu persis kronologinya. Sebagai orang jauh saya hanya bisa menerima informasi dari teman yang terpercaya.

Cuma kalau benar itu sebuah pelanggaran, dan pelanggaran tersebut membuat Anda terganggu, ya maklumi aja. Saya kan sudah bilang Muslim SMP memang begitu

Saran saya, bagi teman-teman Kristiani, kalaupun nanti di lain waktu Anda menerima gangguan dari Muslim-muslim SMP itu, atau kitab suci Anda "dihina", misalnya, tidak usah amuk-amukan dan demo berjilid-jilid.

Tidak perlu minta diproses secara hukum, apalagi minta agar para pelaku dipenjara. Tidak perlu. Kasih saja mereka senyuman manis dan kata-kata sayang.

Tunjukan saja kepada mereka bahwa Agama Anda adalah Agama pemaaf dan penuh cinta. Bukan Agama yang senang liat orang dipenjara.

Juga bukan Agama yang penuh dendam dan suka menebar kata-kata nista. Tunjukanlah kepada ulama-ulama yang saleh itu bahwa "kami semua bisa lebih dewasa menyikapi orang-orang mengganggu kami.

Tunjukanlah kepada ulama-ulama pembela al-Quran itu bahwa kami ( umat kristiani ) semua merindukan ajaran Nabi Muhammad seperti yang diajarkan oleh Isa Almasih As.

Tunjukanlah kepada para Mujahid pembela Islam itu bahwa kami tak akan rela jika saudara-saudara Muslim kami dituntut apalagi dipenjara hanya karena mengganggu kami atau "melecehkan" kitab suci kami.

Tunjukanlah kepada ustaz-ustaz yang saleh dan ganteng itu bahwa kami ingin memeluk umat Islam yang mengganggu kami dan kami tidak ingin melukai hati mereka dengan menebar kata-kata benci.

Buatlah spanduk segede karpet--dan kalau perlu pajang di depan kantor MUI--bahwa "kami memaafkan umat Islam yang mengganggu kami karena al-Masih dan Nabi Muhammad adalah dua utusan Tuhan yang penuh cinta, pemaaf dan selalu mengasihani.

Penuhilah tembok-tembok media sosial dengan sabda-sabda Isa Almasih yang Anda imani. Tunjukanlah kepada dunia bahwa sekalipun dipandang "sesat", Agama Anda bisa memberi kedamaian untuk negeri yang kita cintai.

Barangkali dengan cara seperti itu mereka akan tersadar. Barangkali dengan cara seperti itu mereka akan malu. Barangkali dengan cara seperti itu hati mereka akan terketuk.

Dan barangkali dengan cara seperti itu mereka akan sadar dengan ajaran Nabi Muhammad Saw yang gagal mereka pahami itu.

Itu tips dari Saya kalau kelak Anda mendapatkan gangguan atau kitab suci Anda "dihina". Siapa tahu dengan cara seperti ini anak-anak SMP yang taat itu bisa naik kelas dan dapat ranking. Siapa tahu

Penulis: Muhammad Nuruddin, Mahasiswa Pascasarjana Fak. Ushuluddin, Dept. Akidah-Filsafat, Unv. Al-Azhar, Kairo, Mesir. Koordinator Hiwar. Penikmat buku-buku Tasawuf dan Filsafat

http://www.suaragaruda.com/2016/12/saran-mahasiswa-al-azhar-mesir-kepada.html

Misteri dibalik slogan Salafi ala Wahabi : "ISLAM ITU TEGAS"

 
Seperti yang sama-sama kita ketahui, bahwa tidak ada satupun riwayat yang menyatakan baik itu dizaman Rasulullah, Sahabat, dan sampai kezaman para Salaf yang mendengungkan slogan "Islam Itu Tegas" Islam itu memang tegas, Islam itu memang tidak bisa ditawar-tawar, bahkan itu semua dapat dilihat dan dibaca dari hal-hal yang terkecil sekalipun didalam syari'at Islam.

Akan-tetapi Rasulullah SAW sendiri, para Sahabat, dan bahkan sampai kegenerasi Salaf sekalipun tidak pernah mendengungkan kata-kata tersebut, bahkan Rasulullah SAW dan para Sahabat memperkenalkan Islam dengan seruan bahwa : "ISLAM ITU ADALAH AGAMA YANG RAHMATAN LIL 'ALAMIN" yaitu Agama yang penuh dengan cinta-kasih dan toleransi, bukan dengan kata-kata / slogan Islam Itu Tegas, walaupun Islam itu adalah Agama yang haqq lagi tegas.

Lalu mengapa Salafi ala Wahabi lebih gemar dengan memilih untuk mendengungkan slogan "ISLAM ITU TEGAS" ???

Nah ini yang perlu digaris-bawahi, ternyata menurut hasil penelitian, bahwa........

1. Dari 100 orang Ustadz / Ulama Wahabi yang dusurvei : ternyata 87 orang dari mrk memiliki jidat yang gosong.

2. Dari 100 orang Ustadz / Ulama Wahabi yang dusurvei : ternyata 93 orang dari mereka memiliki wajah yang sangar plus bringas, dengan lidah yang sedikit menjulur keluar. (sdh memiliki modal lidah untuk mengkafir2kan ummat)

3. Dari 100 orang Ustadz / Ulama Wahabi yang disurvei : ternyata 95 orang dari mereka terlibat organisasi-organisasi Islam garis keras / Terrorist.

Nah sdh jelas bukan,, hal ini tlh membuktikan apa alasan mrk dan mngp Wahabi lebih memilih slogan dgn meneriakkan "ISLAM ITU TEGAS" Ternyata Salafi ala Wahabi adlh kaum yg gemar memelintir Syari'at dgn memperkosa Agama demi utk menutupi kecacatan fisik maupun mental mrk. Dgn tujuan agar lebih leluasa didalam mengkafirkan, membid'ahkan dan menghalalkan darah golongan yg tdk sefaham dgn mereka.

Gambar dibawah adalah sample utk mewakili fakta dr hasil survei diatas, "Ustadz Ja'far Umar Thalib" yg baru2 ini sempat membuat guncang Aswaja Indonesia, yg mana dgn tindakan hina lagi tdk manusiawi nya ia telah menghina dan memaki2 mengkafirkan salah seorang al-Habib, ini semua tlh menunjukkan betapa predikat Ustadz dan Ulama sngt tdk pantas utk dipikul olehnya

budaya islam nusantara sangat bertolak belakang dengan budaya islam arab yang beriklim panas dan gersang,sehingga akhirnya mempengaruhi karakter psikologi mereka yang keras dan mudah terbakar.

Salafi Wahabi 'S The Nex Of Khawearij
nerashuke.blogspot.co.id/

YOUTUBER Indonesia Raih Penghargaan Tombol Perak Dari Pihak youtube

Membuat konten video di YouTube aliasYouTuber mulai dipandang sebagai status pekerjaan. Variabel penentunya adalah jumlah massa yang mengikuti unggahan sangYouTuber atau kerap disebut subscriber.

Semakin banyak subscriber, semakin besar pula kesempatan YouTubermemonetisasi akunnya. Bisa dari iklan di YouTube, bisa juga lewat kerja sama langsung dengan para pemegang merek.

YouTube sebagai platform memotivasi para YouTuber untuk terus berkarya dan menambah subscriber. Salah satunya dengan memberikan penghargaan "Silver Play Button" atau penghargaan berupa tombol "Play" perak, bagi mereka yang berhasil meraup 100.000 subscribers.

Sesuai namanya, bentuk fisik "Silver Play Button" adalah piagam bergambar ikon play YouTube yang terbuat dari perak murni. Piagam itu dilindungi bingkai kaca.

Level berikutnya, YouTuber bakal mendapat penghargaan "Gold Play Button" jika mampu menembus satu juta subscribers. Paling terakhir ada "Diamond Play Button" untuk YouTuber dengan jumlah subscriber mencapai sepuluh juta.

"Penghargaannya benar-benar dari perak asli, emas asli, dan berlian juga asli," kata YouTube Partnership Lead South East Asia, Niken Sasmaya, Kamis (8/9/2016), pada acara pembukaan "YouTube Space Jakarta" di Bintaro Permai, Jakarta Selatan.

Hingga tahun ini, sudah ada 106 YouTuber Indonesia yang punyasubscriber lebih dari 100.000. Angka itu naik hampir tiga kali lipat dari 40 kreator pada 2015 lalu.

Empat YouTubers lokal yang paling terakhir mencapai 100.000subscribers adalah Kastari Sentra, Cindercella, AutonetMagz, dan PokoPow. Keempatnya menyuguhkan konten dari lintas kategori, mulai otomotif hingga kecantikan.

Cindercella mengaku bangga sekaligus termotivasi untuk membuat konten yang lebih banyak dan berkualitas. Meski fokus pada konten kecantikan, perempuan berambut blonde tersebut berencana memberi bumbu pada akun YouTube-nya.

"Mau lebih banyak kolaborasi sama teman-teman YouTubers dan bikin video kegiatan sehari-hari tapi yang menginspirasi," ia menuturkan pada kesempatan yang sama.
Penulis:Fatimah Kartini Bohang

kompas.com

HEBBATT..!!! Anak Indonesia Usia 12 TahunBerhasil Lolos Masuk Universitas di Kanada

 





Saat anak seusianya baru masuk SMP, bocah Indonesia berusia 12 tahun ini sudah kuliah jurusan fisika dan mendapat beasiswa dari universitas di Kanada.

September 2016, Cendikiawan (Diki) Suryaatmadja, mulai kuliah di Universitas Waterloo, Kanada. Diki mengambil jurusan fisika dan akan mengikuti kelas tambahan matematika, kimia, serta ekonomi di kampus bergengsi Kanada itu. Diki tercatat menjadi mahasiswa termuda dalam sejarah yang mendaftar di Universitas Waterloo. Di tahun 2016, usianya baru 12 tahun.

Dilansir dari Inquirer, karena dikenal jenius, selama sekolah Diki kerap mengikuti kelas percepatan dan belajar bahasa Inggris dari menonton film.
Pihak kampus di Kanada mengatakan, usia tidak menjadi persoalan untuk menerima Diki kuliah. Apalagi bocah kelahiran 1 Juli 2004 itu merupakan siswa dengan catatan akademis terbaik yang diterima di Waterloo tahun ini.
Kepada stasiun televisi CBC, Diki berceloteh, ia sangat senang bakal bertemu dengan siswa baru dan berteman dengan mereka. Selama kuliah di Kanada, Diki tinggal di sebuah apartemen dekat kampus. Sang ayah akan menemaninya sambil bekerja. Ia juga tidak sabar main ice-skating pada musim dingin.
Kecintaannya pada bidang fisika sudah terlihat sejak usia 9 tahun. Menurutnya, fisika adalah ilmu yang dapat mengubah dunia, seperti dikutip TheRecord.com.
Diki bercita-cita ingin menerapkan ilmu yang dia miliki untuk pengembangan energi terrbarukan.
Beberapa kali Diki mengikuti olimpiade fisika. Ia pun tercatat sebagai peserta termuda Olimpiade Fisika di Kazakhstan tahun 2016.
Dikutip dari media Radar Cirebon, Diki sudah bisa menulis dan berhitung sejak usia tiga tahun. Bocah ber-IQ 189 itu rajin membaca buku-buku milik kakaknya. Masuk sekolah dasar pada usia 6 tahun, ia ikut kelas percepatan dan kemudian belajar bahasa Inggris sambil studi di Singapura selama setengah tahun. Kembali ke tanah air ia melanjutkan studi di SMA Kesatuan Bogor. Khusus dalam mempelajari fisika ia mendapat pengarahan khusus dari ilmuwan Profesor Yohanes Surya.
Diki bukan satu-satunya yang meraih prestasi akademis di usia dini. Tahun 2016, Universitas Cornell di New York juga menerima bocah usia 12 tahun bernama Jeremy Shuler. Dikutip dari South Cina Morning Post, bocah Amerika bernama Michael Kearney yang lahir tahun 1984, tercatat sebagai lulusan kampus dengan usia delapan tahun di bidang geologi dan 10 tahun di jurusan antropologi. Ia kemudian mendapat gelar doktor di bidang komputer dan kimia. Pada usia remaja, ia sudah mengajar di universitas.
ap/vlz (inquirer/cbc/radarcirebon/scmp)
dw.com