Showing posts with label spiritual. Show all posts
Showing posts with label spiritual. Show all posts

SEJARAH “SURGA”: TAHAPAN PSIKOLOGI SPIRITUAL

"The spiritual journey is individual, highly personal.
It can't be organized or regulated.
It isn't true that everyone should follow one path. Listen to your own truth."
(Ram Dass) 

Surga, kayangan, kerajaan surga, nirvana, dan lain sebagainya adalah istilah yang sudah sangat sering kita  dengar. Umumnya dipahami sebagai kehidupan kekal yang bahagia setelah kematian.  Ada sebagian yang mengatakan surga hanya sebagai  kehidupan membahagiakan transisi sebelum mencapai kebebasan (moksa).

Akan terlalu panjang membahas kosmologi agama-agama. Namun secara sekilas saja perlu diketahui.

Istilah “Surga” berasal dari kata sansekerta “svarga”. Ada istilah “svarga loka”, alam surga, dalam Hindu disebutkan sebagai salah satu dari tujuh alam (loka), mulai dari Bhu loka (prithvi loka), bhuvar loka, svarga loka, mahar loka, jana loka, tapa loka dan yang tertinggi adalah satyaloka (brahma loka). Tingkatan alam ini diilustrasikan dalam gunung Meru, sedangkan dibawah Bhu loka adalah alam rendah yang disebut patala.

Disebutkan Svargaloka dipimpin oleh Dewa Indra, sebagai pemimpin dari 8 dewa lainnya. Ini mirip dengan kosmologi Yunani di mana Dewa Zeus sebagai pemimpinnya. Dalam perkembangannya, terutama setelah bangsa Arya menginvasi India, Dewa lokal India seperti Siwa lebih populer. Bukan hanya itu Trimurti, yaitu dewa Brahma, Wisnu dan Siwa memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding Dewa Indra.

Surga dihuni oleh para Dewa. Istilah sansekerta “deva” yang berarti cahaya, diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi Deus. Dewa, Deva, Deus, dalam bahasa nusantara dulu menjadi Dahyang, Hyang, karena itu ada kata “sembahyang”, artinya memberi penghormatan pada Hyang, Dewa, Dahyang, atau sosok yang luhur.

Terlepas sejarah dari tradisi tertentu, yang jelas, semua itu tentang proses pencarian manusia akan tujuan hidup, yakni kebahagiaan. Kebahagiaan dipersepsikan sangat variatif tergantung pemahaman dan tingkat evolusi spiritualnya. Karena itu dalam judul saya beri tanda kutip “surga”. Mempertanyakan sejarah “surga”, itu seperti mempelajari tahapan perkembangan psikologi spiritual. Dalam tulisan ini saya lebih banyak membahas dari sisi psikologi spiritual, bukan untuk menampilkan tulisan-tulisan yang dogmatis apalagi yang sudah umum dan diajarkan dalam ajaran agama yang sudah demikian formal.

LEGENDA SEBAGAI SASTRA
Sudah menjadi pengetahuan umum, ketika suatu bangsa, peradaban berkembang, dalam seni budaya, maka pendidikan meningkat. Zaman dahulu pendidikan itu melekat dengan pitutur, yang dikemas dalam kisah, dalam narasi karena selain menghibur juga memberikan arti akan nilai hidup. Sastra adalah penyajian pengetahuan dan bentuk seni yang menandai berkembangnya suatu peradaban adalah seni kriya, patung, dan aritektur. Makna-makna kehidupan, kekuatan alam, dipersonifikaikan, disimbolkan dalam sosok, ikon, ini adalah dewa-dewi. Tanpa ada ikon yang dijadikan sebagai kebangkitan sastra maka kebudayaan tidak akan bertahan lama. Jadi suatu ikon atau simbol itu bukan sekedar untuk obyek pemujaan, tapi memiliki makna universal yang mendalam dibalik itu semua.

INSIDE VS OUTSIDE
Konsekuensi dari penyampaian lewat narasi atau legenda adalah segala sesuatunya diwujudkan dalam bentuk. Dan bentuk itu selalu outside.

Surga yang digambarkan bertingkat-tingkat hingga pada lapisan yang tertinggi, itu bukan tentang outside tapi inside. Sama halnya kisah Parwati yang berusaha bersatu dalam setiap kehidupan untuk bertemu Siwa. Itu menarik dan bisa menjadi kisah drama, bahkan mungkin romantisme yang melibatkan kesetiaan. Namun makna sejatinya adalah penyatuan energi dengan kesadaran. Parwati sebagai shakti adalah energi, dan Siwa adalah kesadaran (consciouness).  Tidak mudah memahami ajaran esoteris seperti ini. Walaupun aspek esoterisnya belum dipahami, orang juga “hafal” tentang kisah narasi antara Parwati dan Siwa. Ini baru satu contoh tentang kisah Siwa Mahadewa, masih banyak kisah lainnya.

TIGA TAHAPAN
Seperti yang sudah disinggung bahwa tujuan manusia bisa diringkas dalam satukata yaitu kebahagiaan. Masalahnya kebahagiaan itu dipahami berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahamannya.
Tahapan motivasi atau kebutuhan psikologis manusia, itu semuanya adalah tentang kebahagiaan, tapi kebahagiaan dengan bentuk kebutuhan yang berbeda. Setidaknya ada tiga tingkatan, tanpa bermaksud meniru teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow. Ini bentuk penyederhanaan saja, yang mungkin masih jauh dari sistematika yang rapi.

Tahap awal, atau pertama, adalah kebutuhan fisik.
Manusia ingin hidup bisa cukup makan, minum dan punya tempat tinggal. Bisa memenuhi kebutuhan hidup, itu adalah bahagia. Ini tahap kebutuhan yang sangat mendasar. “Surga” bagi mereka adalah yang bisa hidup enak. Apa-apa serba kecukupan. Dalam sejarah dunia, banyak contoh ikon atau dewa sebagai lambang kesuburan.

Tahap kedua adalah kebutuhan rasa aman.
Manusia butuh rasa nyaman. Tidak ada bencana, tidak ada peperangan, yang pada gilirannya membuat kebutuhan fisik menjadi terhalang. “Surga” bagi mereka adalah rasa aman, keadaan yang serba teratur, tidak ada bencana alam, maupun bencana peperangan. Dalam sejarah dunia, banyak contoh ikon atau dewa sebagai lambang keamanan. Dewa perang. Dewa gunung. Dewa Laut. Intinya adalah sosok yang mewakili kekuatan alam.

Tahap ketiga adalah kebutuhan mengolah rasa.
Tahap satu dan dua adalah kebutuhan sandaran psikologis. Butuh sosok untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Tahap ketiga adalah tahap ketika sudah sadar bahwa kebahagiaan itu bukan dari luar tapi dari dalam. Pada akhirnya, mesti mandiri, mesti mawas diri, dan tahu tentang cara kerja alam, dan itu membawanya pada pencerahan.

SANDARAN PSIKOLOGIS VS OLAH RASA
Motivasi sandaran psikologis lebih mengutamakan berkah dari luar. “Surga” itu adalah tercapainya keinginan. Berbeda dengan motivasi akan olah rasa. Mereka sudah paham bahwa kebahagiaan itu ketika bathin dalam keadaan harmonis, tiada konflik, dan hal ini justru didapat ketika “melepas”, bukan “mencapai”.

Mereka yang masih Sandaran Psikologis belum bisa memahami bahwa keserakahan itu penderitaan. Bisa mencapai ini dan itu, bahkan melekatinya, bagi mereka justru kebahagiaan. Bahkan tanpa disadari, pada waktu mereka  membenci dan membalas orang lain itu adalah kebahagiaan.

Sedangkan mereka yang sudah tahap olah rasa, mereka menyadari bahwa kemelekatan itu penderitaan. Ketika dilepas, maka lebih lega. Lego ing nyowo (legowo), ada kesegaran dalam bathinnya, ada kedamaian, dan itu jika dikembangkan, diolah lebih lanjut, itulah kebahagiaan sejati.

Mereka yang Sandaran Psikologis mengukur kebahagiaan dari meningkatnya kemelekatan.  Karena itu mereka akan rame ing pamrih, dan kalo perlu selalu sepi ing gawe. Mereka yang mengolah rasa justru mengukur kebahagiaan dari pelepasannya terhadap kemelekatan. Sepi ing pamrih itu membawa ketentraman hati. Sepi ing pamrih lan rame ing gawe. Dari sini saja sudah nampak cara berdoanya. Orang yang Sandaran Psikologis berdoa banyak minta tapi tidak banyak berbuat. Apa-apa disandarkan pada mukzizat. Berbeda dengan cara berdoa orang yang mengolah rasa. Mereka lebih suka berdiam diri, menikmati keheningan untuk melepas pamrih. Karena tahu bahwa mukzizat sejati adalah hidup berkesadaran, eling lan waspodo. Sak bejo-bejo ne wong urip, isih bejo wong tansah eling lan waspodo. Seandainya ada keinginan, itu lebih pd afirmasi diri untuk mengatur diri lebih baik, lebih bisa berdamai dengan keadaaan ‘apa adanya’.

Secara singkat, untuk meringkasnya. Mereka yang Sandaran Psikologis selalu outside, sedangkan mereka yang mengolah rasa selalu inside. Dari sudut pandang inside dan outside saja, kita bisa melakukan analisis yang mendalam.

BENARKAH SURGA ITU HEDONIS?
Ada suatu kisah, seseorang yang ingin mencicipi surga. Karena surga baginya adalah hidup yang serba enak. Apa-apa tersedia. Bahkan baru berpikir saja, apa yang diinginkan bisa muncul tiba-tiba didepan mata.

Mulailah orang ini berada di surga untuk pertama kalinya. Dia disulap dan pindah ke surga yang paling VIP. Baru di surga, dia berpikir “ingin makan enak”. Lalu, cling tiba-tiba ada Kepiting Saus Tiram terenak di dunia. Baru makan sebentar belum habis, sudah bosan. Berpikir “ingin menu masakan Barat”.  Cling, muncul Steak Tenderloin yang nikmat.  Sudah kenyang, perut jadi gak enak. Lalu, ingin perutnya enak. Cling, dikosongin lagi lambungnya. Lalu, ingin makan ini dan itu, dst. Bosan koq makan melulu, lalu ingin ganti aktivitas. “Ingin naik mobil balap”. Cling tiba-tiba di arena balap dengan menaiki mobil balap yang canggih. Dan aktivitas berlanjut dari satu aktivitas ke aktvitas lainnya.

Jika hidup dari satu kesenangan ke kesenangan lain, maka ada ketegangan di situ. Diakhir kisahpun, orang yang dulunya ingin mencicipi surga ini akhirnya memilih tidak mau hidup di surga dan sadar bahwa mengolah bathin itu lebih baik dan dia menjadi pertapa. Ini kisah yang benar-benar happy ending.

Surga hedonis yang digambarkan segala keinginan bisa tercapai, itu lebih merupakan upaya pelipur lara bagi manusia yang belum siap untuk mengolah bathin. Tahap kebutuhan mengolah rasa tidak bisa dipaksa tapi harus muncul dalam keadaran dirinya sendiri. Itulah mengapa orang yang rajin beribadah dan hafal pelajaran agama, perilakunya tetap liar. Walau liar namun masih mending karena dia takut oleh dogma-dogma agama. Liar namun tidak kebablasan. Namun beragama yang fanatik bisa menjadi kebablasan dan dia tidak sadar sudah hidup tidak damai. Dan hidup tidak damai berarti hidupnya menderita.

Dalam setiap agama di dunia, iming-iming surga hedonis itu ada. Mengapa? Jelas, itu hanya ajaran untuk membujuk orang yang belum siap pada tahap mengolah rasa.

SURGA BATHIN=NIRVANA=MOKSA
Orang yang mengolah rasa akan paham bahwa kebahagiaan itu dari dalam, bukan dari luar. Surga itu bathin. Untuk membedakan istilah surga yang umum dan populer, kadang disebut sebagai nirvana, atau kosmologi lain yang diatas surga, sesuai dengan simbol budaya setempat. Seperti dalam tradisi India, Moksa diletakkan sebagai tujuan yang lebih tinggi dari surga. Jika masih ingin memakai “surga” untuk mewakili tujuan yang lebih tinggi, sebut saja “Surga Bathin”.

Yesus pernah berkata “Kerajaan Surga ada diantara kalian.”

Ini jelas bukan “Surga Luar”, tapi “Surga Bathin”. Jika bathinnya tidak pernah dibenahi, tidak pernah belajar mengolah rasa, maka hidup dimanapun akan menjadi “neraka”. Always unhappy.

Beberapa tradisi tidak menggunakan istilah “Surga”, tapi menggantinya dengan “Tuhan”.
Rasul Paulus mengatakan “Tuhan itu kasih”.
Ketika orang mengolah rasa dan memasuki dimensi yang disebut manunggaling kawula gusti atau unio mytica, maka merasakan eksitensi Tuhan dalam cinta kasih. Inilah olah rasa. Mengolah rasa bukanlah mengolah kesaktian, tapi mengolah bathin agar damai dan bahagia dari dalam.

Beberapa tradisi lainnya, menyebutnya “moksa”. Bebas dari penderitaan, bebas dari semua nafsu keinginan. Ini puncak dari sepi pamrih, yang tersisa adalah kebahagiaan/kedamaian yang tak tergoyahkan. Dalam Buddhisme, disebut “nirvana”, yang scr hurufiah berarti tidak terbebankan, alias bebas dari siklus penderitaan atau samsara.


SIKLUS SAMSARA
 Orang yang mengolah rasa adalah orang yang mulai sadar telah berputar-putar pada lingkaran penderitaan yang sama. Semakin menggenggam, mengejar dan melekat, semakin menderita. Lalu mulailah sadar untuk berlatih melepas. Kedamaian dan kebijaksanaannya mulai tumbuh.

Siklus samsara juga punya versi sastranya. Dikatakan samsara itu roda penderitaan, lingkaran kelahiran kembali yang sangat lama dan berulang-ulang. Secara psikologis, samsara adalah Siklus penderitaan.  Siklus ini akan mulai melambat bahkan berhenti/terputus, dan itu mesti diawali dengan mawas diri, belajar tentang kehidupan (kawruh), dan mesti melatihnya melalui kesadaran (eling).

Eling lan waspodo, menyadari dan jeli dalam mengamati pikiran. Maksudnya mengenali kecenderungan diri yang mudah terprovokasi pada benci dan serakah. Dengan eling, maka reaksi simultan melambat. Seandainya masih ada penderitaan, maka penderitaan itu tidak akan terakumulasi begitu hebatnya sehingga akhirnya membuat diri keteteran sendiri.

Seperti halnya mengangkat gelas yang ringan pada satu lengan. 5 menit mengangka gelas, masih bisa. Tapibagaimana jika mengangkat gelas selama 1 jam, 1 hari, 1 minggu, dst, tentu melelahkan bukan? Dalam bertindak dan bebuat, kita tegang dan ngotot, dan lupa melepas. Melepas kemelekatan, melepas pamrih, lilo lan legowo adalah seni memberdayakan diri untuk melepas. Fase kelegaan yang semakin terasa, maka orang akan memiliki hidup yang tenteram. Seni mengolah rasa bekerja dengan seperti ini dan mesti diawali dengan eling.

"Science without religion is lame. Religion without science is blind."
(Albert Einstein)

PILIH SURGA YANG MANA?
Agama adalah ajaran yang dikemas pada khayalak yang luas. Jika dikonsumi oleh orang yang bathinnya siap, maka agama akan memberikan kedamaian. Coba saja lakukan analisa dan interpretasi yang bijak tentang ajaran agama, legenda, dan mitosnya! Selalu ada nilai universal yang bagus dan sangat membantu mengembangkan bathin. Hanya saja selama ini, kemunduran ajaran agama hanya memperhatikan ajaran mitologis-dogmatis pada aspek outside, akibatnya hanya berhenti pada seputar keyakinan semata, bahkan lebih ekstrim tentang surga dan neraka di hari besok, tanpa dipersenjatai ilmu tentang /untuk hidup “saat ini” dengan baik dan bahagia dalam arti sesungguhnya.

Khayalak luas meliputi tiga tahap yang saya sebutkan sebelumnya. Agama menyajikan “surga” sesuai dengan kebutuhan umatnya.

Saya belakangan baru mengerti mengapa kata “agama” berasal dari kata “ageman”,  yang artinya pakaian/baju. Kita terlalu banyak memakai baju yang indah-indah bahkan sangat mewah tapi tidak tahu tujuan memakai baju. Benarkah demikian?alexanderliem

Sembilan Ajaran Siti Jenar Yang Paling Ditakuti Dewan Wali Dan Politikus Saat Itu Sampai Saat Sekarang Ini

berbagai macam cara dilakukan untuk menggerus eksitensi siti jenar, dari fitnah-fitnah yang mengatas namakan agama sampai fitnah-fitnah atas tuduhan akan memberontak...
yang ujung-ujungnya kaum politikus takut kalau-kalau kekuasaanya akan lengser dan kehilangan masa pendukungnya.

  1. Tidak mengabsolutkan pendapat.
Pendapat boleh diperdebatkan, akan tetapi pendapat tidak untuk melindas pendapat orang lain. Munculnya berbagai mazhab dalam berbagai agama di dunia membuktikan bahwa ajaran agama pasca pendirinya sebenarnya merupakan pendapat yang dikembangkan dari ajaran asal agama itu. Jadi, kebenaran pendapat adalah kebenaran yang dibangun atas akseptabilitas masyarakat atau komunitas tempat pendapat itu berkembang. 
baca juga:[Sabdo Palon Akan Segera Datang Kembali , Subakir Telah Menghianati Janjinya]
  1. Menjadi manusia hakiki, yaitu manusia yang merupakan perwujudan dari hak, kemandirian, dan kodrat.
a.  Hak
Kebanyakan kita berpendapat bahwa kita harus mendahulukan kewajiban daripada hak. Perhatikanlah para pejabat kita selalu menuntut rakyat untuk menjalankan kewajibannya dulu sebelum mendapatkan haknya. Warga dituntut membayar pajak, mematuhi undang-undang dan peraturan yang ditentukan oleh para elite politik, dan melaksanakan berbagai macam kepatuhan. Menurut Syekh Siti Jenar, harus ada hak hidup lebih dulu. Inilah kebenaran! Tak ada kewajiban apa pun yang bisa diberikan kepada seorang bayi yang baru dilahirkan. Oleh karena itu, begitu seorang bayi manusia dilahirkan semua hak-haknya sebagai manusia harus dipenuhi terlebih dahulu.
Tidak peduli ia dilahirkan di keluarga kaya atau miskin, hak memperoleh pengasuhan, perawatan, penjagaan, perlindungan, dan mendapatkan pendidikan harus dipenuhi. Hak-hak tersebut dipenuhi agar ia menjadi manusia yang dapat menjalankan kewajibannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan cara itu akhirnya ia menjadi manusia hakiki, manusia sebenarnya yang dapat berkiprah dalam kehidupan nyata, baik sebagai pribadi maupun warga sebuah negara. Salah satu unsur untuk menjadi manusia yang hidup merdeka terpenuhi.

b.  Kemandirian
Pemenuhan hak dan kewajiban barulah tahap awal untuk menjadi manusia hakiki. Tahap berikutnya adalah mendidik, mengajar, dan melatihnya agar bisa menjadi manusia yang hidup mandiri. Ia harus diarahkan agar mampu hidup yang tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian, kehidupan mandiri akan tercapai bila terjadi kesalingtergantungan antar anggota masyarakat dan sekaligus kemerdekaan (interdependence and independence) .
Perhatikanlah keadaan ekonomi masyarakat Indonesia sekarang ini. Kita amat sangat tergantung pada bantuan atau hutang luar negeri. Negara yang dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa ini justru dihisap oleh negara-negara maju di dunia ini. Setiap bayi yang dilahirkan yang seharusnya merupakan aset negara, ternyata tumbuh menjadi manusia-manusia pencari kerja dan bahkan menjadi beban negara. Hal ini disebabkan terjadinya manusia-manusia yang tergantung pada orang lain. Hubungan yang terjadi adalah hubungan orang-orang lemah dengan orang-orang kuat. Yang lemah merasa sangat memerlukan yang kuat, sedangkan yang kuat berbuat tidak semena-mena terhadap mereka yang lemah.
Akibat dari keadaan tersebut tambah tahun pengangguran akan semakin bertambah besar. Yang menjadi gantungan relatif tetap, sedangkan yang menggatungkan diri bertambah banyak. Terjadi relasi yang tidak seimbang, sehingga kehidupan masyarakat menjadi rawan.
c.  Kodrat
Inilah unsur berikutnya yang menopang asas hak dan kemandirian dalam kehidupan masyarakat. Kodrat pada manusia merupakan kuasa pribadi. Kodrat tidak didapat dari luar diri. Dengan demikian kodrat tidak berasal dari pelatihan dan pendididikan. Tetapi kodrat harus diberikan ruang yang kondusif agar suatu bentuk kemampuan khusus yang dianugerahkan pada setiap orang bisa terwujud. Dalam hal ini, pelatihan akan meningkatkan kualitas kodrat yang dimiliki seseorang.
Dalam psikologi kodrat dapat dikatakan hampir sama dengan talenta. Bila seseorang tidak diberikan kesempatan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya, maka kodratnya kemungkinan besar tak akan terwujud. Padahal, kodrat yang ada pada diri seseorang itulah yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya. Bila setiap orang bisa mewujudkan kodratnya, maka akan terwujud hubungan yang saling memberikan dan sekaligus saling membutuhkan. Setiap orang akan memiliki nilai tawar bagi orang lain.
Harmonisasi dan ikatan antar warga negara akan menguat bila sebagian besar penduduknya bisa mewujudkan ketiga unsur manusia hakiki tersebut. Keragaman masyarakat pun kecil dan kesenjangan ekonomi dapat dinihilkan. Akhirnya jati diri manusia akan muncul dengan sendirinya, dan kita akan menjadi bangsa yang kokoh dan tidak mudah diprovokasi.
baca juga:[Mbah Fanani 19 Tahun Bertapa di Dieng, Berikut Kelinuwihan Daya Batin dan Kemisteriusanya][Nama Nabi Muhammad.SAW Tercatat Dalam Kitb Suci Agama Hindu]
  1. Hubungan antara satu orang dengan orang lain merupakan hubungan kodrat dan iradat.
Hubungan satu orang dengan orang lain bagaikan hubungan kerja dalam satu tim, sehinga tidak terjadi hubungan posisi yang memerintah dan yang diperintah. Tak ada hubungan kekuasaan. Antara manusia yang satu dengan yang lain terikat oleh kodrat dan iradatnya, sehingga seperti hubungan sel yang yang satu dengan sel lainnya dalam satu tubuh, dan hubungan organ yang satu dengan organ lainnya dalam satu tubuh.
Kalau kita amati cara kerja organ-organ dalam tubuh manusia, maka kita akan ketahui bahwa masing-masing organ –seperti otak,penglihatan, penciuman, pendengaran, paru-paru, jantung, hati, ginjal, usus, dan lain-lain– akan bekerja sama, dan masing-masing menjalankan peranannya. Seharusnya kehidupan masyarakat manusia juga demikian. Dengan mewujudkan masyarakat yang berupa kumpulan manusia-manusia hakiki, masing-masing orang atau kelompok menjalankan fungsinya dengan benar, maka akan terbentuk kehidupan yang sehat dan tidak terjadi penghisapan antara orang yang satu terhadap orang lainnya. Inilah kehidupan dunia yang didambakan oleh Syekh Siti Jenar, yang justru sekarang tumbuh dan berkembang di negara maju. 
  1. Segala sesuatu di alam semesta ini adalah satu dan hidup.
Dalam salah satu pupuhnya disebutkan bahwa bumi, angkasa, samudra, gunung dan seisinya, semua yang tumbuh di dunia, angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan rembulan, semuanya merupakan keadaan hidup. Jadi, semua yang ada merupakan wujud kehidupan.
Menurut Syekh Siti Jenar yang dinamakan makhluk hidup adalah kehidupan yang terperangkap dalam alam kematian. Zat mati tak akan dapat menimbulkan kehidupan, sedangkan zat hidup tak akan tersentuh kematian. Tuhan disebut zat yang mahahidup karena Dia eksis karena Diri-Nya sendiri. Kekuatan hidup-Nya mengalir dalam alam kematian sehingga muncul sebagai makhluk hidup. Sekarang bandingkan dengan tulisan-tulisan dari Barat dewasa ini, akan kita temukan pernyataan mereka bahwa semuanya satu, semuanya hidup. Dengan demikian, pandangan Syekh Siti Jenar luar biasa. Banyak pandangannya yang justru bersesuaian dengan pandangan kaum teosofi maupun para spiritualis dari Barat.
Bila kita menyadari bahwa lingkungan kita adalah keadaan yang hidup, maka tentu kita akan memperlakukan lingkungan kita dengan sebaik-baiknya karena kita dan lingkungan kita sebenarnya satu dan sama-sama sebagai keadaan yang hidup. Bila kita menyadari tentu kita akan berhati-hati dalam memperlakukan lingkungan kita. 
  1. Pemahaman tentang ilmu sejati.
Dikisahkan dalam Serat Siti Jenar yang ditulis oleh Aryawijaya: Sejati jatining ngèlmu, lungguhé cipta pribadi, pustining pangèstinira, gineleng dadya sawiji, wijanging ngèlmu dyatmika, nèng kahanan eneng ening. Hakikat ilmu sejati itu terletak pada cipta pribadi, maksud dan tujuannya disatukan adanya, lahirnya ilmu unggul dalam keadaan sunyi dan jernih.
Menurut Syekh Siti Jenar manusia haruslah kreatif karena manusia telah diberi anugerah oleh Yang Mahakuasa untuk dapat mengaktualisasikan ilmunya yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Jadi, ilmu sejati bukanlah ilmu yang kita terima dari orang lain. Yang kita dapatkan melalui indra, pengajaran dari orang lain, itu hanyalah refleksi ilmu. Dan, ternyata sejak abad ke-20 pemahaman bahwa ilmu lahir dari kedalaman batin telah menjadi pemahaman yang universal. Itulah sebabnya orang-orang Barat tekun dalam melakukan perenungan dan pengkajian terhadap tanda-tanda di alam semesta.
Jadi, harus ada suasana kondusif bagi orang-orang yang mendalami ilmu pengetahuan. Suasana kondusif bagi ilmuwan adalah iklim kerja yang membuat ilmuwan tersebut dapat bekerja dengan tenang, nyaman, dan bebas dari berbagai penyebab kekalutan dan kesulitan. Dan, tentunya hak-hak untuk dapat menjadi ilmuwan sejati haruslah dipenuhi. Ingat, setiap orang telah diberi potensi dan talenta yang disebut kodrat. Dan, bagi mereka yang memiliki kodrat untuk menjadi ilmuwan harus disediakan iklim kerja yang kondusif sehingga bisa menghasilkan hal-hal yang dibutuhkan manusia. 
  1. Umumnya orang hidup saling membohongi.
Banyak hal yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu, tapi kita menyampaikannya juga kepada teman-teman kita. Hal ini banyak sekali terjadi dalam ajaran agama. Banyak orang yang sekadar hafal dalil, tetapi sebenarnya dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh dalil itu. Akhirnya pemahaman yang keliru itu menyebar dan terbentuklah opini yang salah.
Masyarakat yang dipenuhi dengan pemahaman dan opini yang salah sama dengan masyarakat yang dipenuhi sampah. Masyarakat demikian pasti rawan terhadap serangan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat harus dibebaskan dari berbagai macam kebohongan. Masyarakat harus diajar dan dididik untuk memahami segala sesuatu seperti apa adanya.
Agar tidak hidup saling membohongi manusia harus kembali mengenal dirinya. Setiap orang harus dididik untuk menyadari perannya dalam hidup ini. Para cerdik cendekia harus mengerti fungsinya di dunia. Orang harus diajar untuk bisa mengerti dunia ini sebagaimana adanya. Agama harus diajarkan sebagai jalan hidup dan bukan alat untuk meraih kekuasaan. Oleh karena itu, keimanan harus diajarkan dengan benar dan bukan sekadar diajarkan sebagai kepercayaan. Iman harus diajarkan sebagai penghayatan, pengalaman, dan pengamalan kebenaran.
Ayat-ayat kitab suci harus dipahamiberdasarkan kenyataan, dan tidak diindoktrinasikan serta diajarkan secara harfiah sesuai dengan asal kitab suci tersebut. Agama harus diajarkan secara arif dan bisa dibumikan, tidak terus menggantung di langit. Agama harus diterjemahkan dalam bentuk yang dapat dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat penerimanya. 
  1. Nama Tuhan diberikan oleh manusia.
Lima ratus tahun yang lalu Syekh telah menyatakan dengan tegas bahwa manusialah yang memberikan nama pada Tuhan. Oleh karena itu, nama bagi Tuhan bermacam-macam sesuai dengan bahasa dan bangsa yang menamai-Nya. Dan, perlu diketahui bahwa Tuhan sendiri sebenarnya tidak perlu nama, karena Dia hanya satu adanya. Sesuatu diberi nama karena untuk membedakan dengan sesuatu lainnya. Nama diberikan agar kita tidak keliru tunjuk atau salah sebut.
Bagi Syekh Siti Jenar, apapun sebutan yang diberikan kepada-Nya haruslah sebutan yang terpuji, yang baik, yang pantas. Bahkan dalam Alquran dinyatakan dengan tegas pada Q. 7:180 bahwa manusia diperintah untuk memohon kepada-Nya dengan nama-nama baik-Nya, atau al-asmâ-u l-husnâ. Dan, pada Q.17:110 dinyatakan bahwa Dia dapat diseru dengan nama Allah, Ar Rahman, atau dengan nama-nama baik-Nya yang lain.
Sungguh, sangat mengherankan bila di zaman sekarang ini kita berebut nama Tuhan. Secara teoritis umat Islam dididik untuk meyakini bahwa Tuhan itu Yang Maha Esa. Tetapi, dalam kenyataannya sebagian orang Islam –seperti yang terjadi di Malaysia – malah meminta orang yang beragama lain untuk tidak menggunakan lafal Allah bagi sebutan Tuhan pada agama lain tersebut. Inilah pemahaman yang salah! Kalau kita –yang Muslim— menolak pemeluk agama lain menyebut Allah bagi Tuhannya, maka secara tak sadar kita mengakui bahwa Tuhan itu lebih dari satu.
Sudah waktunya kita ajarkan ketuhanan dengan benar sehingga kita tidak berebut tulang tanpa isi. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa mengamalkan nilai-nilai ketuhanan dengan benar itulah yang amat penting dalam hidup ini. Bagi orang Indonesia , menghayati dan mengamalkan nilai-nilai ketuhanan dengan benar merupakan penegakan Sila yang pertama.
  1. Raja agama sesungguhnya raja penipu.
Sebagaimana telah diterangkan bahwa agama adalah jalan hidup. Oleh karena itu, agama harus diajarkan untuk menjadi jalan hidup, sehingga pemeluk agama bisa hidup tenang, bahagia dan bersemangat dalam menjalani hidup. Agama harus diajarkan untuk menjadi landasan moral dan perilaku, sehingga agama benar-benar sebagai nilai luhur dan menjadi rahmat bagi semesta alam.
Syekh tidak ingin membohongi masyarakat Jawa, oleh karena itu agama islam diajarkan dengan cara yang pas bagi bumi dan manusia Jawa. Untuk hal itu diperlukan penafsiran, dan tidak disebarkan dalam bentuk budaya asalnya. Agama tidak disebarkan dengan kekuasaan raja, sebab menurut Syekh raja yang memanfaatkan agama adalah raja penipu. Sering terjadi bahwa untuk memenuhi kepentingan penguasa, agama dijadikan alat menguasai rakyat. Agama yang seharusnya dikuasai oleh rakyat, yang terjadi justru sebaliknya yaitu rakyat yang dikuasai oleh agama.
Jika di Eropa pada abad ke-19 orang-orang mulai mempertanyakan peranan agama, dan bahkan ada yang memandang bahwa agama sebagai candu bagi masyarakat dan harus disingkirkan dari gelanggang kehidupan bernegara, maka empat ratus tahun sebelumnya Syekh Siti Jenar justru ingin menerapkan agama sebagai penyegar dan pencerah bagi pemeluknya. Oleh karena itu, agama diajarkan tanpa melibatkan kekuasaan negara. Di sinilah Syekh bertabrakan dengan kepentingan Walisanga.
Syekh amat sadar bahwa di dunia ini penuh dengan tipu daya. Hampir di semua negara pada waktu itu terjadi relasi keuasaan antara raja/penguasa dengan para tokoh agama. Dengan kata lain, raja dan tokoh agama berbagi kekuasaan. Yang dikuasai dan yang dijadikan pijakan hidup oleh raja dan tokoh agama adalah rakyat. Inilah yang oleh Syekh disebut sebagai penipuan. Oleh karena itu, sudah waktunya agar agama benar-benar menjadi milik masyarakat, dan negara tidak mengurusi agama. Yang diurusi oleh negara adalah tegaknya hukum positif, perlindungan bagi setiap orang tanpa memandang agama dan kepercayaannya. Yang diurusi oleh negara adalah kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
  1. Segala sesuatu di alam semesta adalah Wajah-Nya.  
Inilah ajaran puncak dari Syekh Siti Jenar. Dunia adalah manifestasi wujud yang satu, dan hakikat keberadaan bukanlah dualitas. Sehingga, kemana pun kita hadapkan diri kita, maka sesungguhnya kita senantiasa menghadap Wajah-Nya. Semua adalah penampakan Wajah-Nya. Sekarang marilah kita cicipi dua bait puisi dari Syekh Siti Jenar.
Bersanggama dalam keberadaan
diliputi yang ilahi
hilanglah kehambaannya
lebur lenyap sirna lelap
digantikan keberadaan Ilahi
kehidupannya
adalah hidup Ilahi
Lahir batin keberadaan sukma
yang disembah Gusti
Gusti yang menyembah
sendiri menyembah-disembah
memuji-dipuji sendiri
timbal balik

dalam hidup ini

bacajuga:[Rahasia di Balik Lapindo,Tersirat Prediksi Brawijiyo-Kalijogo-Noyogenggong Sebagai Awal Kebangkitan Ajaran Nusantara]

Jadi, pada puncak perenungan dan keheningan diri terjadilah penegasian eksistensi diri yang terkurung raga. Ditegaskan bahwa kehambaan telah lenyap, sudah hilang. Bila kehambaan masih tetap eksis maka di alam semesta ini masih berada dalam keadaan dualitas. Keadaan inilah yang menyebabkan orang terpisah dengan Tuhannya, meskipun secara konseptual diketahui bahwa Sang Pencipta lebih dekat daripada urat lehernya. Akan tetapi, selama keadaan dualitas belum sirna maka secara faktual Tuhan masih jauh daripada urat lehernya, karena Tuhan dianggap berada di luar dirinya.
Ada dualitas artinya kita mengakui ada dua keberadaan, yaitu ada yang inferior (keberadaan yang kualitasnya lebih rendah) dan ada yang superior (keberadaan yang kualitasnya lebih tinggi). Jika demikian, kedua jenis keberadaan itu tumbuh melalui proses. Semua yang tumbuh melaui suatu proses, bukanlah keberadaan yang kekal. Dan, bilamana tiada keberadaan yang kekal, maka tak mungkin ada fenomena atau penampakan di alam semesta.
Kita hidup di dunia ini karena kita kanggonan (didiami) urip (hidup) yang diberikan oleh Tuhan. Namun, badan jasmani ini hanyalah fenomena yang terikat oleh ruang, waktu, situasi psikologis. Hakikatnya badan jasmani ini tidak ada karena badan jasmani ini seperti gambar yang menumpang di layar perak atau layar kaca. Kalau layar digulung atau dimatikan ya lenyaplah fenomena tersebut. Jadi, memang benar bahwa dunia ini panggung sandiwara, dan kita adalah pemain-pemain sandiwara. Oleh karena itu, kita harus dapat memainkan peran kita masing dengan baik.
Lalu, apa sasaran utama pelenyapan dualitas?
Sasaran pokoknya adalah menumbuhkan kesadaran akan ke-Satu-an, Oneness, dalam kehidupan ini, baik kehidupan kita sebagai individu maupun secara kolektif. Dengan lenyapnya perasaan dualitas dalam hidup ini, maka jarak antara kawula dan Gusti akan hilang. Akan lahir individu-individu yang menjadi dirinya sendiri, dan dalam kehidupan sosial akan tercipta interaksi antar warganya secara tim, sehingga semua akan memenuhi fungsinya masing-masing dalam kehidupan. Sekat antara pemimpin dan yang dipimpin akan hilang, dinding penyekat antara raja dan rakyatnya akan runtuh. Bila ini sudah terjadi, maka tak akan ada lagi eksploitasi terhadap sesama manusia.
Pelenyapan sekat antara kawula (hamba, rakyat, atau bawahan) dan Gusti (raja, pemimpin, atau atasan) akan melahirkan satu keberadaan yang disebut Manunggaling Kawula Gusti (MKG). Keberadaan MKG ini akan menggugurkan kehidupan yang berkasta dan merontokkan feodalisme. Relasi sesama manusia berupa simbiose mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan. Sesama manusia hidup dalam suasana liberte, egalite dan fraternite, yaitu hidup dalam kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan antara sesama manusia di dunia ini. Dari sinilah Syekh membangun hubungan warga dengan wadah yang disebut masyarakat, yang tidak dijumpai di Timur Tengah pada waktu itu.
Memang masyarakat merupakan kosa kata yang dibentuk dari unsur-unsur kata Arab, yaitu dari syarika yang artinya menjadi sekutu; dan masyarakat adalah kumpulan orang-orang yang bersekutu. Jadi, setiap anggota masyarakat itu seperti sel-sel tubuh yang independen, namun selalu berinteraksi sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Setiap anggota masyarakat mengetahui tugasnya. Terciptalah jalinan kasih. Inilah surga yang sesungguhnya yang harus diwujudkan di dunia ini. Dengan demikian, konsep MKG sebenarnya untuk menciptakan kehidupan bersama dalam mencapai kejayaan!
Jakarta, 21 Mei 2009 Kediaman Bpk. Achmad Chodjim, materi ini juga di sampaikan di Hotel Indonesia Kempinski-Grand Indonesia, 19 Mei 2009
*) Ir. Achmad Chodjim MM, adalah penulis buku “Syekh Siti jenar: Makna Kematian (jilid 1)”, “Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan (jilid 2)” dan “Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga”.sujatmoko

Agama Diciptakan Untuk Memperbaiki Ahlak Manusia, Bukan Untuk Memblok Dan Saling Membenturkan

Saat teman muslim bertanya kepada saya, "Sampeyan itu agamanya apa sih?"
Saya jawab, "Sama seperti sampeyan.."

Lalu datang teman saya yang Nasrani, "Loe itu Kristen khan?"
Saya jawab, "Benar sekali.."

Sejurus kemudian datanglah teman-teman saya dari Budha, Hindu, Khonghucu dan aliran kepercayaan lainnya sambil berkata "Bukankah sampeyan dulu bilang sampeyan itu agama Budha, Hindu, Khonghucu lah terus yang benar agama sampeyan yang mana?"

Saya jawab, "Semuanya benar.."
Mereka semakin bingung, kok bisa gitu di campur adukkan?"

Saya jawab lagi..
"Adakah dari saudara semua dengan yakin dan pasti Tuhan semesta alam ini agamanya apa?"
Jika di setiap agama dan aliran kepercayaan meyakini bahwaTuhan semesta alam ini selalu mengajarkan kasih sayang dan berbuat baik lalu kenapa saya mesti memilih salah satu dari agama sampeyan?"

"Bukankah jika saya memilih langsung Tuhan semesta alam sama dengan sudah menjadi umat agama-agama yang sampeyan anut sekarang?"

Bukankah tujuan agama salah satunya agar umat manusia itu mengenal siapa Tuhannya?"

Lalu jika saya sudah mengenal siapa itu Tuhan dan bagaimana itu Tuhan sang Maha Pengasih dan Penyayang untuk apa lagi saya memakai baju agama?"

Sama dengan saudara pergi ke rumah teman saudara, jika sudah sampai ke rumah temanmu dan bertemu dengan temanmu tak perlu motormu juga ikut masuk ke ruang tamu temanmu bukan?"

Spiritual adalah seni mengelola jiwa, akal sehat dan nurani agar selalu sehat dan waras. Spiritual itu sudah tidak di batasi oleh sekat perbedaan, jarak dan waktu.

Meniru kata-kata dalam Injil sembahlah Tuhan dalam roh dan kebenaran. Tidak di sebutkan untuk menyembah Tuhan lewat agamamu apa tapi lewat roh karena dimensi alam roh sudah tidak terikat oleh ruang dan waktu, tidak perlu lagi soal aturan tektek bengek hanya sekedar untuk menyembahNya karena Tuhan semesta alam ini adalah roh maka oleh roh yang ada di dalam kitalah kita baru bisa menyatu dengan diri Nya, memahami segala ayat2 cintaNya lewat alam semesta ini.

Menyembah Tuhan dengan kebenaran sejati bukan dengan aturan yang mengikat yang justru seringkali membuat beban umatnya, yang seringkali jadi ada sekat antara satu dengan yang lainnya.

Menyembah Tuhan dengan kebenaran, kebenaran dalam segala ucapan, prilaku, perbuatan pikiran kita.
Itulah pemahaman spiritual dari arti menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran. Dan itulah yang saya lakukan sekarang dalam menyembah Tuhan semesta alam, bukan berdasarkan dogma dan doktrin dari agama apapun juga.

Bagi saya pribadi tidak peduli apa yang saudara sembah dan yang di Tuhankan oleh saudara semua, mau sandal jepit butut, mau batu, mau duit, mau pohon, binatang atau apapun juga. Yang penting bagaimana refleksi atau dampak dari pertemuan saudara dengan yang di Tuhankan oleh saudara semua apakah baik dan berguna kepada sesamamu atau malah merusak, membenci dsbnya kepada sesamamu.."

Namaste, salam sejahtera, wassallam, omitofut, oom swastiastu, semoga semua mahluk berbahagia..

Sabdo Palon Akan Segera Datang Kembali , Subakir Telah Menghianati Janjinya


Ini adalah sekelumit cuplikan perjanjian Sabdo Polon dengan Syeh Subakir tentang bagaimana Islam di terima di Djawa Dwipa dan bagaimana kenyataannya dengan sekarang? 

Bahwa ternyata anak Nusantara ini sudah mulai melupakan adat istiadat, budaya warisan leluhur bangsanya sendiri. Dan jangan heran jika kehancuran itu akan tiba suatu saat. 

SABDOPALON : 
PERTAMA :
Jangan ada pemaksaan agama, dharma atau kepercayaan.
(Bagaimana kenyataannya? Berapa banyak aliran kepercayaan Nusantara ini di berangus, di paksa untuk mengisi kolom agama tertentu di KTP nya?? )

KEDUA :
Jika hendak membuat bangunan tempat pemujaan atau ngibadah, buatlah yang wangun (bangunan) luarnya nampak cakrak (gaya) Hindu Jawa walau isi dalamannya Islam.
(Bangunan Masjid dulu iya betul begitu klo sekarang?)

KETIGA :
Jika mendirikan kerajaan Islam maka Ratu yang pertama harus dari anak campuran. Maksud campuran adalah jika bapaknya Hindu maka ibunya Islam. Jika bapaknya Islam maka ibunya harus Hindu.
(Sekarang boro-boro, Ahok saja di goyang dan akhirnya lengser, padahal ini mengajarkan filosofi kesetaraan tidak membeda-bedakan SARA, tapi saat ini yang ada hukum padang pasir yang berlaku, mau ngeles apalagi jika Nusantara ini memang sudah banyak yang menyimpang dari ajaran leluhurnya)

KEEMPAT :
Jangan jadikan Wong Jowo berubah menjadi orang Arab atau Parsi. Biarkan mereka tetap menjadi orang Jawa dengan kebudayaan Jawa walau agamanya Islam. Karena agama setahu saya adalah dharma, yaitu lelaku hidup atau budi pekerti.
Hati-hati jika sampai Orang Jawa hilang Jawanya, hilang kepribadiannya, hilang budi pekertinya yang adiluhung maka aku akan datang lagi. Ingat itu. Lima ratus tahun lagi jika syarat – syarat ini kau abaikan aku akan muncul membuat goro-goro.
(Bagaimana dengan keadaannya sekarang? Jangan heran jika Nusantara ini makin banyak kekerasan, bom bunuh diri dsbnya atas nama agama, itulah goro-goro akibat dari lalainya anak Nusantara dalam menjaga warisan leluhur bangsanya sendiri, durhaka kepada leluhurnya sendiri)

SYEH SUBAKIR : Baiklah. Syarat pertama sampai keempat aku setujui. Namun khusus syarat keempat, betapapun aku dengan kawan-kawan akan tetap menghormati dan melestarikan budaya Jawa yang adiluhung ini.

Namun jika suatu saat kelak karena perkembangan jaman dan ada perubahan maka tentu itu bukan dalam kuasaku lagi. Biarlah Gusti Kang Akaryo Jagad yang menentukannya.

==============================
Jika kau begitu percaya penuh dengan kitab para nabi nun jauh di sana, lalu kenapa anak Nusantara begitu meremehkan bahkan menganggap semua kitab para leluhur Nusantara ini hanyalah sebuah mitos dan dongeng belaka, padahal sudah begitu jelas terbukti dari waktu ke waktu?

Padahal secara logika kedua kitab atau kedua cerita tersebut sama-sama kita tidak menyaksikannya sendiri, tapi kenapa anak nusantara ini bisa lebih mempercayai cerita kitab nun jauh di sana yang jelas tidak tau seluk beluk adat budaya Nusantara ini di banding cerita kitab leluhur bangsanya yang jelas-jelas terlahir di sini dan mengenal seluk beluk adat, budaya, keberagaman bangsa ini?
Tanya kenapa?

Mungkin ada baiknya anak bangsa ini kembali membuka kitab leluhur bangsanya sendiri sebelum semuanya terlambat karena ternyata jauh-jauh hari semuanya sudah tertulis.

Bangsa yang kuat dan besar adalah bangsa yang tidak pernah meninggalkan warisan leluhur bangsanya sendiri, contoh negeri Cina yang sampai sekarang masih memegang teguh adat istiadat budaya leluhurnya sendiri.

Anak Nusantara ini mungkin sudah jarang yang tau tentang riwayat cerita ini tapi saatnya sekarang Nusantara ini bangkit membangunkan anak-anaknya dari tidur panjangnya, menyadarkan dari mimpi-mimpi tentang Surga khayalan yang tidak tau juntrungannya di mana, padahal Surga yang di ceritakan di kitab nun jauh di sana itu sudah ada semuanya di alam Nusantara ini. altara

baca juga :
[Kapitayan AGAMA PERTAMA di Nusantara,Bukti Seorang Nabi Pernah di Utus di Nusantara]

[Sembilan Ajaran Siti Jenar Yang Paling Ditakuti Dewan Wali Dan Politikus Saat Itu Sampai Saat Sekarang Ini][sejarah runtuhnya majapahit yang disembunyikan]
[Rahasia di Balik Lapindo,Tersirat Prediksi Brawijiyo-Kalijogo-Noyogenggong Sebagai Awal Kebangkitan Ajaran Nusantara]

Tokoh Gereja Papua Ampuni Pembakar Alkitab, Bagaimana Dengan Tokoh Muslim?

Jayapura , sempat ricuh oleh insiden yang diduga merupakan pembakaran Alkitab oleh oknum tentara pada Kamis, (25/05) kemarin. Insiden itu telah menyebabkan tiga warga sipil mengalami luka yang diduga akibat terkena peluru nyasar aparat keamanan ketika melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa.



Kapolres Kota Jayapura, AKBP Tober Sirait dan ajudannya juga dirawat di rumah sakit, karena sempat menjadi korban kemarahan massa. Namun, sebagian besar umat Kristen Papua tidak turut terpancing. Walaupun peristiwa itu dianggap melukai perasaan umat dan merupakan salah satu bentuk penistaan agama, pembakaran Alkitab dipandang bukan alasan untuk melakukan pembalasan.

"Orang Kristen tidak menyembah Alkitab tetapi percaya dan menyembah Tuhan Yesus yang disampaikan melalui Alkitab itu," kata Socratez Yoman, Ketua Badan Pelayanan Pusat Gereja-gereja Baptis di Papua, kepada satuharapan.com lewat pesan singkat.

"Alkitab itu tidak perlu dibela. Kita diajarkan isi Alkitab untuk mengasihi dan mengampuni. Yesus berkata: Ampunilah mereka sebab tidak tahu apa yang mereka perbuat," tutur Socratez.

Dia menambahkan Alkitab dibakar tidak akan membuat kuasa Tuhan turut runtuh. "Kita hidup bukan untuk membela-bela Kitab Suci atau Alkitab. Kita diminta dan diajarkan melalui Alkitab untuk mengasihi musuh dan memperjuangkan keadilan dan menegakkan kebenaran demi perdamaian," lanjut dia.

Itu sebabnya ia meminta agar umat tidak reaktif dan sensitif atas insiden pembakaran Alkitab.


"Pada saat Yesus dicaci maki, diludahi, ditinju, diejek, sampai disalibkan, kaki dipaku, tangan dipaku, kepala dimakotai duri dan lambung ditikam, Yesus tetap memilih diam dan pancarkan kasih, pengampunan."

Menurut Socratez, bagi umat Kristen Papua, kasih tetap menjadi panglima untuk kebaikan semua, tanpa memandang agama dan latar belakang.

Hal yang sama disampaikan oleh Ketua Sinode Kingmi Tanah Papua, Pendeta Benny Giay. Ia mengatakan masyarakat Papua tidak terprovokasi dengan peristiwa tersebut. Menurutnya masyarakat Papua harus lebih cerdas dalam menyikapi situasi ini.

“Masyarakat Papua jangan terprovokasi. Alkitab itu untuk dipahami, dimengerti dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Benny

Kronologi Peristiwa Versi Kepolisian

Ketua PWNU Papua, Tony Wanggai, dalam keterangannya seusai menghadiri pertemuan antara Pangdam XVII, Mayjen George Supit, Kapolda Papua, Irjenpol Boy Rafly Umar, Walikota Papua dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ormas Agama dan Tokoh Adat serta seluruh elemen masyarakat/kota, mengatakan Pangdam dan Kapolda memberikan beberapa poin penjelasan.

Pertama, bukan kitab suci yang dibakar tetapi buku-buku agama dan tidak ada unsur kesengajaan.

Kedua, pelaku pembakaran buku-buku agama akan diproses secara hukum dan transparan.

Ketiga, masyarakat diminta tidak main hakim sendiri karena persoalan akan semakin meluas dan merugikan semua.

Keempat, para pemimpin agama diminta memberikan kesejukan kepada umat.

Duduk Perkara Pembakaran Alkitab Harus Dijelaskan

Walaupun pihak kepolisian membantah terjadinya pembakaran Alkitab, sebagian masyarakat di Papua masih menunggu fakta yang sebenarnya, mengingat masih simpang-siurnya informasi. Sebagian masyarakat percaya yang terjadi adalah pembakaran Alkitab.

Berdasarkan info yang diperoleh satuharapan.com, telah terjadi pembakaran Alkitab oleh salah satu anggota TNI yang bertugas di kediaman Kasrem 173 Jayapura. Ia membakar sampah di tong sampah yang di dalamnya ada Alkitab. Menurut informasi, orang yang baru pulang dari ibadah pada hari itu, melihat hal tersebut yang memicu kemarahan.

"Orang berdatangan, massa semakin banyak. Yang dari arah Abepura mau ke Waena tidak bisa lewat, begitu pun sebaliknya," kata Aktivis HAM Papua, Matius Murib.

Sementara keterangan resmi Kepolisian mengatakan yang terjadi adalah "pembakaran karton dan barang bekas lainnya di bak sampah oleh anggota TNI yang sedang melaksanakan korvei mes yang ditinggalkan oleh pasukan sebelumnya."bb/sh

NGGLOSOR MADHEP WETAN, Mundurnya Kejawen


Para pinisepuh Yth.
Mengapa kejawen itu dijelek2an ? Menurut saya ini masalah bisnis. Bisnis ? yaa, semua orang asing tau kalau kita punya ‘kelemahan’ terhadap penerimaan akan ajaran baru (pada jaman dulu). Kaum Jawoto terlalu akomodatif terhadap ajaran baru. Ada Hindu masuk, yo diterima. Ada Budha masuk, yo. Ada Islam masuk, yo mlebuwo. Ada Kristen masuk, monggooo.Kalau dilihat dari sejarah, mereka masuk dengan alasan apa ? berdagang. lalu pada saat itu kelemahan kita apa ? kita tidak memiliki tradisi agama (kejawen) yang kuat - karena jawoto, ya ituuu, terlalu akomodatif terhadap setiap ajaran baru yang datang.Kejawen tidak diformulasikan sebagai organisasi spiritual yang memiliki tonggak manusiawi : nabi dan kitab suci. Formula kejawen adalah rahsa yang hanya dapat diakses tidak oleh sembarang orang.

Kesempatan inilah yg diambil oleh para pedagang : menciptakan pengaruh yg dapat menunjang bisnis mereka dengan menciptakan kolonialisasi religi (religi belum tentu totalitas spiritual karena porsi ritus dan liturgialnya yg dominan). Yang beragama Hindu dan Budha tentu lebih ‘happy’ berdagang dengan orang India, karena orang India dekat dengan Dewa dan Budha Gautama. Yang beragama Islam lebih ‘happy’ berbisnis dengan orang Arab, karena mereka dekat dengan Nabi Muhammad, begitu pula yg Kristen lebih dekat dengan bule karena pada jaman itu para padrinya bule semua.Fanatisme ini terus menerus dipupuk, dan para orang asing itu senang melakukannya : karena mudah dan berhasil. Mudah, karena kejawen tidak memiliki dua tonggak manusiawi. Mudah karena kejawen adalah wacana dan bukan dogma.Sekalinya kita didobrak oleh dogma (alam pikir), kita jadi kaget, sama seperti kagetnya Ki Ageng Pengging ketika berdiskusi dengan Syech Siti Jenar.Di dalam dogma setiap agama, setiap pertanyaan hampir selalu ada jawabannya (bahkan untuk pertanyaan yg ndak perlu utk kehidupan nyata), sementara kejawen ? ya begitu itu, ndak ada jawaban, yg adanya begitu ya begitu.Semakin kesini para agama negeri asing itu semakin dibentuk dari yang hanya ‘agama’ berjalan pada tatanan spiritualitas yg semakin tinggi, disamping semakin tinggi pula privilege para tokohnya untuk mengatur ini-itu. 

Sementara pembelajaran ttg fanatisme yg benar tidak dilakukan (atau disengaja ?). Sehingga yg terjadi adalah supra-fanatisme yg terbentuk dari tatanan pola pikir dan bukan dari rahsa.Buktinya ? orang sudah tidak segan lagi menghajar dan bahkan membantai sesamanya. tingkat kejahatan secara kualitatif semakin meningkat, yg sederhana saja : orang semakin mudah untuk mengumpati dan menyerapahi sesamanya.Padahal esensi kejawen, yaitu budi luhur amat sangat memadai jika diterapkan di dalam kehidupan : welas asih, asih asah asuh, sampai kepada tingkat spiritual tinggi : manunggaling Kawulo lan Gusti.Saya yakin sekali bahwa pencapaian tingkat spiritual di setiap agama negara asing akan sulit sekali untuk mencapai puncak spiritual kejawen.semakin ke sini saya membaca-baca manuskrip tentang kejawen, semakin terlihat usaha para penghayat untuk mencoba membakukan kejawen, mungkin hal ini mendapat pengaruh dari agama negeri asing yang telah membakukan ajaran dan dogma mereka : Veda, Tri Pitaka, Injil dan Al Quran.kejawen sangat luas sehingga sulit dibakukan, sehingga apa yg bisa dilakukan adalah mencatat kaidah-kaidah serta menuliskan sanepan-sanepan (yg juga satu sanepan / kiasan bisa memiliki banyak arti).dengan kejawen, kita bisa melihat (nyata) alam kematian bila kita rela bertekun, dan semua orang (normal sistem neurotikanya) bisa melakukannya, tanpa harus bersusah-susah.dengan kejawen kita bisa mengetahui ketidak-seimbangan kita.

dengan kejawen kita bisa tahu siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka, tanpa pretensi : ah, si X pasti masuk surga, dia kan membela agama saya (meski si X membunuh banyak umat yg tidak seagama dengannya).dengan kejawen kita bisa mengakses segala informasi yg kita butuhkan di dalam hidup kita, meski kadang info yg kita butuhkan melampaui batas pengetahuan kita.sehingga otomatis kita menjadi sabar, tenang, menerima, welas asih; bukan karena kita menginginkan itu, tetapi dari rahsa yg terbentuk akan membuat karakter kita seperti itu - dan sifat yg terbentuk ini tidak dibuat-buat.sejalan dengan keteguhan dan ketekunan menjalankan kejawen, bukan tidak mungkin kita mendapat bonus (kadang berlebih) untuk bisa mengetahui alam paralel dan alam kematian tanpa dipengaruhi oleh sugesti dan halusinasi (yg tentunya sesuai dengan apa yg kita harapkan).Harapan yg tersugesti dapat menekan sub-ego kita, yg seperti hukum kapiler, akan mencari celah untuk penyalurannya. Sistem neurotik yg paling besar mendapat pengaruh dari letupan signal hipothalamus / otak kecil (yg ditekan dari lapis sub-ego) adalah sistem penglihatan. Jika mata memejam, jadilah gambaran seperti keinginan yg hendak kita lihat.kejawen dapat dijelaskan, tetapi ada masanya. 

Karena dibutuhkan pengetahuan (walau sedikit) tentang fisika, fisika kuantum, dan frekuensi-frekuensi yg halus.kejawen tidak memiliki nama untuk Tuhan, tetapi kejawen memiliki Tuhan. sebutan Gusti Pangeran, Allah, Hyang Agung, Hyang Widhi, semua dari bahasa asing : India dan semitik. kejawen menyebut Tuhan dengan menggunakan sapaan rahsa dan bukan nama, dan karena tiada sapaan manusia, Tuhan menjadi Sangat Agung.menjadi kejawen berarti menjadi magnet bagi kebaikan dan akan memancarkan kebaikan kembali ke sekelilingnya.tiada perang, tiada serapah-hujat, tiada benci (karena budaya benci diimpor dari budaya samawi : mata balas mata, nyawa balas nyawa).kejawen berarti menjadi waspada : sebelum kejadian buruk menimpa, baik dicari antisipasinya, karena di lubuk hati terdalam kita telah dikaruniai Sang Pencipta dengan piranti peringatan.

membaca sedikit tentang kejawen di atas, masihkah ada yg merendahkan kejawen ? atau untuk para penghayat, adakah perasaan minder yg mengganggap kejawen lebih rendah dibandingkan dengan agama negeri asing ?
seharusnya kita bangga akan kejawen !jowo, jawotho, jawan : MENERIMA dan SEMPURNA

kejawen itu sederhana, hanya dibutuhkan ketekunan, bukan kecerdasan.kejawen itu tidak berteori karena rahsa bersifat universal, masing-masing orang bisa melihat hal yg sama asal channel tv-nya juga sama.kejawen itu sederhana, tidak perlu menghapal, sehingga seseorang juga bisa melakukannya sambil bertani - tidak perlu memilih mulia mana : nggrogo suksmo atau bertani ?kejawen bukan sinkretisme. mengapa seperti sinkretisme karena kejawen membebaskan penghayat untuk menyerap segala hal dari luar : mantra(m), doa, wirid, dlsb.kejawen bukan animisme, karena kejawen mengadakan komunikasi nyata dua pihak antara manusia dengan makhluk gaib, bukan komunikasi satu arah dari sisi manusia saja. dan bagi kejawen, makhluk gaib bukanlah sesembahan melainkan teman kerja.sangat sulit memang membuat teori theosophical dari kejawen, karena dibalik kesederhanaannya kejawen itu sangatlah tak terbatas.
dan para leluhur purba mengusahakannya untuk kita.sementara para leluhur madya tidak menjaganya untuk kita.

uhm… yg sinkretisme kurang dapat ditangkap,begini, kejawen menyerap mantra(m), doa & wirid hanya pada tatanan frekuental. Kalau frekuensinya bagus, ya diambil, tanpa mengetahui dasar prosesi dan ritualnya. Sementara sinkretisme ada jika dogma dan ritual beberapa agama (lebih dari satu) disatukan, seperti pada aliran manikeisme di india, di mana ada Budha-nya dan Maria-nya (Kristen).bisa saja kejawen menyerap : heweh-heweh-heweh, tanpa arti, jika sesebutan itu memiliki frekuensi positif.Makanya wolak-walik honocoroko menjadi salah satu yg penting di dalam kejawen, bukan arti harfiahnya, melainkan pada frekuensi yg dihasilkan, baik ketika diucapkan maupun ketika ditulis / digambar menjadi simbol (bahasa kerennya : sigil / segel ghaib).

mengenai rahsa yg tidak dapat diakses oleh sembarang orang, itu pemikiran jaman dulu, dimana para sesepuh kejawen dianggap manusia spesial dan tidak semua orang dapat melakukannya.
mungkin para sesepuh menjaga ‘bagian penting’nya supaya tidak mudah terakses oleh pihak yg kurang tepat, maka dari itu penurunan ‘ilmu’ dilakukan dengan klenikan = berbisik, dan ditujukan kepada orang yg dianggap sanggup mempertanggung-jawabkan kemampuannya.
mengapa kemampuan rahsa menjadi rahasia (the secret) ?memiliki bonus di dalam kejawen, berarti juga memiliki tanggung-jawab besar. Mengapa ? karena bonus di dalam kejawen bersifat netral, bisa dipakai untuk kebaikan, bisa dipakai untuk kejahatan (semata menguntungkan keinginan daging).
Bila jatuh ke tangan yg salah, bisa saja dia (pria) akan mengguna-gunai perempuan dengan mudah, atau memperdaya orang untuk semata-mata dimanfaatkan.
Memaaaang, ada kadhang yg akan selalu menegur, tetapi bila suara kadhang sudah tidak terdengar namun yg bersangkutan tetap membandel, maka kadhang sejati akan mengganjar raga sejati (konslet deh). masih sukur ngganjarnya di alam donya, lha kalau mengganjarnya di alam kematian apa ndak repot ?
jadi alasan mengapa ilmu rahsa tidak dibuka byak semua ke para murid, masuk akal juga kan ? karena kejawen berarti juga memayu hayuning bhawono.

cerita dan retorika bab kejawen jika diteruskan akan menjadi sulit, karena, ya itu, terlalu dalam dan tinggi, panjang dan lebar.
Sepertinya (atau sebaiknya ?) lebih enak menjadi penghayat budi luhur untuk mengerti kejawen. Jika memungkinkan baik jika mendapatkan model penghayatan yg sederhana, yg tidak memerlukan ritus dan retorika di dalam menjalaninya.
Menurut pengalaman saya (yg sangat cekak ini), semakin kita terjerumus di dalam retorika dan pola pikir, maka semakin jauh kita dari rahsa. Seperti halnya fengshui, pethungan dan pola2 geomancy tradisi lainnya, yg selalu berpatokan dengan kua (angka), tradisi bentuk dan arah mata angin yg sering mengalami ketidak-cocokan di dalam pengetrapannya. Karena apa ? ya itu tadi : yg dilihat cuma sisi logis retoris (yg sering dilamurkan dengan kata2 : insya Allah dan ‘itu adalah karma’).
Coba kalau kita berangkat dari rahsa, dengan bertekun kita dapat melihat warna warni alur energi bioplasmik Ibu Bhummi dan mencari strategi bagaimana mengaksesnya untuk kesejahteraan & kedamaian kita.
apa hidup itu dan bagaimana hidup itu hanya bisa ditekuni dengan rahsa. Semakin sensitif rahsa, maka semakin bingung pula kita membakukan dan men-teorikan hidup itu seperti apa. Kita hanya bisa mengerti dan memahami, sangat sulit untuk menjadikannya teori.

mau ngewiwiti kejawen itu berarti kita berdamai dengan diri kita dan mengembalikan kondisi spiritual kita ketika kita baru mrucut lahir di dunia. karena Gusti Moho Suci sudah memberikan kita lengkap (jangkep) anugerah badani dan rohani. mungkin karena ini nenek moyang kita selalu mengingatkan kita dengan kata : kakang kawah adi ari2, dimana kita harus selalu kembali ke fitrah kita pada waktu lahir.
Caranya ? frekuensi spiritual kita di-stel balik (tunning). ada beberapa yg mengatakan ini proses penyelarasan : diselaraskan balik ke masa lahir.
berbeda dg proses pengisian, penyelarasan ini tidak memasukkan elemen frekuental asing ke dalam lingkup frekuensi pribadi kita.
sekali kita diselaraskan, maka hasil penyelarasan ini tidak bisa dihilangkan / dicabut oleh manusia siapapun dia dan sesakti apapun dia.karena yg diselaraskan ini bersifat Ilahiah (berkah Gusti pada waktu kita lahir).

repotnya, seperti pada penjelasan saya sebelumnya, hasil penyelarasan ini bersifat netral, artinya bisa dipakai utk kebaikan dan kejahatan.
ada konsekuensinya, baik utk kebaikan maupun kejahatan. kalau utk kebaikan, kadhang (teman rohani yg kembar dengan kita) akan selalu memberikan masukan dan kesempatan positip buat kita. kalau utk kejahatan, kadhang akan selalu mengingatkan kita. Kalo kita mbandel, maka suatu saat kadhang akan berhenti memberi info ke kita, dan malah berbalik mengganjar raga sejati kita. iya kalau cuma raga, lhah kalau ganjarannya sampai di alam kematian ? kita ndak ingin jiwa sejati kita ikut kena ganjar kan ? bisa repot nanti.
itu makanya kejawen tidak pernah dibukukan, dan tampaknya hanya sementara orang yang diberi ‘kekhususan’ memiliki kautamaan kejawen.
bukannya kejawen mau menyembunyikan kautamaannya, melainkan berusaha menjaga dunia damai sejahtera. bayangkan jika kautamaan kejawen dapat diakses oleh sembarang orang, bisa geger nanti donya. ada banyak orang bisa tertipu kartu kreditnya , dengan sukarela menyerahkan kartu beserta pinnya kepada orang yg tidak dikenal dengan alasan yg tidak masuk akal.

repot kan kalau keutamaan kejawen dibukukan ? itu sama saja membuka ilmu hipnotis (sejelas2nya) kepada khalayak. kalau kita lihat referensi ilmu hipnotis yg ada hanya bersifat wacana, inti lakunya tidak dibuka.
naaah… kalau betaljemur, lukmannakim, dsb itu memiliki beberapa sikap :1. sebagai pembakuan budi luhur / ajaran budi pekerti.2. sebagai pembakuan naga dina (sifat waktu) & naga bhummi yg tidak sembarang orang bisa mengaksesnya secara non-indrawi, hal ini seperti feng-shui aliran bentuk, angka / kua dan mata angin / geomancy, bukan aliran tao asli / black hat.3. sebagai pengalih, ilmu kesaktian yg dijabarkan kecil sekali kemungkinannya utk diakses. ayo, siapa yg pernah mutih seminggu plus ditutup petigeni sehari untuk mengakses suatu ilmu kesaktian di kitab yogamantra ? apakah berhasil ?dibutuhkan suatu ilmu kunci untuk membukak byak itu semua.mengapa demikian ? ya itu : kalau ndak dijabarkan, nanti dibilang pelit. kalau dijabarkan total, nanti digunakan yg tidak-tidak.makanya yg dibuka buat khalayak hanya secukupnya saja.
bila kita minta diselaraskan frekuensi kita, belum tentu seorang guru kautaman kejawen langsung berkenan. mengapa ? ini bukannya si guru itu pelit, tapi si guru akan mencoba berkomunikasi kepada kadhang yg bersangkutan : bagaimana kondisi jiwa sejatinya : sudah stabil belum, cluthak apa ndak, dsb dsb.
kalo ok yaa… bisa langsung. klo belum ok yaaa… di-observasi dulukadang ada yg dari luarnya baik dan sopan ternyata jeroannya penuh tedeng aling2. wah ini cilaka.
wawancara dengan kadhang tidak dilakukan melalui verbal belaka, melainkan wawancara bathin. ada jg lowh yg baru dateng tapi kadhangnya udah teriak2 : jangan dikasih ! jangan dikasih !

guru juga berfungsi utk memberikan kisi2 jika ada yg membutuhkan, namun yg bersangkutan belum diijinkan utk diselaraskan. kisi2 disini seperti wejangan untuk bekal hidup.
nah, kalau masalah nglakoni itu amat sangat mungkin dilakukan di antara kesibukan kita. karena apa ? sejatinya kejawen itu puasa tidak ditentukan oleh orang pintar atau guru, melainkan oleh kadhang sejati kita. malah sering kita dikongkon (disuruh) nglakoni bukan pada saat2 ‘wajib’ seperti : pilih waktu jejer 3 hari yg jumlah neptunya 40, jumat kliwon, anggoro kasih (slasa kliwon), dsb.
biasanya kadhang akan ‘mengukur’ kekuatan, kebutuhan dan manfaat kita nglakoni. suatu saat kadhang akan menyuruh kita puasa mutih, misalnya 3 hari, sementara kita di dalam kesibukan kerja, maka tak dinyana 3 hari kedepan kita tidak terlalu sibuk, sehingga kita sanggup melakukannya.
kadhang memilihkan waktu dan jenis nglakoni berdasarkan manfaat frekuensi yg akan kita akses.

jadi guru kautaman kejawen itu hanya memberi tuntunan awal dan bukan isinya. tuntunan awal seperti misalnya : penyelarasan, jalan2 ke alam lain kalau jiwa sejatinya masih belum pede kalau jalan sendiri, metode-metode yg dilakukan yg berkaitan dg kejawen, sumber info kalau kebingungan mendengar suara kadhang.
oh ya, kadhang ndak pernah salah ! kalau kita ragu, kita bisa minta diturunkan Cahaya Ilahi untuk menyaring benar-tidaknya info yg kita dengar. Cahaya Ilahi kita dapatkan juga pada saat penyelarasan. biasanya klo infonya ndak benar, langsung hilang kalau terkena Cahaya Ilahi. wah… jadi ngelantur ke technically…
kalau kadhang akan terus2an memberi info meski bertubi-tubi kita turunkan Cahaya Ilahi.

mengulang cerita waktu kautamaan kita sebagai manusia masih lengkap ketika lahir, ini berlanjut sampai ketika pola pikir kita mulai terbentuk (kata orang2 : masa golden age).naaaa… sifat yg spiritual itu terdesak oleh alam dan pola pikir logis material yg selalu ditanamkan oleh orang tua kita.
ada banyak anak balita yg berkomunikasi (atau seolah2 ?) dengan sesuatu yg tidak bisa kita lihat itu memberikan bukti bahwa berkah spiritual itu ada.
sejalan dengan berkembangnya pola pikir logis, kondisi sensorik otak kecil kita menjadi bertendensius. otak logis-kognitif kita yg jalan, sementara bagian yg menjadi tumpuan afeksi menjadi lamur, dan cuma dianggap ruang mimpi dan khayalan belaka.
penyelarasan frekuensi di dalam kejawen bermaksud mengakses sisi yg hilang ini, supaya para penghayatnya menjadi kumplit kembali.

Salam Dari Jabar Buat DKi : Memimpin Daerah Yang Kompleks Tidak Semudah Seperti Memimpin Satu Agama


BY MUHAMMAD SABRI ON APRIL 21, 2017POLITIK
Di masa saya sekolah dulu dan di berbagai percakapan sering sekali saya dapati orang-orang dewasa dan anak-anak kecil warga negara Indonesia menanyakan “kenapa yah Indonesia alamnya kaya raya letak negaranya strategis tetapi negaranya tidak maju dan penduduknya banyak yang miskin?”
Hari ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mayoritas warga Jakarta karena telah memberi jawaban kongkrit atas pertanyaan tersebut, jawaban yang membuat saya tidak perlu bingung lagi menjawabnya dengan berbagai teori sosiologis, ekonomis dan politis dan sebagainya. kali ini, jika saya mendapati ada orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu, akan saya jawab “lihat pilgub DKI 2017”.
ya, pilgub kali ini memaparkan dengan sangat jelas kenapa negara Indonesia sampai detik ini tidak menjadi negara maju.
sebelum melangkah lebih jauh saya ingin mengutip sebuah hadits
“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuranitu.” (BUKHARI – 6015).
Ya, terima kasih warga Jakarta, kalian telah menyerahkan urusan pemerintahan di provinsi anda yang menjadi barometer Indonesia kepada yang bukan ahlinya, sekali lagi terima kasih.
karena beberapa ayat yang diterjemahkan dan disalahgunakan secara SEMBARANGAN kalian telah ikut andil melakukan KEDZALIMAN terhadap jutaan orang. Kalian DZALIM, kalian DZALIM karena telah menyerahkan kepengurusan (sekali lagi, KEPENGURUSAN bukan KEPEMIMPINAN) ibu kota negara SAYA dan 250 juta orang lainnya kepada yang BUKAN ahlinya. Kalian DZALIM, ingat itu, KALIAN DZALIM.
Sekarang jelas sudah, kalian telah membuktikan kebenaran hadits Rasulullah diatas. Ini baru pilgub, berarti sangat besar kemungkinan kita kita menggunakan standar yang sama dalam pemilihan pemilihan lainnya. Wajar dunia politik kita kacau balau seperti sekarang ini. Terima kasih warga Jakarta.
Besok kejutan apa lagi yang akan diberikan warga Indonesia? Memilih orang yang mengurus negara ini karena panjang panjangan jenggot? Karena hitam hitaman jidat? Karena merdu merduan suara dalam melakukan tilawah Qur’an?
Jujur saya dulu sempat besar di lingkungan yang seperti itu, saya sempat mengalami 2 kali pemilihan gubernur Jawa Barat. Apa yang dibicarakan oleh orang orang sekitar saya mengenai Ahmad Heryawan yang waktu itu merupakan kandidat gubernur Jawa Barat? “Kang Aher hafal Qur’an”, “Kang Aher bisa baca kitab gundul”. Sekarang saya jadi ingat orang orang di sekitar saya dulu sama sekali tidak pernah membicarakan program, prestasi dan track record, mereka hanya meng elu elu kan keshalehan pribadi Ahmad Heryawan.
Hey, sesaleh apapun birokrat yang mengurus wilayah kalian, tidak akan memperbesar peluang kalian masuk surga SEDIKIT PUN, ingat itu. Se bejat apapun birokrat yang mengurus wilayah kalian juga tidak akan mengurangi kesempatan kalian untuk masuk surga SEDIKIT PUN.
Yang kalian lakukan hanya menghancurkan kesempatan kalian dan orang orang lain untuk menikmati pelayanan publik yang baik, pembangunan yang nyata dan kelegaan ekonomi yang akan menjauhkan puluhan juta bahkan ratusan juta orang dari kefakiran yang dekat dengan kekafiran. Peluang kalian masuk surga SAMA SEKALI TIDAK DIPENGARUHI oleh kesalehan kepala daerah kalian. Ingat itu dasar orang orang dzalim.
Ayat yang kalian salah gunakan itu bukan tentang pemilihan kepala daerah, ayat itu bukan tentang pemilihan gubernur, ayat itu bukan tentang pilkada. Tidakkah kalian mempelajari itu? Tidakkah kalian takut mempergunakan ayat Allah untuk agenda politik kalian? BELAJAR TAFSIR WOY! Jangan langsung percaya saja apa yang diteriakkan orang yang KELIHATANNYA mengerti agama. Gak semua pengkhotbah Jum’at yang kalian dengarkan mengerti apa yang mereka bicarakan.
Kepada saudara sebangsa dan setanah air yang tidak beragama Islam, saya tidak bisa membayangkan betapa kecewanya kalian dengan bangsa yang kemerdekaan dan kemakmurannya kita perjuangkan bersama sama ini. kalian bisa saja menjadi seorang lulusan S3 dari universitas paling unggul di dunia, meraih hadiah nobel, memiliki bergudang gudang prestasi, jujur, pekerja keras tapi dalam pilkada atau pilpres kalian bisa saja akan dikalahkan oleh orang yang buta huruf, tidak berpendidikan, tidak berpengalaman, korup dan pemalas asalkan seiman dengan mayoritas penduduk. Maafkan kondisi Indonesia yang seperti ini, maaf saudara saudara.
Oke, kedepannya apa yang kita cari? Orang yang paling merdu adzannya untuk jadi mentri keuangan? Orang yang bisa baca kitab gundul untuk jadi gubernur? Ahli tafsir untuk jadi mentri telekomunikasi? Orang yang jenggotnya paling panjang dan dahinya paling hitam untuk jadi presiden? Apa besok kalian akan memberikan kejutan lagi dengan membuat orang orang paling berprestasi dan cemerlang di Indonesia tidak bisa mendapatkan posisi strategis hanya karena tidak berjenggot, tidak bisa baca kitab gundul dan ngomong bahasa Arabnya belepotan? Terima kasih warga jakarta, kalian menjawab dengan sangat jelas kenapa Indonesia tidak maju maju sampai hari ini. Kalian telah membuktikan kebenaran hadits Rasulullah diatas, terima kasih.
Kenapa saya ngotot sekali mengenai hal ini, karena saya tidak pernah SEKALI PUN menemui pendukung Anies-Sandi yang mengatakan mereka memilih karena program, prestasi dan track record, TIDAK SEKALI PUN. terima kasih warga Jakarta.
Mulai besok jika saya atau anak anak saya bercita-cita menjadi presiden atau gubernur, akan saya sarankan mereka menghafal Qur’an dan bisa membaca kitab gundul seperti kang Aher. Karena ternyata itu yang dicari mayoritas orang Indonesia. percuma berprestasi dan berpendidikan tinggi, jujur dan pekerja keras, hal itu tidak pernah dibahas. belajar dari Aher, belajar dari pilgub Jakarta. Terima kasih warga Jakarta.
Sekarang saya tidak heran lagi kenapa Indonesia tidak maju maju sampai hari ini.
Terima kasih (sebagian besar) warga Jakarta.
Dari perbatasan provinsi ini....