
Pencapaian Jokowi dalam 3 tahun memimpin yang menoreh banyak penghargaan dari luar, tidak akan berdampak dan berpengaruh pada mereka yang pro Gerindra, PKS, FPI ataupun termasuk Demokrat, meski mereka berobat masih menggunakan KIS. Tetapi pencapaian rezim saat ini justru akan membuat mereka yang mendukung Jokowi tidak mau meninggalkannya krn mereka akan berkata “tidak salah pilih” yang artinya akan memilihnya lagi dlm pertarungan 2019. Kenyataan yang ada pendukung rezim saat ini jauh lebih banyak daripada yg tidak dan pro dengan seperti disebutkan diatas.
Dengan demikian pertarungan politik (pilkada) serentak 2018 nanti yang kemudian disusul Pilpres 2019, sudah dibangun sejak dini. Isu yang amat trend kembali dimunculkan PKI Versus Islam. Pertanyaannya, kenapa isu PKI yang dipilih? karena 32 tahun Soeharto memimpin dan melanggengkan kekuasaanya berhasil mencuci otak segenap bangsa Indonesia bahwa PKI tidak bertuhan dan sangat kafir, sementara kenyataannya tidak demikian.
Di era Gusdur, doktrin-doktrin Soeharto dengan pasukan militernya dan platform golkar mulai ditepis dan Gusdur keras menantang sektarianisme agama bahkan sempat hendak mencabut TAP MPR yang melarang pemahaman marxis. Namun Gusdur ditumbangkan dengan keji oleh konspirasi terselubung Amien Cs.
Isu tersebut kembali muncul saat ini untuk menyerang rezim Jokowi ternyata seperti kewalahan, dimana justru Jokowi bukan ditinggalkan oleh para pemilihnya justru pendukungnya malah smkin cinta. Maka disiapkanlah sekaligus munculah tokoh yang selalu sibuk dan piawai dalam hal pelengseran yaitu Amien Rais. Dalam pilkada DKI nama Amien Rais muncul kepermukaan, dan sekarang sedang hot-hotnya, baik bicara soal DPR, KPK, HTI, PERRPU, dsb. Disisi lain Demokrat pimpinan SBY yang kini lebih banyak diam tentunya akan bikin kejutan kembali, yang jelas bukan lagi dengan istilah “lebaran kuda”.
Maka sudah sepatutnya generasi muda untuk menyimak orang-orang tua yang mengacau, jika itu anda anggap benar maka dukunglah pertahankanlah, jika itu jelas tidak benar, maka bangkitlah melawan, tidakah Indonesia ini bosan dipenuhi tua-tua pengacau sekaligus impoten.
Apa yang kau harapkan dari DPR, Tembok Perwakilan Rakyat kini buta dan tuli, DPR tidak bersinergi ataupun harmonis dengan pemerintah, dan kehilangan hakikat serta fungsi dari kelembagaan itu sendiri, karena yang dipikirkan sekaligus dilakukan hanya untuk kepentingan Partai. Maka tak usah heran jika korupsi berjamaah ada di dalam gedung tersebut yang uangnya mengalir ke partai-partai selain kantong pribadi. Tidakkah kita muak?
Yang berkecukupan atau menengah keatas mungkin biasa-biasa saja, tapi jika kita lihat mereka yang betapa sulitnya mendapat pekerjaan, mereka yang kelaparan tertidur di depan ruko dan pinggir jalana, mereka yang dipelosok yang hanya makan umbi-umbian, dst. Dan mereka itu menitipkan amanah untuk disuarakan yaitu Dewan Perwakilan Rakyat. Si Dewan justru lebih menyibukkan diri berkolaborasi dengan para elite politisi untuk sama-sama menumbangkan kekuasaan untuk kekuasaan. Sementara pemegang kekuasaan saat ini yaitu Jokowi sedang fokus untuk memperbaiki negeri ini yang sedang oleng, hal ini dapat dilihat dari etos kerja dan pendekatan kepada riil rakyat menengah bawah, seharusnya DPR mendukung jika mereka suara rakyat.
Yang amat ironis partai-partai besar yang selalu bicara atas nama rakyat, ormas-ormas keagamaan yang selalu bicara atas nama ketuhanan, DPR yang merupakan perwakilan rakyat, politisi yang selalu bicara atas nama kebaikan bangsa, bersatu padu memusuhi, menyerang, melengserkan, mengacau, mendikte, rezim saat ini yang banyak dicintai rakyatnya. Seharusnya mereka justru mendukung, kenapa tidak? Karena keserakan itu tanpa batas.
Kekuatan rezim saat ini bisa tetap bertahan karena kekuatan rakyat yang mencintainya. Dan mereka yang hendak menumbangkannya tentunya sangat sulit, terlihat dari beragam isu yang disajikan terpental satu-persatu, mereka lupa rakyat bersatu tak bisa dikalahkan dan kenyataan yang harus mereka terima, rakyat yang mencintai Jokowi jauh lebih banyak dari yang mendukung mereka.
Maka tak heran jika nama seperti Amien Rais, muncul kembali, DPR gaduh kembali, para politisi saling membabi buta, hanya untuk menumbangkan rezim saat ini tetapi dengan nafas yang tersengal-sengal karena selalu gagal.

Pihak Istana Kepresidenan memberikan klarifikasi mengenai pembiayaan perjalanan keluarga Presiden Joko Widodo ke Turki dan Jerman. Istana, melalui Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin mengatakan bahwa pembiayaan perjalanan keluarga, dikeluarkan dari kantong pribadi Jokowi sendiri.
“Sebelum melakukan perjalanan ke Turki dan Jerman, Presiden Joko Widodo telah memberikan arahan kepada Plt Kepala Sekretariat Presiden Winata Supriatna pada Senin, 3 Juli 2017, di Istana Merdeka. Dalam arahan tersebut, Presiden menegaskan bahwa seluruh biaya perjalanan dan akomodasi anggota keluarga Presiden yang turut serta dalam perjalanan ke Turki dan Jerman sejak 5 sampai 9 Juli 2017 menjadi tanggungan pribadi Presiden” kata Bey Bahmudin, Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden.
Dalam kunjungannya ke Turki menjumpai presiden Erdogan, yang katanya merupakan junjungan partai PKS dan ke Jerman dalam rangka menghadiri KTT G20 di Hamburg, Jokowi memboyong seluruh keluarga besarnya. Tak hanya Ibu Negara Iriana Widodo, Presiden Joko Wiodo juga membawa ketiga anaknya, Gibran Rakabuming, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep.
Istri Gibran, yakni Selvi Ananda dan bayi mungil buah pernikahan mereka, Jan Ethes pun dibawa dengan pesawat kepresidenan. Jangan sampai nyinyiran berikutnya mengenai keluarga tidak boleh naik pesawat kepresidenan yang digunakan oleh keluarga Joko Widodo. Rasanya itu nyinyiran yang terlalu rendah untuk dibahas.

Mereka nggak minta proyek.. Dasar Ndeso!
“Perintah Presiden sangat jelas dan tegas untuk efektivitas dan efisiensi,” kata Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Contoh efisiensi tersebut, kata dia, tidak perlu sewa pesawat walau perjalanan sampai ke Amerika Serikat, tim advance yang diperkecil, dan jumlah delegasi yang dibatasi dengan kapasitas pesawat.
Namun untuk mengantisipasi pemikiran bodoh dari kaum bumi datar, khususnya mereka yang selalu tidur di gedung DPR, pihak Istana juga mengklarifikasi penggunaan pesawat tersebut. Di dalam klarifikasi tersebut, dikatakan bahwa mereka menggunakan pesawat kepresidenan, selayaknya para menteri yang juga ikut bersama Presiden di Pesawat ‘Air Force One’ versi Indonesia. Mengapa mereka harus satu pesawat?
“Perlu diketahui bahwa anggota keluarga Presiden Jokowi selama penerbangan berada di bagian kompartemen yang selama ini hanya diperuntukkan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, sehingga keberadaan anggota keluarga Presiden Jokowi tidak mengurangi kapasitas penumpang rombongan resmi Presiden,” kata Bey.
Mungkin pertanyaan dari kaum bumi datar yang mulai bengkok tetap ada. Enak sekali keluarga presiden siapapun bisa ikut pesawat kepresidenan, ini tidak etis! Tidak pantas! Hal ini dapat dengan mudah dijawab. Mereka satu pesawat dan ikut trip Jokowi, karena tidak perlu keluar uang beli tiket pesawat lain, wong satu jurusan, bahlul ente!
Sebelumnya, sudah ada setidaknya tiga oknum tidak jelas yang menuding dan mencibir aksi Jokowi di dalam mengundang keluarga besarnya untuk berlibur. Siapa saja mereka? Fadli Zon (Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI), Apung Widadi (Sekjen Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran/ FITRA), dan Rachlan Nashidik (Politisi Demokrat).
Serangan ‘Kontraproduktif’ Fadli Zon
“Saya nggak tahu apa alasannya, mungkin sekalian liburan atau bagaimana, tapi tentu menimbulkan pertanyaan. Sah-sah saja orang bertanya karena tentu di luar kebiasaan dilakukan presiden Jokowi…. Setahu saya di zaman Pak Harto tidak ada sampai ke cucu, mungkin pernah kalau anak. Kalau bawa cucu setahu saya tak pernah”
Rasanya ia lupa, bahwa ia pernah meminta KBRI untuk menjemput anaknya yang sedang study tour di luar negeri, dan hanya membayar $200. Mungkin Fadli sekarang sudah minum Panadol, maka tidak heran kalau dia “Sudah lupa tuh!”. Untung dia tidak minum bubuk Daia, sabun pencuci baju.
Sebaiknya Fadli Zon harusnya kita’ ikat lehernya’ dan kekang pakai tali, sehingga ia dapat dengan cepat mengurus revisi UU Anti Terorisme yang belum rampung, ketimbang menyalak hal yang tidak penting. Mungkin hal yang lebih penting, kita harus siram oli ke Fadli Zon agar bisa mempercepat revisi undang-undang Anti Terorisme. Jangan bicara korupsi sebagai oli pembangunan. Hahaha.
Serangan ‘Memprihatinkan’ ala Politisi Demokrat, Rachland Nashidik
Kenapa Lebaran bawa keluarga ke Ragunan, Jokowi menjawab: tiketnya murah. Kalau bawa keluarga pelesir dengan biaya negara? Tiketnya gratis – @Ranabaca (akun Rachland Nashidik)
Politisi Demokrat pun tidak kalah nyinyir dengan Fadli Zon. Rasanya gejala yang sama ditunjukkan oleh politisi demokrat ini. Rachland mungkin sudah minum Panadol, sehingga ia lupa bahwa 5 tahun yang lalu, dua putra Susilo Bambang Yudhoyono, junjungan tertinggi Demokrat, juga ikut serta dalam rombongan SBY yang berkunjung ke London.
Bukan hanya itu, bahkan sebelum Ibas kawin, calon istrinya pun ikut plesiran ke Jogja dengan sang calon ibu mertua, Ibu Ani Yudhoyono. Untung calon istri Ibas pada saat itu tidak plesiran bersama sang calon ayah mertua. Saya prihatin melihat hal ini. Hahaha.

Mereka Jawir, tapi nggak ndeso
Serangan ‘Mengapung’ Sekjen Fitra FITRA, Apung Widadi
Deputi Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Apung Widadi mendorong Presiden Joko Widodo atau pihak Istana Kepresidenan transparan soal keluarga Jokowi yang ikut kunjungan kerja ke Turki dan Jerman.
“Menurut saya, memang Presiden atau stafnya harus jelaskan biaya perjalanan mereka… Pakai pribadi atau ditanggung negara. Kalau ditanggung negara berapa, aturannya bagaimana. Selama ini kan enggak jelas transparansinya… Kalau Pak Jokowi sendiri kunjungan kerja, lantas keluarganya liburan atau bagaimana? Pelesiran di saat Bapak Jokowi kerja dinas, tapi kalau pelesiran pakai uang rakyat, ini yang menyakitkan di tengah APBN yang defisit.” kata Apung Widadi
Pung, sekarang pihak istana sudah menjawab dan mengklarifikasi pertanyaan Anda. Lantas, apa yang menjadi respons Anda? Yah, menurut saya, respons Apung bisa terprediksi. Komentarnya akan tidak jauh-jauh dari “pencitraan”, “pemborosan”, “tidak empati kepara rakyat”, “alasan dibuat-buat”, dan berbagai macam alasan-alasan yang sangat mengawang, maksud saya meng-apung.
Dari klarifikasi Istana, rasanya kita tidak perlu khawatir mengenai kunjungan kerja Joko Widodo. Investasi triliunan di luar negeri, tidak sebanding dengan hiburan yang diperjuangkan oleh sang Bapak kepada keluarganya. Tentu setiap kita memiliki bapak yang baik, bukan? Atau jangan-jangan kalian lahir dari adukan semen? Kita Jokowi sangat mengabdi kepada negara dan rakyatnya. Klarifikasi Istana sudah cukup jelas menjawab permasalahan yang simpang siur mengenai dana yang digunakan Presiden di dalam memboyong keluarganya ke luar negeri.
Pertemuan bilateral antara Indonesia dan Amerika terjadi di sela-sela penyelenggaraan KTT G-20 di Hamburg, Jerman. Presiden Jokowi memiliki cara tersendiri untuk mencairkan suasana pertemuan perdananya dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Jokowi mengawali percakapan dengan menyampaikan salam dari jutaan pendukung Trump di Indonesia.
“Saya ingin menyampaikan salam dari jutaan penggemar Anda di Indonesia. Mereka tertarik untuk menyambut Anda di Indonesia,” kata Jokowi saat bertemu Trump di ruang pertemuan bilateral Hamburg Messe Und Congress di sela-sela penyelenggaraan KTT G20 di Hamburg, Jerman dikutip dari keterangan Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Sabtu (8/7/2017).
Di dalam percakapannya, Jokowi menyampaikan apresiasi atas kunjungan wakil presiden Amerika Serikat, Mike Pence ke Jakarta beberapa waktu yang lalu. Kunjungan Pence menandai komitmen Amerika Serikat untuk memperkuat dan mempererat hubungan dengan Indonesia.
“Kami sangat mengapresiasi karena telah memberikan kesempatan Indonesia sebagai salah satu dari 4 negara yang dikunjungi di Asia dalam masa jabatan pertama Anda,” kata Jokowi.
Dalam pertemuan dengan Trump, Jokowi juga membahas kerja sama di bidang ekonomi dan pemberantasan terorisme. Tidak ada pemberitaan tentang Freeport, Jokowi lebih berbicara mengenai ekspor kelapa sawit ke Amerika.
Jokowi pun menyampaikan apresiasinya kepada komitmen Amerika Serikat untuk tidak menganggap Islam sebagai akar dari terorisme yang harus dimusuhi, melainkan bekerja sama dengan negara-negara Muslim untuk memerangi terorisme.
Dari apresiasi Jokowi terhadap Amerika, rasanya statement Presiden RI pun merupakan sebuah tamparan keras terhadap kaum radikal yang mengatasnamakan Islam di dalam melakukan tindakan-tindakan tak senonoh yang merugikan kemaslahatan hidup orang banyak.
Presiden Jokowi dikenal dengan kata-katanya yang dapat diibaratkan seperti pedang bermata dua. Satu kalimat untuk berterima kasih kepada AS, dan kalimat yang sama, menghantam otak kaum radikal yang membawa-bawa nama Islam untuk mendukung aksi anarkis mereka.
Mereka-mereka yang mendampingi Joko Widodo di dalam pertemuan tersebut antara lain Menlu Retno Marsudi, Menkeu Sri Mulyani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala BKPM Thomas Lembong, Dubes Indonesia untuk Jerman, mantan Gubernur DKI Jakarta yang ditenggelamkan oleh Jokowi dan Ahok, Fauzi Bowo alias Foke, dan Staf Khusus Presiden, Ari Dwipayana.
Penanggulangan terorisme menjadi topik bahasan pertemuan antara Joko Widodo dan Donald Trump.
“Berkurangnya pergerakan ISIS di Syria dan Iraq mengharuskan kita memberikan perhatian ekstra kepada pergerakan mereka di daerah lain, termasuk Asia Tenggara. Penyerangan dan pendudukan grup teroris di Marawi, Filipina merupakan bukti meningkatnya ancaman terorisme,” kata Presiden Jokowi kepada Trump di ruang pertemuan bilateral Hamburg Messe Und Congress sebagaimana dikutip dari keterangan Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, Sabtu (8/7/2017).
Karena itu, Jokowi pun berharap kerja sama antara Indonesia dan Amerika di dalam penanggulangan terorisme harus terjalin dengan baik. Melalui pertukaran informasi antar BIN dan CIA, penghentian aliran dana kepada kaum radikal, pemberdayaan masyarakat modern dan penyebaran kontra narasi diharapkan dapat dilakukan oleh kedua negara besar ini.
Dua negara besar, Indonesia dan Amerika sudah bertemu. Masing-masing negara yang mewakili mayoritas pemeluk agama yang berbeda, harus bersatu melawan pengajaran-pengajaran yang tidak bertanggung jawab. Deradikalisasi, menjadi topik pembahasan yang penting untuk dibahas bersama.
Sebenarnya bukan hanya kepada Presiden AS, Presiden Jokowi pun membahas hal ini dengan Perdana Menteri Belanda, Rutte. Semakin maraknya radikalisme dan aksi-aksi terorisme, menjadi momok menakutkan bagi dunia internasional, termasuk Asia dan Eropa.
Penyerangan di Marawi, merupakan contoh nyata dari penyebaran ideologi yang radikal. Bahkan akibat dari pengajaran radikal, ratusan ribu penduduk daerah Marawi dan sekitarnya harus terpaksa mengungsi, agar keamanan Filipina dengan leluasa menghabiskan para militan ISIS dan Boko Haram.
“Serangan dan pendudukan kota Marawi ini menjadi wake-up call bagi kita semua tentang semakin tingginya bahaya terorisme… Untuk menyatukan langkah dan kerja sama tiga negara memberantas terorisme.” ujar Jokowi dalam pertemuan di Hotel Steigenberger, Hamburg, Jerman.

Eh.. Ada yang bawa keluarga juga…
Bukan hanya memberantas radikalisme melalui pengajaran, pendanaan pun harus dihentikan. Kita tahu selama ini mereka hidup dari aliran dana yang entah datang dari mana. Dengan demikian, kerjasama antar negara untuk mengetahui dan menghentikan, bahkan mempidanakan pendana teroris, harus digalakkan bersama-sama.
Setali tiga uang dengan Ahok, ternyata Trump dianggap suka melucu. Melalui akun Twitternya, Jokowi mencuitkan kalimat bahwa Donald Trump suka melucu.
“Ternyata Donald Trump suka melucu. Kita tadi membahas kerjasama ekonomi antar negara -Jkw,” tulis Jokowi.
Donald Trump pun melakukan apresiasi kepada Indonesia, dengan menyampaikan rasa kegembiraannya di dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi lantaran Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki leadership yang baik. Tentu dengan demikian, Jokowi mendapatkan pengakuan dari luar negeri. Lantas, mengapa di dalam negeri, banyak para laskar keputihan yang tidak suka dengan kepemimpinan Jokowi?
Jika para laskar dan para ekor Rizieq mendengar pengakuan internasional yang sangat baik kepada Presiden Jokowi, tentulah mereka akan kejang-kejang. Mereka pun harus mengakui bahwa Jokowi adalah sosok yang berhasil memimpin Indonesia ke arah yang lebih beradab.
Anarkisme para laskar, berhasil diredam dengan gerakan-gerakan tenang dan menghanyutkan ala Pak Dhe. Pak Dhe Jokowi menjadi seseorang yang begitu disegani, bahkan para pembenci pun tidak berkutik melihat keindahan gerakan kuda Jokowi. Banyak orang yang akan mencibir bahwa Jokowi merupakan orang yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kasus Ahok.
Biarkan saja mereka mencibir Jokowi, toh jika Jokowi melakukan intervensi, keadaan dipastikan akan memburuk. Tidak perlu kita pisahkan antara pendukung Jokowi dan pendukung Ahok. Jika berhasil terpisah, strategi kaum oposisi di dalam menggembosi suara Jokowi pada pilpres 2019 dianggap berhasil.

Pengakuan internasional terhadap kepemimpinan Jokowi yang sangat baik, tentu ibarat ludah yang mendarat tepat ke muka para pimpinan DPR. KPK begitu ingin dilemahkan oleh DPR, menandakan para pimpinan DPR takut keadilan ditegakkan dan secara langsung DPR mendeklarasikan dukungan terhadap aksi korupsi dengan kehadiran mereka kepada narapidana koruptor. Inilah yang terjadi di Indonesia. DPR ketika tidak bisa menghancurkan Jokowi, ia ingin menghancurkan oknum-oknum yang sepaham dengan Jokowi. Kinerja Jokowi, tidak perlu dilihat dari bagaimana caranya memasang kancing jas, itu terlalu tol*l untuk dibicarakan.
Sampai saat ini Presiden masih diam terhadap fitnahan-fitnahan. Mungkin saja ia ‘sengaja’ membawa keluarganya ikut pertemuan kenegaraan, memang untuk membuat suasana hati para kaum bumi datar keruh. Jokowi adalah tipe orang yang pintar memancing di air keruh. Dengan ‘pancingan’ yang menggiurkan, ia berhasil meluluh lantahkan pemikiran kaum bumi datar. Buktinya, Fadli Zon dan beberapa partai oposisi sudah terlihat kepanasan.
“Saya harap kita menjadi teman dan bisa menghasilkan banyak kesepakatan. Kita memang sudah memiliki relatif banyak kerja sama ekonomi,” kata Trump.
Miris! Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket KPK Tak Henti-hentinya Bermanuver. Alih-alih bertanya kepada rakyat yang merupakan korban para koruptor, anggota-anggota DPR yang terhormat itu justru lebih memilih bertanya kepada para koruptor di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Dengan banyaknya manuver-manuver dari Anggota Pansus hak angket DPR yang tidak sesuai dengan suara dari mayoritas rakyat Indonesia, Maka wajar saja kalau hasil survei terkait kinerja dan kepercayaan rakyat terhadap lembaga DPR ini selalu rendah.
Seharusnya kan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat itu mendatangi konstituennya masing-masing dan bertanya apakah mayoritas rakyat setuju dengan hak angket KPK yang mereka gulirkan itu? Apakah rakyat setuju dengan niat mereka bertemu napi korupsi di Lapas Sukamiskin dan Pondok Bambu? Kalau benar mereka menangkap suara rakyat pasti mereka tidak akan menggulirkan hak angket maupun menemui para napi kasus korupsi.
Namun faktanya mereka justru keukuh mendatangi para narapidana kasus korupsi dengan dalih ingin menggali dan mendapatkan informasi.
Saya sebenarnya bingung. Karena sangkin bingungnya, gatal kepala saya jadi kumat. Sangat tidak masuk akal menurut saya alasan DPR itu menjumpai napi korupsi hanya untuk menggali dan mendapat informasi. Sama sekali tidak ada relevansinya menurut saya.
Memangnya informasi apa yang bisa diperoleh dari para napi kasus korupsi itu? Wong Mereka saja sudah tega membohongi Tuhan dan ratusan juta rakyat Indonesia dengan bertindak korup. Para koruptor bahkan tidak segan mengambil uang rakyat yang bukan miliknya sehingga merugikan Negara dan mencoreng wajah hukum. Rakyat semakin miskin akibat ulah para koruptor. Hukum juga semakin rusak dan pembangunan pun tersendat.
Setelah tertangkap karena mengambil yang bukan hak-nya, Memangnya apalagi yang bisa dipercaya dari omongan para napi korupsi? Jangan-jangan nanti malah anggota DPR yang dikibulin sama para napi kasus korupsi tersebut? Apa para anggota DPR yang terhormat mau? Jangan sampai anggota DPR yan terhormat diperlakukan demikian oleh para napi.
Jujur saja, entah apa maksud dan maunya anggota DPR yang terhormat ini sebenarnya. Jangan-jangan ada undang dibalik bakwan?
Ya memang DPR sekarang ini seperti sedang berjalan sendiri setelah terpilih dan enggan mendengarkan suara mayoritas rakyat Indonesia yang jelas-jelas lebih mendukung KPK dalam memberantas korupsi.
Apakah DPR ingin menghianati kepercayaan yang sudah Rakyat berikan? Coba dong DPR itu menemui rakyat, Tanyakan dan audiensi langsung rakyat itu kemauannya apa? Ini kenapa justru para para narapidana kasus korupsi alias koruptor yang ditemui di Lapas untuk audiensi? Ini kan hal yang tidak masuk akal sebenarnya. Jauh panggang dari api.
Kita tentu miris melihat manuver anggota-anggota DPR yang lebih mementingkan hak angket daripada percepatan pemberantasan korupsi. Memang sudah bukan rahasia lagi kalau kepercayaan rakyat Indonesia kepada lembaga yang satu ini sudah pada titik nadir. Berdasarkan hasil survei Kompas, persentase kepercayaan rakyat kepada KPK masih terbilang tinggi dikisaran 65%. Sebaliknya, kepercayaan rakyat kepada lembaga DPR hanya tinggal 6% saja. Menyedihkan bukan?
Wajar rakyat kembali meragukan niat lembaga DPR di negeri ini dalam mendukung KPK. Pasalnya akhir-akhir ini terlebih setelah korupsi e-ktp mulai terungkap, memang belum terasa sedikitpun manfaat dari lembaga yang satu ini untuk mendukung kinerja KPK.
Lembaga DPR tak ubahnya seperti taman kanak-kanak. Inilah ungkapan yang pernah dikatakan oleh Alm. Gusdur. Dan ungkapan ini sepertinya belum akan berubah.
Lalu, dengan kinerja dan tindakan yang terus tidak sejalan dengan kemauan mayoritas rakyat seperti ini maka wajar rakyat semakin tidak percaya terhadap lembaga ini. jika tetap tak mau berubah, lama-lama kepercayaan rakyat mungkin akan menjadi nol. Karena terlalu sering bermanuver, wajar juga kalau rakyat menganggap bahwa lembaga DPR hanya menghabiskan uang Negara tanpa mampu memberi kontribusi signifikan bagi Negara dan bangsa dalam mencapai tujuan nasional.
DPR harusnya sadar kalau mayoritas rakyat itu lebih mendukung KPK. Jadi, Lebih baik DPR berubah dan segera bubarkan saja itu pansus angket KPK. Jangan lagi ganggu kerja KPK dalam memberantas korupsi di negeri ini. Harusnya DPR membuka jalan lebar-lebar bagi KPK dalam upaya memberantas korupsi. Jangan membela kolega-kolega anda di DPR yang diduga terlibat korupsi. Biarkan KPK masuk ke DPR dengan bebas agar dapat menindak para pelaku yang diduga melakukan tindak pidana korupsi. DPR tidak perlu mengganggu kinerja KPK. Cukup dukung dan perkuat KPK secara nyata. Soal bersalah atau tidak biar pengadilan dan hakim yang memutuskan.
Seperti yang kita ketahui, memang ada mafia dibalik layar yang ingin mengerdilkan KPK. KPK bahkan sudah bolak-balik berusaha dikebiri. Tujuannya tentu menghambat kinerja KPK dan pemberantasan korupsi. Jadi, DPR harusnya berubah dan mendukung KPK. Jangan malah terkesan ikut menghambat kinerja KPK dan ikut mengebiri KPK dengan hak angket.swd
Keluarga JokowiDewasa ini dunia maya di Indonesia dihebohkan dengan berita yang menceritakan bahwa Presiden Joko Widodo memboyong seluruh anggota keluarganya ke Jerman, seperti yang ditulis dari kutipan berita berikut :Presiden Joko Widodo memboyong keluarganya ikut kunjungan kerja ke Turki dan Jerman. Tak hanya Ibu Negara Iriana, Jokowi juga membawa ketiga anaknya, yakni Gibran Rakabuming, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep.
Menantu Jokowi yang merupakan istri dari Gibran, Selvi Ananda, juga ikut dalam rombongan. Begitu juga anak dari Gibran dan Selvi, Ethes, yang baru berusia satu tahun empat bulan. – KompasPara haters dan lawan-lawan politik Jokowi berteriak kegirangan sambil loncat salto di rumah. Mereka menggoreng berita ini seperti menggoreng kacang. Bahkan salah satu anggota DPR paling sensasional, Fadli Zon juga ikut berkomentar, seperti yang dikutip dari berita di bawah ini :Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon menyayangkan sikap Presiden Joko Widodo membawa keluarga, bahkan cucunya, dalam kunjungan kenegaraan ke Turki dan Jerman. Menurut Fadli Zon, semestinya Presiden Jokowi bijaksana dalam memiliah-milah pendamping dalam kunjungan kenegaraan tersebut.
Fadli mengatakan, memang sesuai aturan yang berlaku anggota keluarga Presiden juga mendapatkan fasilitas protokoler tertentu. Fasilitas itu juga bersifat melekat. Namun, dia mengatakan, Presiden semestinya bijaksana dan bisa memilah.
Jangan sampai fasilitas bagi kerja kepresidenan ditumpangi oleh kepentingan pribadi keluarga Presiden. “Apalagi ini dilakukan secara mencolok,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat (7/7). – RepublikaPada awalnya saya termakan dengan gorengan isu mereka, bahkan saya sempat berpikir apakah Pak Jokowi sudah berubah dan menjadi jumawa akibat kegemilangan dan prestasinya selama ini. Saya mencoba kembali melihat anggota keluarganya satu per satu. Mulai dari Gibran Rakabuming, yang tak pernah mau restorannya dibesarkan atas nama kepentingan politis. Kahiyang Ayu yang pernah gagal tes CPNS dan sekarang bertunangan dengan seorang rakyat jelata, bukan dengan anak pejabat lainnya seperti yang biasanya dilakukan untuk kepentingan politik. Dan Kaesang si ‘Ndeso’ yang selalu mengkritik kehidupan glamour para pejabat. Dan ini semua tidak mungkin jika semata hanya untuk membawa keluarganya jalan-jalan.Selaku manusia intelek, saya akan berpikir kembali dan mencoba menempatkan diri saya di posisi Pak Jokowi.Dan akhirnya jatuh pada suatu kesimpulan bahwa ini adalah kode dari Pak Jokowi.Kode. Ya kode. Seperti yang sering dilakukan oleh Pak Jokowi. Mulai dari menyindir Pak SBY melalui tur Hambalang, hingga menyindir para pemboikot Starbuck dengan mengunjungi Kafe Kopi lokal.Lalu apa isi kode tersebut?Setelah saya mencoba mengkaji, saya yakin bahwa isi kode tersebut adalah bahwa “Pak Jokowi masih memperhatikan keluarganya.”Terkesan merupakan hal yang biasa, karena setiap orang tua pasti memperhatikan keluarganya, tetapi berbeda jika posisinya merupakan seorang presiden. Selain sebagai kepala keluarga, beliau juga merupakan seorang kepala negara yang harus memperhatikan jutaan keluarga lainnya.Jika kita melihat bagaimana kehidupan keluarganya, kita pasti akan menyadari bahwa masing-masing dari mereka memiliki kehidupan sendiri dan hidup mandiri. Tidak seperti keluarga cendana dan keluarga cikeas yang selalu tumbuh dibawah sayap sang ayah. Tetapi selaku keluarga dari pemimpin sebuah negara memang seharusnya begitu. Harus dapat terjangkau satu dengan yang lainnya.Keluarga merupakan bagian terpenting dalam hidup setiap manusia, tak terkecuali seorang presiden. Seorang ayah pasti rela mengorbankan segalanya demi kehidupan dan keselamatan anaknya. Dan itu lah yang menjadi tantangan Pak Jokowi saat ini.Keinginan untuk menunjukkan perhatian menjadi kebutuhan utama yang harus dilakukan oleh Pak Jokowi kepada keluarganya setelah melihat berbagai ancaman yang terjadi saat ini. Bagaimana Novel Baswedan disiram air keras, bagaimana teroris dapat menyerang Mapolda Sumatera Utara, hingga surat-surat ancaman yang dikirimkan oleh teroris kepada kepolisian.
Gambar 2. ISIS mengancam IndonesiaBayangkan jika ancaman tersebut datang ke anggota keluarganya. Mungkin saja mereka sudah pernah mendapatkannya, tetapi mereka tidak menunjukkannya ke publik. Apabila mereka mendapatkannya, dan jika salah satu anggota keluarganya ditawan hal itu sudah pasti akan mengganggu perhatian Pak Jokowi yang sedang akan membangun Indonesia secara cepat saat ini. Dan musuh Pak Jokowi bukan hanya kelompok teroris saja, tetapi juga para pejabat, dan bahkan koleganya sendiri yang ada di dalam istana. Kita melihat bagaimana Kaesang juga sudah mendapat laporan dari rakyatnya. Meskipun Pak Jokowi terkesan tidak peduli, tetapi sebagai seorang ayah pasti dia akan memikirkan hal tersebut. Rakyat, yang susah payah kesejahteraannya diperjuangkan malah melaporkan anaknya atas dasar sakit hati.Maka melalui ‘fenomena’ tur bersama keluarga ini, Pak Jokowi ingin menunjukkan bahwa dia masih memperhatikan seluruh anggota keluarganya, dan memberikan sinyal agar jangan berani bermain api yang besar dengan mereka.Pak Jokowi pasti sudah memikirkan hal ini matang-matang. Dia yakin elektabilitasnya pasti akan turun. Tetapi sebagai seorang manusia yang cerdas Pak Jokowi tentu akan memilih mempertahankan keluarganya. Karena elektabilitas bisa dibangun kembali, sedangkan keluarga hanya ada satu.Mari selalu kita dukung Pak Jokowi untuk Indonesia yang lebih baik.#JokowiuntukIndonesiaReferensi :http://nasional.kompas.com/read/2017/07/07/18271531/bawa.anak.mantu.cucu.ke.jerman.jokowi.dianggap.tak.beri.keteladananhttp://http://www.republika.co.id/berita/dpr-ri/berita-dpr-ri/17/07/06/osocjf257-dpr-gelar-diskusi-nasional-bahas-ruu-kuhp-dan-kuhap
Ada Bom di Mapolres Solo? Ini pasti konspirasi densus!
Ada bom di Jl. Thamrin? Rekayasa polisi!
Ada bom di Gereja Samarinda? Rekayasa polisi!
Ada bom di Gereja Medan? Ini rekayasa polisi!
Ada bom panci yang gagal meledak? Pengalihan Isu!
Ada penusukan aparat kepolisian di Bandung? Rekayasa!
Ada penusukan dan pembunuhan di Mapolda Sumatera Utara? Ini hanya rekayasa polisi!
Dan semalam, ada anggota brimob ditusuk saat berada di masjid? Ini rekayasa!
Ayolah kawan. Ini soal nyawa. Pembunuhan. Hentikan celoteh dan imajinasi konspiratifmu. Pembunuhan tetaplah pembunuhan. Kelak, kalau ayah-ibumu disembelih, engkau takkan peduli motif pelaku. Pembunuhan tetap pembunuhan. Titik.
Total 42 polisi gugur akibat tindakan Lone Wolf yang berbaiat kepada ISIS. Kemampuan mereka menurun, tak lagi leluasa membuat bom karena rekrutmennya masih baru. Tapi mereka masih berbahaya. Kini, di berbagai wilayah di dunia mereka melakukan teror dengan pisau dan menabrakkan minivan maupun truk ke arah kerumunan massa.
Logika macam apa yang terus menerus menyatakan ini rekayasa polisi. Konspirasi ini itu, dan sebagainya. Ayolah. Buka mata. Pelaku ini juga saudara kita. Muslim juga. Kalau dibiarkan semakin berbahaya. Mereka terus berkembang karena diam-diam ada yang bersimpati dengan aksi mereka sekaligus memberikan clue bahwa ini "hanyalah" pengalihan isu, rekayasa, konspirasi dst. Mereka semakin massif melakukan rekrutmen karena diam-diam kita tidak berteriak lantang saat Islam dibajak dan dibusukkan. Kita masih ngomong kejayaan masa lalu sembari ngobrolin konspirasi ini-itu, tapi di sisi lain, memberikan peluang bagi para bajingan memprovokasi pembunuhan atas nama "jihad".
Apa yang saya maksud dengan sulit menerima kenyataan? Lihatlah, ayo kita lihat baik-baik, dalam setiap aksi pengeboman di tanah air selalu ada teori konspirasi bahwa bom ini itu adalah "konspirasi", "ulah intelijen", & "pengalihan isu", dan entah teori apa lagi. Padahal kita tahu Bom Kedubes Filipina, Bom Bali 1 & 2, Bom Marriot, Bom Ritz Carlton, Bom Bunuh Diri di Polresta Cirebon, Bom Thamrin, Bom Polres Solo, dan berbagai pengeboman lainnya pelakunya ya saudara-saudara kita yang mengidap penyakit jiwa.
Konspirasi? Hahaha, lha wong terorisnya bikin video pengakuan sebelum bertindak kok, sebagian bikin surat pernyataan dan wasiat. Mereka bangga dengan "jihad"nya. Terorisnya bawa paspor dan KTP, kok bisa? Ya iyyalah. ini era digital. Setiap aksi pengeboman dan teror pelaku sengaja membawa identitas dirinya untuk menunjukkan eksistensinya sebagai "mujahid". Bahkan, seringkali ada kawannya yang sengaja merekam aksinya lalu menguploadnya di web yang dikelola ISIS. Kalau anda mampir di webnya ISIS maupun blog yang dikelola simpatisannya, niscaya bakal menemukan banyak video aksi bom bunuh diri maupun video testimoni "kesyahidan" dan video wasiat sebelum mereka melakukan aksinya.
Ayolah, akuilah, ada sebagian saudara-saudara seiman kita yang sinting dan melakukan pembusukan ayat al-Qur'an melalui tindakan bar-barnya. Sebagian malah bangga dengan aksinya. Tak percaya? Lihatlah berbagai statemen sebelum maupun sesudah aksinya. Tak perlu lagi menutupi borok ini, tak usah lagi menyebarkan kabar bohong untuk mengarang cerita konspirasi. Tak perlu menuduh ini itu, konspirasi ini itu toh korban-korban yang berjatuhan mayoritas orang Islam juga. Paham kan sayang? Pelaku muslim, dan mayoritas korbannya juga muslim. Di Indonesia, Timur Tengah, Pakistan, Afganistan, Libya, Sudan dan Somalia, jumlah kaum muslimin yang terbunuh dan terusir dari kampung halamannya bukan diakibatkan oleh epidemi, melainkan oleh sesama umat Islam sendiri. Mau protes atas statemen saya? Silahkan!
Saat ini umat Islam butuh MUHASABAH, bukan MUBAHALAH!
Wallahul Musta'an
Oleh : Gus Rijal Mumazziq Z