Ternyata Hanya Srikandi Ibu Pertiwi Yang Mampu Mendamaikan Dua Bangsa Korea

 




Buat saya merupakan suatu kebanggaan ketika melihat negara kita Indonesia dipercaya untuk menjembatani konflik berkepanjangan dua negara bangsa korea, yang kita semua tahu sesungguhnya perpecahan tersebut tercipta akibat dampak dari perang dingin antara blok barat dan blok timur.

Adalah Megawati Soekarnoputri wanita yang selalu disebut sebagai emak banteng oleh para netizen, mendapatkan kepercayaan dari presiden baru korea selatan Moon Jae-in untuk menyambungkan kembali tali persaudaraan antara kedua Negara yang dulunya berada dalam satu Dinasti Kerajaan.

Siapa sangka putri kedua Bapak Proklamator Indonesia ini rupanya mempunyai akses VIP ke pemimpin korea utara yang konon menurut pemberitaan media, terkenal sangat kejam. Tidak ada pemimpin negara manapun yang berani SKSD (sok kenal sok dekat) dengan pemimpin negara diktator ini. Bahkan dulu pada saat kepemimpinan Kim Jong-il hanya dua mantan presiden Amerika Serikat yang mau ditemuinya. Itupun karena mantan Presiden negara adikuasa tersebut menjaminkan dirinya, dalam upaya pembebasan dua orang jurnalis serta seorang aktivis dan guru, karena memasuki wilyah korea utara secara illegal, yaitu Bill Clinton dan Jimmy Carter.

Sebagai gambaran, secara historis dulu hubungan Presiden RI pertama Soekarno dengan pemimpin Korea Utara pertama Kim Il-sung sangat baik. Kim Il-sung pernah diundang Soekarno ke Jakarta. Dalam lawatannya di Jakarta itu Soekarno memberikan anggrek tanda persahabatan kedua negara kepada Kim Il-sung yang kemudian dikenal dengan “Diplomasi Anggrek”.

Dalam kesempatan itu, Megawati pun berkenalan dengan putra Kim Il-sung yang ikut ke Jakarta, yakni Kim Jong-il hingga keduanya (Mega-Kim Jong-il) menjabat Presiden. Seiring waktu berjalan, putra Kim Jong-il yang kini memimpin Korea Utara Kim Jong-un pun menghormati dan mempercayai sosok Megawati. Di sisi lain saat Megawati menjabat Presiden RI, Korea Selatan dipimpin oleh sosok Kim Dae-Jung yang sangat mendambakan persatan dua Korea.

Sejak kepemimpinan Korsel dipegang Kim Dae-Jung lalu beralih ke Roh Moo-hyun, upaya reunifikasi terus dilakukan. Korsel pun meminta Megawati untuk menjembatani reunifikasi itu sejak Megawati masih menjabat Presiden RI kelima.

Namun upaya itu terhambat karena kepemimpinan di Korsel terus mengalami pergantian.

Kini pemimpin Korsel yang baru dilantik 10 Mei 2017 lalu, Moon Jae-in kembali meminta Megawati untuk membantu terwujudnya reunifikasi dua Korea.

“Tentu saya tidak secara pribadi, ini sebagai utusan dari Indonesia,” ujar Megawati.

Megawati sendiri mengatakan belum mau berbicara spesifik mengenai upaya apa yang akan dilakukannya untuk membantu reunifikasi dua Korea. Namun dirinya menyiratkan bersedia membantu terwujudnya persatuan dua Korea.

JEJU, KOMPAS.com – Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri mengungkapkan bahwa dalam pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, dia diminta untuk menjadi utusan Korea Selatan untuk melakukan reunifikasi dengan Korea Utara.
Presiden Moon bahkan meminta Megawati untuk ke Korea Utara sebagai upaya untuk memulai reunifikasi dua negara di semenanjung Korea tersebut.
“Beliau minta saya jadi utusan untuk pergi ke Korea Utara,” kata Megawati saat berada di Pulau Jeju, Korea Selatan, Selasa (30/5/2017).
Niat baik pasti akan selalu ada jalan baik, saya yakin sekali apa yang akan dilakukan oleh ketua umum PDI Perjuangan ini tentunya demi kebaikan bangsa korea. Sebagaimana dilakukan mendiang ayahnya Presiden Indonesia pertama Sukarno, yang memiliki ambisi mulia yakni menciptakan tatanan dunia yang harmonis, adil dan tanpa adanya ekploitasi. Untuk mencapai ini ia meyakini bahwa setiap bangsa harus mengenyam kemerdekaan yang menjadi hak segala bangsa.

Dimasanya Soekarno melihat bahwa “biang keladi dari segala bentuk penindasan adalah imperialisme yang merupakan anak sah kapitalisme-libralisme”. Lebih dari sekedar kemerdekaan politik, Bung Karno menekankan “pentingnya tatanan ekonomi dan kebudayaan global yang adil” yang memungkinkan setiap bangsa dan umat manusia bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya bagi kemajuan peradaban dan kemanusiaan global.

No comments:
Write komentar