Parah, Anies Sebut Tidak Perlu Perjuangkan Kebhinekaan Dan Kemerdekaan, Pertanyaanya anda sudah Ngopi?

 



pagi-pagi konsumsi wajibnya adalah ngopi dan ngopas, mengolah pikiran dan mengolah prospek kedepan anda..
“Namanya juga Anies” sepertinya akan menjadi jargon yang akan terus dikenang ketika Pilkada DKI siap digelar. Anies memang sudah sangat berhasil menunjukkan kepada Indonesia bagaimana bahayanya ambisi dan kata-kata. Kalau kita tidak berhat-hati, ambisi dan kata-kata tersebut akan membunuh kita secara perlahan.
Anies mengalami betul hal tersebut. Anies tidak berdaya mengendalikan ambisi dan kata-katanya, sehingga kini harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan karir politiknya. Tetapi sayangnya, Anies bukan semakin memperbaiki dirinya, malah semakin tenggelam dan rusak pamornya karena mengeluarkan kata-kata yang menjadi bumerang baginya.

Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menyampaikan pidato kebangsaan di Hotel Dharmawangsa, Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Senin (3/4/2017. Dalam pidatonya Anies menyinggung mengenai kebhinekaan dan kemerdekaan. Menurut Anies, yang cerdas ini, kebhinekaan dan kemerdekaan tidak perlu diperjuangkan karena merupakan fakta. Yang diperjuangkan itu persatuan.


“Jakarta sebagai kota yang harus mempersatukan, tampaknya di Jakarta hari ini we have union in the action unity. Kita memiliki union kebersamaan, tapi kita tidak memiliki persatuan,” ujar Anies dalam pidato kebangsaan di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (3/4/2017).


“Kebinekaan itu fakta, karena itu tidak usah diperjuangkan. Ada yang mengatakan memperjuangkan kemerdekaan, kemerdekaan itu fakta, fakta itu diterima, bukan diperjuangkan. Yang harus diperjuangkan bukan kebinekaan, (tapi) persatuan di dalam kebinekaan, itu yang harus diperjuangkan,” ucap Anies.

Pernyataan GILA Anies ini semakin menunjukkan dirinya memang sudah semakin menurun intelektualitasnya dalam pemahaman bernegara. Wajar pada akhirnya, muncul sindiran gerakan tenun kebangsaaan Anies menjadi tenun kebangsatan. Mengapa? Karena Anies tidak peduli dengan kebhinekaan demi persatuan dengan gerombolan bangsat. Kaum intoleran, anti Pancasila dan NKRI, serta mafia dan koruptor.
Anies yang seperti tidak sadar bahwa kebhinekaan dan kemerdekaan harus diperjuangkan (dipertahankan) malah menyempurnakan kebodohan dan kedangkalan berpikirnya dengan ilustrasi koplak.
perlu diperjuangkan untuk kotak, “Sama halnya mengatakan ruangan ini kotak, ini fakta, ruangan ini tidak memang kotak,” kata Anies.

Bodoh dan tidak waras bukan pernyataannya? Apa bisa ruangan kotak dianalogikan dengan kebhinekaan dan kemerdekaan? Apa bisa sesuatu yang statis disamakan dengan sesuatu yang dinamis? Kotak jelas bentuk dan dimensinya, sedangkan kebhinekaan dan kemerdekaan tidak. Bentuknya dan dimensinya abstrak serta dinamis.
Wong ruangan kotak kalau tidak dijaga dan dirawat bisa berubah tidak kotak lagi. Penyebabnya bisa karena orang lain yang tidak suka dan ingin mengubah ruangan tersebut atau bisa juga karena langit-langit atau temboknya keropos. Kebhinekaan dan kemerdekaan juga seperti itu. Kalau tidak kita perjuangkan dengan menjaga dan merawatnya, FPI dan HTI akan merongrongnya.
Keanehan pernyataan Anies terletak pada pemisahan antara memperjuangkan kebhinekaan dan kemerdekaan dengan memperjuangkan persatuan. Seorang bergelar S3 bisa tidak paham bahwa persatuan tidak berdiri sendiri dari kebhinekaan dan kemerdekaan. Memperjuangkan persatuan berarti memperjuangkan kebhinekaan dan kemerdekaan. Memperjuangkan persatuan dalam kebhinekaan adalah memperjuangkan kebhinekaan itu sendiri.
Saya tidak tahu apa maksud Anies mengatakan hal tersebut. Apakah ingin terlihat cerdas dengan sebuah gagasan baru? Saya malah melihat keanehan, kebodohan, dan ketidakwarasan dalam pernyataannya. Anies tidak lagi pakar berkata-kata, melainkan sangat lihai dalam bersilat lidah.
Anies menyebut terdapat kekeliruan konseptual jika ada yang mengatakan memperjuangkan kebinekaan. Kebinekaan adalah fakta yang harus dijaga dengan fokus terhadap sila pertama dan sila ketiga Pancasila. Lalu apakah menjaga itu bukan sebuah perjuangan? Lalu apa maksud pernyataan Soekarno berikut??

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Punya keinginan untuk menjadi Gubernur tidak salah, tetapi membodohi dan membohongi warga serta plintat plintut dan memplintir gagasan dan konsep bukanlah sesuatu yang benar dan tepat. Bertanding dengan benar dan punya nilai serta harga diri lebih penting daripada kemenangan Pilkada. itulah yang membedakan seorang negarawan dan politisi.
Ahok dengan gamblang menyebutkan hal tersebut dalam acara debat di mata najwa. Dia tidak mau membohongi warga untuk menang Pilkada. Dia ikhlas mau menang atau kalah. Bukankah keikhlasan lebih berharga dar sebuah kemenangan? Silahkan warga Jakarta memilih, mau yang ikhlas atau yang sangat ambisus.
Salam Perjuangan.[seword]

No comments:
Write komentar