SEJARAH “SURGA”: TAHAPAN PSIKOLOGI SPIRITUAL

 

"The spiritual journey is individual, highly personal.
It can't be organized or regulated.
It isn't true that everyone should follow one path. Listen to your own truth."
(Ram Dass) 

Surga, kayangan, kerajaan surga, nirvana, dan lain sebagainya adalah istilah yang sudah sangat sering kita  dengar. Umumnya dipahami sebagai kehidupan kekal yang bahagia setelah kematian.  Ada sebagian yang mengatakan surga hanya sebagai  kehidupan membahagiakan transisi sebelum mencapai kebebasan (moksa).

Akan terlalu panjang membahas kosmologi agama-agama. Namun secara sekilas saja perlu diketahui.

Istilah “Surga” berasal dari kata sansekerta “svarga”. Ada istilah “svarga loka”, alam surga, dalam Hindu disebutkan sebagai salah satu dari tujuh alam (loka), mulai dari Bhu loka (prithvi loka), bhuvar loka, svarga loka, mahar loka, jana loka, tapa loka dan yang tertinggi adalah satyaloka (brahma loka). Tingkatan alam ini diilustrasikan dalam gunung Meru, sedangkan dibawah Bhu loka adalah alam rendah yang disebut patala.

Disebutkan Svargaloka dipimpin oleh Dewa Indra, sebagai pemimpin dari 8 dewa lainnya. Ini mirip dengan kosmologi Yunani di mana Dewa Zeus sebagai pemimpinnya. Dalam perkembangannya, terutama setelah bangsa Arya menginvasi India, Dewa lokal India seperti Siwa lebih populer. Bukan hanya itu Trimurti, yaitu dewa Brahma, Wisnu dan Siwa memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding Dewa Indra.

Surga dihuni oleh para Dewa. Istilah sansekerta “deva” yang berarti cahaya, diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi Deus. Dewa, Deva, Deus, dalam bahasa nusantara dulu menjadi Dahyang, Hyang, karena itu ada kata “sembahyang”, artinya memberi penghormatan pada Hyang, Dewa, Dahyang, atau sosok yang luhur.

Terlepas sejarah dari tradisi tertentu, yang jelas, semua itu tentang proses pencarian manusia akan tujuan hidup, yakni kebahagiaan. Kebahagiaan dipersepsikan sangat variatif tergantung pemahaman dan tingkat evolusi spiritualnya. Karena itu dalam judul saya beri tanda kutip “surga”. Mempertanyakan sejarah “surga”, itu seperti mempelajari tahapan perkembangan psikologi spiritual. Dalam tulisan ini saya lebih banyak membahas dari sisi psikologi spiritual, bukan untuk menampilkan tulisan-tulisan yang dogmatis apalagi yang sudah umum dan diajarkan dalam ajaran agama yang sudah demikian formal.

LEGENDA SEBAGAI SASTRA
Sudah menjadi pengetahuan umum, ketika suatu bangsa, peradaban berkembang, dalam seni budaya, maka pendidikan meningkat. Zaman dahulu pendidikan itu melekat dengan pitutur, yang dikemas dalam kisah, dalam narasi karena selain menghibur juga memberikan arti akan nilai hidup. Sastra adalah penyajian pengetahuan dan bentuk seni yang menandai berkembangnya suatu peradaban adalah seni kriya, patung, dan aritektur. Makna-makna kehidupan, kekuatan alam, dipersonifikaikan, disimbolkan dalam sosok, ikon, ini adalah dewa-dewi. Tanpa ada ikon yang dijadikan sebagai kebangkitan sastra maka kebudayaan tidak akan bertahan lama. Jadi suatu ikon atau simbol itu bukan sekedar untuk obyek pemujaan, tapi memiliki makna universal yang mendalam dibalik itu semua.

INSIDE VS OUTSIDE
Konsekuensi dari penyampaian lewat narasi atau legenda adalah segala sesuatunya diwujudkan dalam bentuk. Dan bentuk itu selalu outside.

Surga yang digambarkan bertingkat-tingkat hingga pada lapisan yang tertinggi, itu bukan tentang outside tapi inside. Sama halnya kisah Parwati yang berusaha bersatu dalam setiap kehidupan untuk bertemu Siwa. Itu menarik dan bisa menjadi kisah drama, bahkan mungkin romantisme yang melibatkan kesetiaan. Namun makna sejatinya adalah penyatuan energi dengan kesadaran. Parwati sebagai shakti adalah energi, dan Siwa adalah kesadaran (consciouness).  Tidak mudah memahami ajaran esoteris seperti ini. Walaupun aspek esoterisnya belum dipahami, orang juga “hafal” tentang kisah narasi antara Parwati dan Siwa. Ini baru satu contoh tentang kisah Siwa Mahadewa, masih banyak kisah lainnya.

TIGA TAHAPAN
Seperti yang sudah disinggung bahwa tujuan manusia bisa diringkas dalam satukata yaitu kebahagiaan. Masalahnya kebahagiaan itu dipahami berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahamannya.
Tahapan motivasi atau kebutuhan psikologis manusia, itu semuanya adalah tentang kebahagiaan, tapi kebahagiaan dengan bentuk kebutuhan yang berbeda. Setidaknya ada tiga tingkatan, tanpa bermaksud meniru teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow. Ini bentuk penyederhanaan saja, yang mungkin masih jauh dari sistematika yang rapi.

Tahap awal, atau pertama, adalah kebutuhan fisik.
Manusia ingin hidup bisa cukup makan, minum dan punya tempat tinggal. Bisa memenuhi kebutuhan hidup, itu adalah bahagia. Ini tahap kebutuhan yang sangat mendasar. “Surga” bagi mereka adalah yang bisa hidup enak. Apa-apa serba kecukupan. Dalam sejarah dunia, banyak contoh ikon atau dewa sebagai lambang kesuburan.

Tahap kedua adalah kebutuhan rasa aman.
Manusia butuh rasa nyaman. Tidak ada bencana, tidak ada peperangan, yang pada gilirannya membuat kebutuhan fisik menjadi terhalang. “Surga” bagi mereka adalah rasa aman, keadaan yang serba teratur, tidak ada bencana alam, maupun bencana peperangan. Dalam sejarah dunia, banyak contoh ikon atau dewa sebagai lambang keamanan. Dewa perang. Dewa gunung. Dewa Laut. Intinya adalah sosok yang mewakili kekuatan alam.

Tahap ketiga adalah kebutuhan mengolah rasa.
Tahap satu dan dua adalah kebutuhan sandaran psikologis. Butuh sosok untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Tahap ketiga adalah tahap ketika sudah sadar bahwa kebahagiaan itu bukan dari luar tapi dari dalam. Pada akhirnya, mesti mandiri, mesti mawas diri, dan tahu tentang cara kerja alam, dan itu membawanya pada pencerahan.

SANDARAN PSIKOLOGIS VS OLAH RASA
Motivasi sandaran psikologis lebih mengutamakan berkah dari luar. “Surga” itu adalah tercapainya keinginan. Berbeda dengan motivasi akan olah rasa. Mereka sudah paham bahwa kebahagiaan itu ketika bathin dalam keadaan harmonis, tiada konflik, dan hal ini justru didapat ketika “melepas”, bukan “mencapai”.

Mereka yang masih Sandaran Psikologis belum bisa memahami bahwa keserakahan itu penderitaan. Bisa mencapai ini dan itu, bahkan melekatinya, bagi mereka justru kebahagiaan. Bahkan tanpa disadari, pada waktu mereka  membenci dan membalas orang lain itu adalah kebahagiaan.

Sedangkan mereka yang sudah tahap olah rasa, mereka menyadari bahwa kemelekatan itu penderitaan. Ketika dilepas, maka lebih lega. Lego ing nyowo (legowo), ada kesegaran dalam bathinnya, ada kedamaian, dan itu jika dikembangkan, diolah lebih lanjut, itulah kebahagiaan sejati.

Mereka yang Sandaran Psikologis mengukur kebahagiaan dari meningkatnya kemelekatan.  Karena itu mereka akan rame ing pamrih, dan kalo perlu selalu sepi ing gawe. Mereka yang mengolah rasa justru mengukur kebahagiaan dari pelepasannya terhadap kemelekatan. Sepi ing pamrih itu membawa ketentraman hati. Sepi ing pamrih lan rame ing gawe. Dari sini saja sudah nampak cara berdoanya. Orang yang Sandaran Psikologis berdoa banyak minta tapi tidak banyak berbuat. Apa-apa disandarkan pada mukzizat. Berbeda dengan cara berdoa orang yang mengolah rasa. Mereka lebih suka berdiam diri, menikmati keheningan untuk melepas pamrih. Karena tahu bahwa mukzizat sejati adalah hidup berkesadaran, eling lan waspodo. Sak bejo-bejo ne wong urip, isih bejo wong tansah eling lan waspodo. Seandainya ada keinginan, itu lebih pd afirmasi diri untuk mengatur diri lebih baik, lebih bisa berdamai dengan keadaaan ‘apa adanya’.

Secara singkat, untuk meringkasnya. Mereka yang Sandaran Psikologis selalu outside, sedangkan mereka yang mengolah rasa selalu inside. Dari sudut pandang inside dan outside saja, kita bisa melakukan analisis yang mendalam.

BENARKAH SURGA ITU HEDONIS?
Ada suatu kisah, seseorang yang ingin mencicipi surga. Karena surga baginya adalah hidup yang serba enak. Apa-apa tersedia. Bahkan baru berpikir saja, apa yang diinginkan bisa muncul tiba-tiba didepan mata.

Mulailah orang ini berada di surga untuk pertama kalinya. Dia disulap dan pindah ke surga yang paling VIP. Baru di surga, dia berpikir “ingin makan enak”. Lalu, cling tiba-tiba ada Kepiting Saus Tiram terenak di dunia. Baru makan sebentar belum habis, sudah bosan. Berpikir “ingin menu masakan Barat”.  Cling, muncul Steak Tenderloin yang nikmat.  Sudah kenyang, perut jadi gak enak. Lalu, ingin perutnya enak. Cling, dikosongin lagi lambungnya. Lalu, ingin makan ini dan itu, dst. Bosan koq makan melulu, lalu ingin ganti aktivitas. “Ingin naik mobil balap”. Cling tiba-tiba di arena balap dengan menaiki mobil balap yang canggih. Dan aktivitas berlanjut dari satu aktivitas ke aktvitas lainnya.

Jika hidup dari satu kesenangan ke kesenangan lain, maka ada ketegangan di situ. Diakhir kisahpun, orang yang dulunya ingin mencicipi surga ini akhirnya memilih tidak mau hidup di surga dan sadar bahwa mengolah bathin itu lebih baik dan dia menjadi pertapa. Ini kisah yang benar-benar happy ending.

Surga hedonis yang digambarkan segala keinginan bisa tercapai, itu lebih merupakan upaya pelipur lara bagi manusia yang belum siap untuk mengolah bathin. Tahap kebutuhan mengolah rasa tidak bisa dipaksa tapi harus muncul dalam keadaran dirinya sendiri. Itulah mengapa orang yang rajin beribadah dan hafal pelajaran agama, perilakunya tetap liar. Walau liar namun masih mending karena dia takut oleh dogma-dogma agama. Liar namun tidak kebablasan. Namun beragama yang fanatik bisa menjadi kebablasan dan dia tidak sadar sudah hidup tidak damai. Dan hidup tidak damai berarti hidupnya menderita.

Dalam setiap agama di dunia, iming-iming surga hedonis itu ada. Mengapa? Jelas, itu hanya ajaran untuk membujuk orang yang belum siap pada tahap mengolah rasa.

SURGA BATHIN=NIRVANA=MOKSA
Orang yang mengolah rasa akan paham bahwa kebahagiaan itu dari dalam, bukan dari luar. Surga itu bathin. Untuk membedakan istilah surga yang umum dan populer, kadang disebut sebagai nirvana, atau kosmologi lain yang diatas surga, sesuai dengan simbol budaya setempat. Seperti dalam tradisi India, Moksa diletakkan sebagai tujuan yang lebih tinggi dari surga. Jika masih ingin memakai “surga” untuk mewakili tujuan yang lebih tinggi, sebut saja “Surga Bathin”.

Yesus pernah berkata “Kerajaan Surga ada diantara kalian.”

Ini jelas bukan “Surga Luar”, tapi “Surga Bathin”. Jika bathinnya tidak pernah dibenahi, tidak pernah belajar mengolah rasa, maka hidup dimanapun akan menjadi “neraka”. Always unhappy.

Beberapa tradisi tidak menggunakan istilah “Surga”, tapi menggantinya dengan “Tuhan”.
Rasul Paulus mengatakan “Tuhan itu kasih”.
Ketika orang mengolah rasa dan memasuki dimensi yang disebut manunggaling kawula gusti atau unio mytica, maka merasakan eksitensi Tuhan dalam cinta kasih. Inilah olah rasa. Mengolah rasa bukanlah mengolah kesaktian, tapi mengolah bathin agar damai dan bahagia dari dalam.

Beberapa tradisi lainnya, menyebutnya “moksa”. Bebas dari penderitaan, bebas dari semua nafsu keinginan. Ini puncak dari sepi pamrih, yang tersisa adalah kebahagiaan/kedamaian yang tak tergoyahkan. Dalam Buddhisme, disebut “nirvana”, yang scr hurufiah berarti tidak terbebankan, alias bebas dari siklus penderitaan atau samsara.


SIKLUS SAMSARA
 Orang yang mengolah rasa adalah orang yang mulai sadar telah berputar-putar pada lingkaran penderitaan yang sama. Semakin menggenggam, mengejar dan melekat, semakin menderita. Lalu mulailah sadar untuk berlatih melepas. Kedamaian dan kebijaksanaannya mulai tumbuh.

Siklus samsara juga punya versi sastranya. Dikatakan samsara itu roda penderitaan, lingkaran kelahiran kembali yang sangat lama dan berulang-ulang. Secara psikologis, samsara adalah Siklus penderitaan.  Siklus ini akan mulai melambat bahkan berhenti/terputus, dan itu mesti diawali dengan mawas diri, belajar tentang kehidupan (kawruh), dan mesti melatihnya melalui kesadaran (eling).

Eling lan waspodo, menyadari dan jeli dalam mengamati pikiran. Maksudnya mengenali kecenderungan diri yang mudah terprovokasi pada benci dan serakah. Dengan eling, maka reaksi simultan melambat. Seandainya masih ada penderitaan, maka penderitaan itu tidak akan terakumulasi begitu hebatnya sehingga akhirnya membuat diri keteteran sendiri.

Seperti halnya mengangkat gelas yang ringan pada satu lengan. 5 menit mengangka gelas, masih bisa. Tapibagaimana jika mengangkat gelas selama 1 jam, 1 hari, 1 minggu, dst, tentu melelahkan bukan? Dalam bertindak dan bebuat, kita tegang dan ngotot, dan lupa melepas. Melepas kemelekatan, melepas pamrih, lilo lan legowo adalah seni memberdayakan diri untuk melepas. Fase kelegaan yang semakin terasa, maka orang akan memiliki hidup yang tenteram. Seni mengolah rasa bekerja dengan seperti ini dan mesti diawali dengan eling.

"Science without religion is lame. Religion without science is blind."
(Albert Einstein)

PILIH SURGA YANG MANA?
Agama adalah ajaran yang dikemas pada khayalak yang luas. Jika dikonsumi oleh orang yang bathinnya siap, maka agama akan memberikan kedamaian. Coba saja lakukan analisa dan interpretasi yang bijak tentang ajaran agama, legenda, dan mitosnya! Selalu ada nilai universal yang bagus dan sangat membantu mengembangkan bathin. Hanya saja selama ini, kemunduran ajaran agama hanya memperhatikan ajaran mitologis-dogmatis pada aspek outside, akibatnya hanya berhenti pada seputar keyakinan semata, bahkan lebih ekstrim tentang surga dan neraka di hari besok, tanpa dipersenjatai ilmu tentang /untuk hidup “saat ini” dengan baik dan bahagia dalam arti sesungguhnya.

Khayalak luas meliputi tiga tahap yang saya sebutkan sebelumnya. Agama menyajikan “surga” sesuai dengan kebutuhan umatnya.

Saya belakangan baru mengerti mengapa kata “agama” berasal dari kata “ageman”,  yang artinya pakaian/baju. Kita terlalu banyak memakai baju yang indah-indah bahkan sangat mewah tapi tidak tahu tujuan memakai baju. Benarkah demikian?alexanderliem

No comments:
Write komentar