Jaya Suprana “Tertekan” Realita, Terbitkan Rekor MURI untuk Ahok Djarot, Ini Buktinya

 



Ilustrasi piagam penghargaan MURI

Sebagai seseorang yang tidak suka kepada Ahok, akhirnya Jaya Suprana yang merupakan jenius di dalam kelirumologi, mengakui kehebatan Ahok Djarot, dapat mendatangkan simpati warga dalam bentuk parade karangan bunga terpanjang. Rekor MURI akhirnya dikeluarkan setelah beberapa hari parade bunga papan ini terus mengalir ke Balai Kota Jakarta.

Secara sederhana, kelirumologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kekeliruan menyebutkan suatu kata atau kalimat yang sudah dianggap benar di tengah masyarakat. Karena gagasannya, tokoh dengan segudang julukan ini (antara lain: pianis, kartunis, seminaris, humorolog, jamulog, kelirumolog), Jaya Suprana dikenal sebagai Bapak Kelirumologi. Mungkin hidupnya penuh kekeliruan?


Secara berkala, Jaya Suprana juga menuliskan artikel-artikel tentang kelirumologi di majalah bulanan Indonesia Intisari, setiap artikel membahas sebuah istilah yang salah kaprah.

Namun sayangnya jenius ini tidak suka dengan apa yang menjadi kebijakan Ahok. Mungkin Jaya Suprana tersinggung dengan ucapan Ahok yang mengatakan bahwa Jaya Suprana memiliki otak kelas dua, usai ia menuliskan surat terbuka kepada Pak Ahok.

Ketidak sukaan satu dengan yang lain terus terjadi sampai-sampai tidak berujung. Namun sebagai seorang yang sama-sama berpendidikan, mereka menunjukkan cara-cara tidak suka yang cukup elegan. Dalam hal ini saya memiliki sedikit rasa hormat kepada Jaya Suprana. Hanya satu hal yang disayangkan, Jaya Suprana terlalu menikmati era-era lama di orde baru, sehingga terlihat sekali dukungannya kepada pasangan Anies Sandi.

MURI adalah sebuah museum rekor yang didirikan oleh Jaya Suprana, yang mencatat seluruh kegiatan-kegiatan yang unik, belum pernah terjadi sebelumnya, dan dianggap menarik. Pada awalnya saya menunggu bagaimana reaksi dari MURI mengenai karangan bunga dan parade bunga terpanjang yang dikirimkan kepada Pak Ahok dan Pak Djarot sebagai bentuk menyemangati mereka.

Satu hari, dua hari, tiga hari, tanggapan belum muncul. Entah apa yang dipikirkan Jaya Suprana sebagai pendiri MURI. Namun akhirnya kemarin per tanggal 1 Mei 2017, MURI mengeluarkan rekor parade bunga terpanjang di Indonesia, bahkan dunia. (sumber web MURIsumber Twitter)
Satu hari, dua hari, tiga hari, tanggapan belum muncul. Entah apa yang dipikirkan Jaya Suprana sebagai pendiri MURI. Namun akhirnya kemarin per tanggal 1 Mei 2017, MURI mengeluarkan rekor parade bunga terpanjang di Indonesia, bahkan dunia. Jaya Suprana akhirnya menyerah dan terpaksa tidak bisa mendiamkan apa yang sudah jelas-jelas di depan mata warga Indonesia.

Kecintaan rakyat kepada Ahok Djarot begitu tidak terbendung, bahkan pihak lawan pun, yakni Anies Sandi iri dengan pencapaian Pak Ahok dan Pak Djarot di Jakarta. Spesialisasi dari Ahok Djarot adalah kehebatan mereka di dalam memenangkan hati rakyat Jakarta, meskipun mereka kalah.

Jaya Suprana akhirnya menyerah dan terpaksa tidak bisa mendiamkan apa yang sudah jelas-jelas di depan mata warga Indonesia. Kecintaan rakyat kepada Ahok Djarot begitu tidak terbendung, bahkan pihak lawan pun, yakni Anies Sandi iri dengan pencapaian Pak Ahok dan Pak Djarot di Jakarta. Spesialisasi dari Ahok Djarot adalah kehebatan mereka di dalam memenangkan hati rakyat Jakarta, meskipun mereka kalah.



(Dokumentasi Lama, 2015 Ketika Penghargaan Jaya Suprana diberikan kepada Ahok)

Keberadaan Ahok sekarang ini tidak terbantahkan bahkan oleh para kelompok yang tidak menyukainya. Pak Ahok ini seperti pedang bermata dua, memilah dengan jelas hitam dan putih. Keberadaannya menjadi sebuah indikator jelas bagi Pak Dhe Jokowi untuk memetakan mana kawan, mana lawan. Memang orang-orang seperti Ahok ini rasanya sangat cocok untuk menempati posisi-posisi panas, seperti gubernur DKI Jakarta.

Semakin ia menunjukkan cara kerja yang benar, semakin banyak pula orang-orang yang tidak suka dengan dia. Bahkan orang yang katanya se-etnis dengannya pun, tidak menyukai dia, dengan alasan yang tidak terlalu jelas dan cenderung dibuat-buat, seperti Jaya Suprana.

Keliru kan yang Jaya Suprana pikirkan?

Betul kan yang saya katakan?

Berikut surat terbuka untuk Ahok dari Jaya Suprna yang dikirimkan kepada rakyat Jakarta, Rabu 25 Maret 2015… Selamat membacanya jika ingin…

Bapak Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang terhormat.

Saya sangat menghormati, menghargai, dan mengagumi semangat perjuangan Anda dalam membasmi korupsi dari persada Nusantara tercinta ini. Bagi saya, Anda memang layak tokoh pembasmi korupsi Indonesia yang paling konsekuen dan konsisten. Anda layak dielu-elukan sebagai jawara, pendekar, cowboy, bahkan superhero pembasmi korupsi seperti yang tampil di berbagai meme yang mengelu-elukan semangat perjuangan Ahok membasmi korupsi.

Sebagai sesama warga Indonesia keturunan Tionghoa dan umat Nasrani, saya juga sangat bangga atas semangat perjuangan Anda membasmi korupsi. Namun, akhir-akhir ini terasa bahwa lamat tetapi pasti timbul rasa kebencian masyarakat terhadap kata-kata dan kalimat-kalimat Anda yang dianggap tidak sopan dan tidak santun sehingga tidak layak saya tulis di surat permohonan terbuka di Sinar Harapan yang tersohor sopan dan santun dalam pemberitaan ini.

Bahkan, teman-teman saya yang cendekiawan, rohaniwan, akademikus bukan politikus yang semula mendukung Anda kini mulai meragukan dukungan mereka terhadap Anda. Apalagi mereka yang sejak semula tidak mendukung kini malah mulai membenci Anda. Saya tahu, Anda seorang pemberani, apalagi sudah disemangati oleh mereka yang muak korupsi, tetapi tidak mau atau tidak mampu turun tangan sendiri, pasti sama sekali tidak takut menghadapi dampak ucapan kata-kata Anda. Namun, saya yang pengecut ini yang takut dan saya yakin saya tidak sendirian dalam ketakutan.

Bukan rahasia lagi, bahkan fakta sejarah, bahwa telah berulang kali terjadi malapetaka huru-hara rasialis di persada Nusantara. Akibat memang beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka beberapa titik nila merusak susu sebelanga. Akibat beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka seluruh warga keturunan Tionghoa di Indonesia dipukul-rata untuk dianggap layak dibenci.

Cukup banyak warga keturunan Tionghoa jatuh sebagai korban nyawa termasuk ayah kandung dan beberapa sanak-keluarga saya sendiri di masa kemelut tragedi G-30-S. Nyawa saya pribadi memang selamat, namun sekolah saya dibakar dan ditutup hanya akibat digolongkan sebagai sekolah kaum keturunan Tionghoa, padahal saya pribadi tidak pernah setuju komunisme.

Ketika huru-hara rasialis 1980-an di Semarang, kantor saya dilempari batu. Mobil saya dibakar dan rumah saya nyaris dibumi-hanguskan para huruharawan apabila tidak diselamatkan oleh TNI, kepolisian, dan tetangga saya yang justru bukan keturunan Tionghoa.

Saya kira, Anda juga sadar bahwa kini memang tidak ada lagi penindasan terhadap kaum keturunan Tionghoa, namun jangan lupa bahwa suasana indah ini hanya bisa terjadi berkat perjuangan almarhum Gus Dur, yang dilanjutkan Megawati, SBY, dan kini Jokowi yang secara politis dan hukum melarang diskriminasi terhadap kaum keturunan China yang berdasar Keppres SBY 2014 disebut Tionghoa.

Pada kenyataan sebenarnya kebencian terhadap kaum Tionghoa di Indonesia belum lenyap. Kebencian masih hadir sebagai api dalam sekam yang setiap saat rawan membara, bahkan meledak menjadi huru-hara apabila ada alasan. Tidak kurang dari Imam Besar FPI, Habib Rizieq, menyatakan kepada saya pribadi bahwa beliau menghargai semangat Anda membasmi korupsi, namun yang tidak disukai pada diri Anda hanyalah kata-kata tidak sopan saja.

Bukan sesuatu yang mustahil bahwa kata-kata tidak sopan Anda menyulut sumbu kebencian sehingga meledak menjadi tragedi huru-hara yang tentu saja tidak ada yang mengharapkannya. Maka dengan penuh kerendahan hati, saya memberanikan diri untuk memohon Anda berkenan lebih menahan diri dalam mengucapkan kata-kata yang mungkin apalagi pasti menyinggung perasaan bangsa Indonesia.

Terima kasih dari seorang warga Indonesia yang tidak sepemberani Anda.

No comments:
Write komentar