Ini yang Membangun Chemistry Jokowi dan Raja Salman

 

Foto: Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah

Jakarta - Ada kesamaan karakter maupun perjalanan karir politik antara Presiden Joko Widodo dan Raja Salman bin Abdulaziz yang memulai kunjungan ke Indonesia hari ini, Rabu, 1-9 Maret. Keduanya antara lain sama-sama pernah menjadi wali kota dan gubernur, punya komitmen tinggi dalam pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, serta relatif rendah hati.

"Hal semacam itu saya percaya turut berperan membangun semacam chemistry dalam relasi antara Raja Salman dan Pak Jokowi," kata Peneliti Politik Timur Tengah di The Middle East Institute Zuhairi Misrawi saat berbincang dengan detik, pada Selasa 28 Februari 2017.

Sejumlah literatur mencatat, Salman pernah menjadi Perwakilan dan Wali Kota Riyadh pada 17 Maret 1954. Kala itu usia usianya baru 19 tahun. Selanjutnya Salman dipercaya menjadi Wakil Gubernur Riyadh, Maret 1954-April 1955, dan menjadi Gubernur pada April 1955–Desember 1960, serta Februari 1963 hingga 5 November 2011.

Salah satu komitmen dan prestasi Salman selama menjadi gubernur, selain membangun Riyadh menjadi kota metropolitan juga gencar memerangi korupsi. Di luar istana kerajaan, Salman dikenal tak terlalu ketat dan kaku dalam hal protokoler. Saat menunaikan tawaf di Masjidil Haram, misalnya, Raja Salman merespons dengan ramah setiap jemaah yang menyapa dan menyalaminya.

"Nah, pembawaan yang rendah hati dan egaliter seperti ini kan juga diperlihatkan Jokowi selama ini," kata Zuhairi.

Atas dasar berbagai kesamaan itulah dia menduga Raja Salman memberikan sambutan hangat dan penghormatan yang luar biasa saat Jokowi berkunjung ke Saudi pada pertengahan September 2015. Lalu Raja Salman melakukan kunjungan balasan dalam tempo yang jaraknya cuma terpaut sekitar satu setengah tahun. Waktu kunjungan yang cukup lama, lebih dari sepekan, serta membawa anggota rombongan yang juga fantastis.

"Meski begitu, tentu saja ada peran latar historis masa lalu dan kerja keras para diplomat di bawah kendali Menlu Retno Marsudi di dalamnya," ujar penulis buku 'Mekkah' dan 'Al-Azhar' itu menutup perbincangan.


Beda Kunjungan Raja Faisal dan Raja Salman ke Indonesia


Setelah Raja Faisal Ibn Abdul Aziz As Saud pada 47 tahun silam, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud berkunjung ke Indonesia hari ini. Penyambutan dan kunjungan dua raja itu dirasa berbeda.

"Memang (penyambutan) agak berbeda dalam tampilan," kata Direktur Pusat Kajian Timur Tengah UI Abdul Mutaali saat dihubungi detikcom, Rabu (1/3/2017).

Mutaali mengisahkan, Raja Faisal berkunjung ke Indonesia hanya 4 hari kurun 10-13 Juni 1970. Kunjungan Raja Faisal itu tanpa liburan serta dengan jumlah rombongan yang tidak terlalu besar.

"Berbeda dengan Raja Salman, jumlah rombongan yang spektacular, 9 Hari, sambil liburan di Bali," ujarnya.

Namun terlepas dari itu, Mutaali berharap besarnya rombongan kunjungan Raja Salman menandakan besarnya investasi di Indonesia nantinya.

"Tapi Baik lah, semoga besarnya rombongan yang dibawa menunjukkan besarnya investasi yang akan terealisasi. Semoga," tuturnya.

Raja Salman akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017. Pemimpin Arab Saudi tersebut membawa rombongan dengan jumlah yang cukup besar, yakni kurang-lebih 1.500 orang, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran.

Raja Faisal berkunjung ke Indonesia pada Rabu (10/6/1970). Kedatangan Raja Faisal disambut oleh Presiden Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto di Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat.

DPR menyiapkan sambutan istimewa untuk Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud yang akan berkunjung ke Indonesia pada 1 Maret 2017 mendatang. Rencananya, Raja Salman akan diajak menonton video kunjungan pendahulunya ke Indonesia 47 tahun lalu.

"Kalau DPR, yang jelas kita akan putar film yang 47 tahun yang lalu. Itu adalah Raja dari Saudi Arabia yang telah kemari," kata Ketua DPR Setya Novanto di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (25/2).

Menurut Novanto, video tersebut menggambarkan hangatnya hubungan Indonesia dan Arab Saudi sejak hampir lima dekade lalu. Novanto pun mengaku baru tahu adanya video tersebut dari Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Osama Mohammed Al-Shuibi.

"Kita akan putar (video kunjungan raja Arab Saudi ke Indonesia 47 tahun silam, red). Ini adalah merupakan suatu sejarah yang belum pernah kita lihat. Saya pun baru melihat setelah dikirim Dubes Saudi Arabia, bahwa ada dokumenter film yang sejarah, yang perlu kita lihat bersama," jelas Novanto.
(idh/ams. detik)

No comments:
Write komentar